Tadabbur Qs. Ali ‘Imran Ayat 133–134: Tiga Skill Utama Orang Bertakwa


PELITA MAJALENGKA
- ADA sebuah fenomena yang semakin terasa dalam kehidupan kita hari ini. Manusia semakin mudah terhubung, tetapi belum tentu semakin peduli; semakin banyak memiliki teman di media sosial, tetapi semakin sedikit yang benar-benar hadir ketika kita membutuhkan. Banyak orang akhirnya hidup dengan satu kata yang semakin dominan: aku.” Aku ingin dihargai, aku ingin menang, aku tidak mau rugi, aku tidak mau disalahkan, dan aku tidak mau memaafkan.

Di tengah budaya individualisme seperti itu, Al-Qur’an menghadirkan konsep takwa yang sangat indah. Takwa bukan hanya persoalan seberapa banyak seseorang melakukan ritual ibadah, tetapi juga bagaimana ibadah itu membentuk karakter dan perilakunya. Allah bahkan memberikan gambaran yang sangat konkret tentang orang bertakwa dalam QS Ali ‘Imran ayat 133–134. Tiga di antaranya sangat kuat: mau memberi, mampu menahan amarah, dan mampu memaafkan.

Allah berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ ۝١٣٣

الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ۝١٣٤

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali ‘Imran: 133–134).

Kalau direnungkan, tiga karakter tersebut menyentuh tiga wilayah paling sensitif dalam kehidupan manusia. Memberi berkaitan dengan harta, menahan amarah berkaitan dengan ego, sedangkan memaafkan berkaitan dengan luka. Ketiganya adalah ujian yang hampir pasti akan kita temui sepanjang hidup. Karena itu, ayat ini bukan hanya berbicara tentang teori takwa, tetapi memberikan semacam “peta latihan jiwa” bagi manusia.

Skill Pertama: Ringan Tangan Untuk Memberi

Allah menyebutkan pertama kali: الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ, yaitu orang-orang yang berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit. Perhatikan, Allah tidak hanya menyebut keadaan lapang, tetapi juga keadaan sempit. Ini menunjukkan bahwa ukuran kemurahan hati bukan semata-mata banyaknya harta, tetapi kelapangan jiwa untuk berbagi.

Ada orang yang memiliki banyak, tetapi sangat sulit memberi. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana tetapi ketika melihat orang lain kesulitan, ia masih mampu berbagi apa yang dimilikinya. Dalam QS Al-Hasyr ayat 9, Allah memuji kaum Anshar yang mengutamakan orang lain meskipun mereka sendiri membutuhkan. Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut menggambarkan kemuliaan, kemurahan hati, dan sikap itsar, yaitu mendahulukan orang lain atas diri sendiri.

Fenomena ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Banyak manusia hidup dengan pertanyaan, “Apa yang saya dapat?”, bukan “Apa yang bisa saya berikan?” Kita takut kehilangan uang, kehilangan kenyamanan, kehilangan waktu, bahkan kehilangan kesempatan untuk menikmati sesuatu sendirian. Padahal semakin kuat seseorang menggenggam semuanya untuk dirinya sendiri, semakin sulit hatinya merasakan kebahagiaan berbagi.

Penelitian psikologi sosial tentang perilaku prososial menunjukkan bahwa membantu dan memberi kepada orang lain dapat berkaitan dengan kesejahteraan psikologis. Memang efeknya tidak selalu sama pada setiap orang dan sangat dipengaruhi oleh konteks, motivasi, dan kondisi psikologis seseorang. Tetapi Islam mengajarkan motivasi yang lebih tinggi: kita memberi bukan semata-mata agar bahagia, tetapi karena Allah memerintahkan kita untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Karena itu, jangan menunggu kaya untuk belajar memberi. Kalau punya uang, berikan uang; kalau punya ilmu, berikan ilmu; kalau punya tenaga, berikan tenaga; kalau punya waktu, berikan waktu. Bahkan mendengarkan orang yang sedang kesepian, membantu pekerjaan orang lain, atau memberikan senyum yang tulus juga merupakan bentuk kebaikan. Orang bertakwa tidak bertanya terus-menerus, “Apa yang akan saya dapat?” tetapi belajar bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?”

Skill Kedua: Mampu Menundukkan Amarah

Setelah berbicara tentang harta, Allah berpindah kepada sesuatu yang lebih dalam: ego. Allah berfirman, وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ, yaitu orang-orang yang menahan amarah. Allah tidak mengatakan bahwa orang bertakwa tidak pernah marah, karena marah adalah bagian dari sifat manusia. Yang menjadi ukuran adalah kemampuan mengendalikan diri ketika marah.

