PELITA MAJALENGKA - Ada cinta yang tumbuh diam-diam, tidak diumumkan kepada siapa-siapa, tetapi memenuhi hampir seluruh ruang dalam hati. Bermula dari sebuah sapaan sederhana di WhatsApp, berlanjut dengan obrolan setiap malam, saling bertanya sudah makan atau belum, saling mengirim perhatian, kemudian perlahan muncul kata-kata “sayang”, “rindu”, dan “aku tidak bisa hidup tanpamu”. Tidak ada yang merasa sedang melakukan sesuatu yang berbahaya. Semuanya terasa indah, menyenangkan, bahkan dianggap sebagai bagian dari masa muda.
Namun sering kali manusia lupa
bahwa sesuatu yang dimulai dengan perasaan yang indah belum tentu berakhir
dengan kebahagiaan. Ada hubungan yang awalnya hanya ingin mencari teman berbagi
cerita, tetapi akhirnya berubah menjadi keterikatan emosional, kemudian membuka
pintu kepada pelanggaran demi pelanggaran yang semakin sulit dihentikan. Inilah
yang harus direnungkan oleh generasi muda hari ini: tidak semua yang membuat hati bahagia akan membawa
kita kepada kebaikan.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu
perbuatan keji dan jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra': 32).
Perhatikan bagaimana Allah tidak hanya mengatakan, “Jangan berzina”, tetapi
menggunakan kalimat “jangan mendekati
zina.” Ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya melarang
perbuatan akhirnya, tetapi juga menutup jalan-jalan yang dapat menyeret manusia
menuju ke sana. Sebab manusia jarang jatuh ke dalam dosa besar secara
tiba-tiba.
Sering kali semuanya dimulai dari
sesuatu yang dianggap kecil: pandangan yang tidak dijaga, percakapan yang
terlalu intim, chat hingga larut malam, pertemuan berdua, sentuhan yang awalnya
dianggap biasa, kemudian batas-batas yang semakin lama semakin hilang. Ketika
hati sudah dikuasai rasa cinta dan nafsu, sesuatu yang dahulu dianggap dosa
bisa berubah menjadi sesuatu yang dibela dengan kalimat, “Kami saling
mencintai.” Padahal cinta tidak pernah menjadi alasan untuk menghalalkan apa
yang Allah haramkan.
Hari ini kita hidup di zaman
ketika hubungan antara laki-laki dan perempuan menjadi jauh lebih mudah
dibandingkan generasi sebelumnya. Smartphone berada di tangan hampir setiap
remaja dan mahasiswa. Tidak perlu keluar rumah untuk membangun kedekatan. Tidak
perlu menunggu bertemu di sekolah atau kampus. Cukup dengan sebuah pesan,
seseorang dapat hadir dalam kehidupan kita selama dua puluh empat jam. “Sudah
makan?” “Sedang apa?” “Kangen.” “Boleh video call?”
Kalimat-kalimat sederhana
tersebut dapat membangun kedekatan emosional yang sangat kuat. Masalahnya,
kedekatan yang semakin dalam tidak selalu diikuti dengan kedewasaan, tanggung
jawab, kesiapan menikah, dan kemampuan mengendalikan diri. Akibatnya, sebuah
hubungan yang awalnya dianggap permainan masa muda dapat berkembang menjadi
persoalan yang jauh lebih serius.
Kita tidak boleh menutup mata
terhadap berbagai risiko yang menyertai hubungan romantis pada usia remaja. WHO
mencatat bahwa kehamilan pada remaja memiliki konsekuensi kesehatan yang
serius. Ibu berusia 10–19 tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami beberapa
komplikasi kehamilan dan persalinan dibandingkan perempuan usia 20–24 tahun.
Bayi yang lahir dari ibu remaja juga menghadapi risiko lebih tinggi mengalami
berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan komplikasi neonatal tertentu.