Rasulullah bersabda, “Orang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim. Dunia sering mengajarkan bahwa kekuatan berarti mampu mengalahkan orang lain, sedangkan Nabi mengajarkan bahwa kekuatan sejati justru terlihat ketika seseorang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Menundukkan ego jauh lebih sulit daripada menundukkan lawan.

Berapa banyak masalah keluarga yang sebenarnya bisa selesai kalau salah satu pihak mau menahan ego? Berapa banyak persahabatan yang rusak hanya karena masing-masing ingin menjadi orang terakhir yang berbicara? Kadang yang sedang kita pertahankan bukan lagi kebenaran, tetapi harga diri. Dan ketika ego mengambil alih, masalah kecil bisa berubah menjadi permusuhan bertahun-tahun.

Penelitian psikologi modern mengenai regulasi emosi menunjukkan bahwa cara seseorang merespons dan memaknai sebuah peristiwa sangat berpengaruh terhadap intensitas emosinya. Meta-analisis tentang kemarahan menemukan bahwa rumination, yaitu kebiasaan terus-menerus memikirkan dan mengulang kejadian yang membuat marah, berkaitan dengan meningkatnya kemarahan. Karena itu, ketika kita terus berkata, “Dia melakukan ini kepada saya, dia menghina saya, dia merendahkan saya,” kita sebenarnya bisa sedang memberi bahan bakar baru kepada kemarahan sendiri.

Di sinilah puasa menjadi latihan yang sangat dalam. Kita lapar tetapi tidak makan, haus tetapi tidak minum, ingin tetapi belajar menahan karena Allah. Seharusnya latihan tersebut tidak berhenti pada makanan dan minuman, tetapi juga masuk ke wilayah lisan, emosi, dan ego. Kita ingin membalas, tetapi menahan; ingin berkata kasar, tetapi diam; ingin menang sendiri, tetapi belajar mengalah. Itulah salah satu bentuk nyata pendidikan takwa.

Skill Ketiga: Mampu Memaafkan Ketika Hati Terluka

Setelah menyebut kemampuan menahan amarah, Allah menyebut tingkat berikutnya: وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ, yaitu orang-orang yang memaafkan kesalahan manusia. Ini bukan perkara mudah karena memaafkan menyentuh wilayah terdalam manusia: luka dan harga diri. Seseorang bisa saja berkata, “Saya tidak akan pernah melupakan apa yang dia lakukan kepada saya.” Tetapi Al-Qur’an mengajarkan bahwa mengingat tidak selalu berarti harus terus membenci.

Memaafkan bukan menghapus memori, tetapi mengubah hubungan kita dengan memori tersebut. Kita mungkin masih ingat apa yang terjadi, tetapi kita tidak lagi membiarkan kejadian itu mengendalikan emosi dan kehidupan kita. Dulu ketika mengingatnya kita marah, sekarang kita masih ingat tetapi sudah mampu berkata, “Itu pernah terjadi, tetapi saya tidak mau hidup saya terus dikendalikan oleh peristiwa itu.” Inilah salah satu bentuk kematangan jiwa.

Penelitian tentang forgiveness menunjukkan adanya hubungan antara kemampuan memaafkan dan kesejahteraan psikologis. Meta-analisis terhadap puluhan ribu peserta menemukan bahwa forgiveness berkaitan dengan kepuasan hidup dan emosi positif yang lebih tinggi serta lebih rendahnya emosi negatif. Penelitian lain menunjukkan bahwa kebiasaan rumination terhadap kejadian yang menyakitkan dapat menghambat proses memaafkan, salah satunya melalui kemarahan yang terus dipelihara.

Islam bahkan memberikan contoh luar biasa melalui Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ketika Mistah, orang yang selama ini dibantu Abu Bakr, ikut terseret dalam penyebaran berita dusta tentang ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Abu Bakr bersumpah tidak akan lagi membantunya. Kemudian turun QS An-Nur ayat 22: “Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu suka bahwa Allah mengampunimu?” Abu Bakr kemudian memilih memaafkan dan kembali memberikan bantuan kepadanya.

Perhatikan kedalaman jiwa Abu Bakr. Ia bukan tidak terluka, tetapi ia tidak membiarkan luka mengubahnya menjadi orang yang kehilangan kebaikan. Inilah pelajaran penting untuk kita: memaafkan tidak berarti membenarkan kesalahan, dan tidak berarti membiarkan seseorang terus menyakiti kita. Kita boleh membuat batas, menjaga jarak, dan mengambil pelajaran, tetapi kita tidak harus membawa kebencian itu sepanjang hidup.