Di balik angka-angka tersebut
terdapat manusia nyata: seorang anak perempuan yang mungkin harus menghadapi
kehamilan sebelum siap secara fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi; seorang
pemuda yang tiba-tiba harus menghadapi tanggung jawab besar sebelum
menyelesaikan pendidikan; orang tua yang menangis karena tidak tahu harus
menyelamatkan masa depan anaknya dengan cara apa; dan seorang bayi yang lahir
ke dunia ketika kedua orang tuanya mungkin belum memiliki kesiapan untuk
membangun keluarga. Karena itu, persoalan ini tidak boleh hanya dilihat sebagai
cerita cinta dua orang remaja. Dampaknya dapat menjalar kepada keluarga,
pendidikan, kesehatan, ekonomi, bahkan masa depan generasi berikutnya.
UNICEF juga menunjukkan bahwa
perkawinan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Berdasarkan data
yang mereka publikasikan, sekitar 16 persen perempuan Indonesia usia 20–24
tahun pernah menikah atau berada dalam suatu hubungan perkawinan sebelum usia
18 tahun. UNICEF Indonesia juga pernah mencatat berdasarkan SUSENAS 2018
terdapat sekitar 1,2 juta kasus perkawinan anak di Indonesia. Tentu kita tidak
boleh menyederhanakan bahwa seluruh perkawinan anak disebabkan oleh pacaran.
Ada banyak faktor yang saling berkaitan, seperti kemiskinan, pendidikan,
budaya, tekanan keluarga, kehamilan, dan kondisi sosial lainnya.
Namun data tersebut
memperlihatkan bahwa ketika masa remaja tidak mendapatkan perlindungan,
pendidikan, pendampingan, dan pembinaan agama yang memadai, keputusan yang
berkaitan dengan hubungan dan cinta dapat memiliki konsekuensi yang panjang.
UNICEF juga menjelaskan bahwa perkawinan anak berkaitan dengan berbagai dampak,
antara lain risiko kehamilan dini, terhentinya pendidikan, terbatasnya
kesempatan ekonomi, isolasi sosial, dan meningkatnya kerentanan terhadap
kekerasan.
Wahai para pelajar dan mahasiswa,
jangan merasa bahwa pacaran adalah syarat untuk membuktikan bahwa kalian sudah
dewasa. Justru kedewasaan terlihat ketika seseorang mampu mengendalikan
dirinya. Tidak semua teman yang memiliki pacar hidupnya lebih bahagia daripada
kalian. Tidak semua orang yang mengunggah foto berdua di media sosial sedang
menikmati hubungan yang sehat. Kita sering hanya melihat foto bahagianya,
tetapi tidak pernah melihat tangisan di balik layar. Kita melihat unggahan
“couple goals”, tetapi tidak mengetahui berapa banyak pertengkaran,
kecemburuan, tekanan, manipulasi, dan luka yang terjadi di baliknya.
Ada mahasiswa yang konsentrasinya
terganggu karena persoalan hubungan. Ada pelajar yang prestasinya menurun
karena waktunya habis untuk chatting. Ada anak muda yang mulai meninggalkan
ibadah karena terlalu sibuk dengan pasangan. Ada yang ketika hubungan berakhir
kemudian kehilangan semangat hidup, merasa dirinya tidak berharga, bahkan
mengalami tekanan psikologis yang berat. Karena itu, jangan ukur keberhasilan
sebuah hubungan hanya dari seberapa lama kalian bersama. Ukurlah dari seberapa
besar hubungan itu membuat kalian menjadi manusia yang lebih baik, lebih
bertanggung jawab, dan lebih dekat kepada Allah.
Yang lebih menyedihkan adalah
ketika seseorang rela mengorbankan masa depannya hanya demi mempertahankan
seseorang yang sebenarnya belum tentu menjadi jodohnya. Seorang mahasiswa yang
seharusnya sedang membangun ilmu dan karier justru menghabiskan waktunya
mengejar perhatian seseorang. Seorang pelajar yang seharusnya mempersiapkan
masa depan malah setiap malam menunggu pesan dari pacarnya.
Mereka takut kehilangan
seseorang, padahal belum tentu orang tersebut ditakdirkan untuk menjadi
pasangan hidupnya. Mereka takut putus, tetapi tidak takut kehilangan kedekatan
dengan Allah. Mereka takut ditinggalkan manusia, tetapi tidak takut ketika
shalat mulai ditinggalkan. Padahal manusia yang hari ini berjanji tidak akan
pernah meninggalkan kita bisa saja besok berubah. Tetapi Allah tidak pernah
berubah. Allah tetap membuka pintu taubat selama kita masih hidup.
Karena itu, wahai anak muda,
jangan malu jika sampai hari ini kamu belum pernah pacaran. Jangan merasa
rendah hanya karena teman-temanmu memiliki pasangan sementara kamu tidak.
Jangan menganggap bahwa menjadi jomblo adalah kegagalan. Kamu tidak gagal hanya
karena belum mempunyai pacar. Kamu sedang memiliki kesempatan untuk membangun
dirimu tanpa harus terikat pada hubungan yang belum jelas arahnya.
Gunakan masa mudamu untuk
menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, membangun keterampilan, membantu orang tua,
memperbanyak ibadah, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan.
Ketika suatu hari Allah mempertemukanmu dengan seseorang yang tepat, kamu tidak
datang kepadanya hanya dengan modal perasaan, tetapi dengan kesiapan menjadi
suami atau istri yang bertanggung jawab.
Dan wahai para orang tua, jangan
hanya bertanya kepada anak, “Sudah makan?” Jangan hanya bertanya tentang nilai
sekolah atau nilai kuliah. Tanyakan juga bagaimana pergaulannya, siapa
teman-temannya, apa yang sedang memenuhi pikirannya, dan apakah ada seseorang
yang sedang dekat dengannya. Tetapi lakukan dengan kasih sayang, bukan dengan
interogasi. Anak yang merasa rumahnya sebagai tempat paling aman untuk
bercerita akan lebih mudah terbuka kepada orang tua.
Sebaliknya, ketika rumah terasa
seperti tempat penghakiman, anak akan mencari tempat lain untuk mencurahkan
perasaannya. Bisa jadi tempat itu adalah seorang teman, bisa jadi seseorang
yang ia kenal melalui media sosial, dan belum tentu orang tersebut memiliki
niat baik. Karena itu, pendidikan tentang cinta, pergaulan, kehormatan diri,
dan batas-batas syariat tidak boleh diberikan ketika anak sudah terlanjur
terjerumus. Pendidikan itu harus dimulai sebelum mereka mengenal cinta.
Islam tidak datang untuk memusuhi
cinta. Islam justru datang untuk memuliakan cinta. Islam tidak mematikan
perasaan manusia, karena cinta adalah bagian dari fitrah. Yang dilakukan Islam
adalah memberikan arah agar cinta tidak berubah menjadi kehancuran. Cinta tidak
harus dibuang, tetapi harus dijaga. Cinta tidak harus disembunyikan dalam
hubungan tanpa kepastian, tetapi diarahkan menuju jalan yang halal. Jika
seseorang benar-benar mencintaimu, ia seharusnya tidak mengajakmu melakukan
sesuatu yang membuatmu jauh dari Allah. Ia tidak seharusnya berkata, “Kalau
kamu benar-benar mencintaiku, buktikan.” Sebab cinta yang sehat tidak
membutuhkan pembuktian melalui maksiat. Cinta yang serius justru mampu menahan
diri dan mengatakan, “Kalau memang kita serius, mari kita jaga hubungan ini
sampai waktunya tiba dan tempuh jalan yang Allah ridai.”
Mungkin keputusan untuk berhenti
pacaran terasa berat pada awalnya. Kamu mungkin kehilangan seseorang yang
selama ini menjadi tempat bercerita. Kamu mungkin harus menahan rindu,
menghapus chat, berhenti melakukan video call, dan membiasakan diri melewati
hari tanpa seseorang yang dahulu selalu hadir.
Tetapi percayalah, kehilangan
seseorang karena ingin menjaga hubungan dengan Allah bukanlah kerugian. Bisa
jadi yang kamu anggap sebagai kehilangan sebenarnya adalah cara Allah
menyelamatkanmu. Bisa jadi Allah sedang membersihkan jalanmu agar suatu hari
kamu bertemu dengan seseorang dalam keadaan yang lebih baik. Jangan takut
kehilangan manusia ketika kamu sedang berusaha mendapatkan ridha Allah.