Tiga Skill Ini Sebenarnya Adalah Latihan Melepaskan

Kalau kita perhatikan susunan ayatnya, ada sebuah hubungan yang sangat indah. Allah menyebut memberi, menahan amarah, kemudian memaafkan. Ketiganya sebenarnya adalah latihan untuk melepaskan sesuatu yang ingin kita genggam. Kita belajar melepaskan harta, melepaskan ego, dan akhirnya melepaskan luka.

Orang yang terlalu melekat pada hartanya sulit memberi. Orang yang terlalu melekat pada egonya sulit menahan amarah. Orang yang terlalu melekat pada lukanya sulit memaafkan. Maka perjalanan takwa bisa kita pahami sebagai proses mengurangi dominasi “aku” dalam diri kita. Semakin kuat seseorang hanya memikirkan dirinya, semakin sulit ia menjadi pribadi yang lapang.

Inilah tantangan manusia di zaman sekarang. Kita hidup dalam budaya yang sangat mudah membesarkan ego: “Saya harus menang, saya harus dihargai, saya tidak boleh disalahkan, saya tidak boleh rugi.” Media sosial bahkan sering membuat manusia terbiasa membandingkan hidup, mengejar pengakuan, dan mempertahankan citra diri. Di tengah budaya seperti ini, Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang berlawanan: berbagilah, kendalikan dirimu, dan maafkanlah.

Puncaknya: Menjadi Muhsin yang Dicintai Allah

Menariknya, Allah menutup ayat ini dengan firman-Nya: وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ, “Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Jadi tujuan akhirnya bukan hanya menjadi orang yang tidak pelit, bukan hanya menjadi orang yang mampu menahan marah, dan bukan hanya menjadi orang yang bisa memaafkan. Semua itu diarahkan untuk membentuk manusia muhsin, yaitu manusia yang kehadirannya membawa kebaikan.

Coba tanyakan kepada diri kita sendiri: apakah tangan kita semakin ringan untuk memberi? Apakah kita semakin mampu menahan ucapan ketika marah? Apakah kita masih menyimpan dendam kepada seseorang yang sudah bertahun-tahun berlalu? Dan yang paling penting, apakah orang-orang di sekitar kita merasakan bahwa kehidupan mereka menjadi lebih baik karena kehadiran kita?

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengukur kesalehan dari apa yang terlihat di depan manusia. Kita menghitung berapa kali kita hadir di majelis, berapa banyak halaman Al-Qur’an yang kita baca, atau berapa banyak amal yang kita lakukan. Semua itu penting, tetapi Al-Qur’an mengingatkan bahwa ibadah seharusnya melahirkan karakter yang membuat manusia lain merasakan kebaikan kita.

Maka QS Ali ‘Imran ayat 133–134 seakan-akan sedang bertanya kepada kita: ketika harta berada di tanganmu, apakah engkau mau berbagi? Ketika egomu tersinggung, apakah engkau mampu menahan diri? Ketika hatimu terluka, apakah engkau mampu memaafkan? Tiga pertanyaan ini sederhana, tetapi jawabannya bisa menjadi cermin yang sangat jujur tentang kualitas takwa kita.

Sebab orang bertakwa bukan manusia yang tidak pernah marah, tidak pernah terluka, atau tidak pernah memiliki kepentingan pribadi. Orang bertakwa adalah manusia yang ketika diuji dengan harta, ia memilih memberi; ketika diuji dengan amarah, ia memilih menahan diri; dan ketika diuji dengan luka, ia memilih memaafkan.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dengan kata “aku”, jadilah manusia yang belajar mengatakan “kita.” Ketika orang lain sibuk bertanya, “Apa yang saya dapat?”, tanyakan, “Apa yang bisa saya berikan?” Ketika orang lain sibuk membalas luka, pilihlah untuk menyembuhkan. Dan ketika orang lain sibuk memenangkan ego, pilihlah menjadi manusia yang Allah cintai.

Tangan yang ringan memberi. Diri yang kuat menahan amarah. Hati yang lapang memaafkan. Dan kehidupan yang menghadirkan ihsan. Itulah tiga skill utama orang bertakwa.[BA]

 

Posting Komentar untuk "Tadabbur Qs. Ali ‘Imran Ayat 133–134: Tiga Skill Utama Orang Bertakwa"