Pada akhirnya, persoalan cinta
bukanlah apakah kita boleh memiliki perasaan atau tidak. Persoalannya adalah siapa yang mengendalikan perasaan itu: kita atau
perasaan kita sendiri? Seorang pemuda yang dewasa bukanlah
pemuda yang tidak pernah jatuh cinta, tetapi pemuda yang mampu mengendalikan
cintanya.
Seorang perempuan yang kuat
bukanlah perempuan yang tidak membutuhkan kasih sayang, tetapi perempuan yang
tahu bahwa harga dirinya tidak boleh ditukar dengan perhatian seorang
laki-laki. Dan orang tua yang berhasil bukan hanya orang tua yang mampu
menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi, tetapi juga orang tua yang mampu
membekali anaknya dengan iman, akhlak, dan kemampuan menjaga diri ketika
berhadapan dengan godaan zaman.
Maka, wahai Gen Z, sebelum
mengatakan “Aku mencintaimu”, tanyakan terlebih dahulu kepada hatimu: apakah hubungan ini membuatku semakin dekat kepada
Allah atau justru semakin jauh dari-Nya? Sebelum menerima
seseorang menjadi pasangan, tanyakan apakah ia akan membantumu menjadi lebih
baik atau justru menyeretmu kepada keburukan. Sebelum membuka pintu sebuah
hubungan, pikirkan ke mana pintu itu akan membawamu.
Jangan sampai sesuatu yang
dimulai dengan “cuma chat” berakhir dengan penyesalan bertahun-tahun. Jangan
sampai beberapa menit kenikmatan menghancurkan pendidikan, kehormatan, hubungan
keluarga, dan masa depan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Jangan
sampai kita suatu hari hanya mampu menangis sambil berkata, “Seandainya waktu
bisa kembali.”
Waktu tidak pernah kembali. Masa
muda tidak pernah kembali. Kesempatan tidak selalu datang dua kali. Karena itu,
jagalah hatimu sebelum hati itu terlalu jauh. Jagalah pandanganmu sebelum
pandangan berubah menjadi keinginan. Jagalah pergaulanmu sebelum kedekatan
berubah menjadi dosa. Dan jagalah cintamu sebelum cinta itu berubah menjadi
penyesalan. Sebab mungkin tidak ada seorang pun yang mengetahui hubungan yang
kamu sembunyikan dari manusia, tetapi Allah mengetahui setiap pesan yang kamu
kirimkan, setiap pertemuan yang kamu lakukan, setiap pandangan yang kamu
sembunyikan, dan setiap perasaan yang bersemayam di dalam hatimu.
Cinta
yang benar tidak akan membuatmu malu di hadapan Allah. Cinta yang benar tidak
akan memintamu mengorbankan kehormatan demi pembuktian. Cinta yang benar akan
mengajakmu menunggu, memperbaiki diri, dan menempuh jalan yang halal.
Maka jangan buru-buru mencari
pasangan. Carilah terlebih dahulu kualitas diri. Perbaiki shalatmu, kuatkan
imanmu, kejar ilmumu, bangun masa depanmu, bahagiakan orang tuamu, dan
persiapkan dirimu menjadi pribadi yang layak mendapatkan pasangan yang baik.
Sebab jodoh bukan sekadar tentang menemukan orang yang kita cintai, tetapi juga
tentang menjadi orang yang pantas dicintai dalam ikatan yang Allah ridai.
Jangan
biarkan cinta diam-diam berubah menjadi dosa diam-diam. Jagalah cinta sebelum
cinta itu menghancurkanmu. Dan jika engkau benar-benar mencintai seseorang,
jangan menjadi sebab dia jauh dari Allah. Jadilah sebab dia semakin dekat
kepada-Nya.[BA]

Posting Komentar untuk "Cinta Diam-Diam, Dosa Diam-Diam"