Kaderisasi By Design, Bukan By Accident


PELITA MAJALENGKA -
Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: ketika kita sudah tidak ada, siapa yang akan meneruskan amanah Al-Jama'ah? Siapa yang akan melanjutkan dakwah, mengajarkan ilmu, membina generasi, menjaga ukhuwah, menghidupkan majelis, dan meneruskan perjuangan yang hari ini kita jalani? Pertanyaan ini terasa sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Sebab kita semua akan pergi. Yang muda akan menjadi tua, yang kuat akan menjadi lemah, dan suatu hari setiap kita akan kembali kepada Allah.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali 'Imran: 185).

Maka persoalannya bukan apakah kita akan pergi, tetapi apa yang akan tetap berjalan setelah kita pergi.

Sering kali kita terlalu sibuk mengerjakan amanah hari ini sampai lupa menyiapkan orang yang akan mengerjakannya besok. Kita sibuk berdakwah, mengajar, membina, mengurus kegiatan, dan melayani umat, tetapi jarang bertanya, “Siapa yang sedang saya siapkan untuk meneruskan semua ini?” Kita seolah berharap kader akan muncul dengan sendirinya ketika dibutuhkan. Padahal generasi yang kuat tidak lahir secara kebetulan. Mereka dibentuk oleh tarbiyah, keteladanan, ilmu, pengalaman, amanah, dan kasih sayang. Karena itu kaderisasi tidak boleh by accident. Ia harus by design—dirancang sejak awal, dipikirkan dengan serius, dan dilakukan terus-menerus.

Rasulullah telah memberikan contoh yang sangat jelas. Beliau tidak hanya mengajak manusia masuk Islam, tetapi membina mereka menjadi manusia yang mampu membawa Islam. Para sahabat dididik dengan Al-Qur'an, iman, akhlak, kesabaran, keberanian, dan pengorbanan. Lihatlah Mus'ab bin 'Umair radhiyallahu 'anhu. Seorang pemuda yang kemudian dipercaya Rasulullah membawa dakwah ke Madinah dan mengajarkan Al-Qur'an kepada masyarakat di sana. Ia bukan sekadar orang yang menerima dakwah. Ia menjadi orang yang meneruskan dakwah. Inilah ruh kaderisasi: orang yang hari ini dibina, besok membina; orang yang hari ini belajar, besok mengajarkan; orang yang hari ini menerima amanah, suatu hari mampu meneruskan amanah.

Rasulullah bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Perhatikan mata rantainya: belajar lalu mengajarkan. Kebaikan tidak berhenti pada diri sendiri. Ilmu harus diwariskan. Pengalaman harus diturunkan. Nilai harus ditanamkan. Karena itu, seorang pembina jangan hanya bertanya, “Berapa banyak orang yang sudah saya bina?” Tetapi tanyakan juga, “Berapa banyak dari mereka yang kelak mampu membina orang lain?” Sebab jika ilmu kita berhenti pada diri kita, maka ketika kita pergi, ilmu itu ikut terkubur bersama kita.

Jangan sampai kita baru mencari penerus ketika tenaga kita sudah habis. Jangan menunggu seorang pembina tua lalu sibuk mencari pengganti. Jangan menunggu seorang guru pergi lalu bertanya siapa yang akan mengajar. Jangan menunggu seorang dai tidak lagi mampu berdakwah lalu panik mencari penerus. Kader harus dipersiapkan sebelum dibutuhkan. Anak muda yang hari ini masih duduk di majelis harus kita lihat sebagai calon pembina. Santri yang hari ini sedang belajar harus kita lihat sebagai calon guru. Pemuda yang hari ini membantu kegiatan harus kita lihat sebagai calon pengemban amanah. Kita tidak boleh hanya melihat siapa mereka hari ini. Kita harus melihat siapa yang mungkin Allah jadikan mereka sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang.

Kadang kita mengatakan, “Tidak ada kader.” Padahal mungkin kadernya ada, hanya belum kita dekati. Potensinya ada, tetapi belum kita petakan. Semangatnya ada, tetapi belum diberi ruang. Kita ingin anak muda bertanggung jawab, tetapi tidak pernah memberikan tanggung jawab. Kita ingin mereka mampu memimpin, tetapi tidak pernah memberi mereka kesempatan memimpin. Kita ingin mereka matang, tetapi takut melihat mereka melakukan kesalahan. Padahal kaderisasi adalah proses. Mereka tidak harus langsung sempurna. Mereka harus diberi kesempatan untuk belajar, salah, memperbaiki diri, dan tumbuh. Tugas kita bukan mencari manusia yang sudah jadi, tetapi membantu manusia menjadi lebih baik.

Kaderisasi Al-Jama'ah juga bukan sekadar mencetak orang pintar. Kita membutuhkan generasi yang kuat imannya, baik akhlaknya, luas ilmunya, matang berpikirnya, ikhlas amalnya, dan siap berkorban untuk kebaikan. Generasi yang tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapat dari Al-Jama'ah?”, tetapi bertanya, “Apa yang bisa saya berikan untuk Al-Jama'ah?” Mereka tidak hanya ingin menikmati hasil perjuangan generasi sebelumnya, tetapi siap menjadi orang yang menanam untuk generasi sesudahnya. Inilah generasi yang kita butuhkan: bukan sekadar pengikut, tetapi penerus amanah.

Bayangkan suatu hari kita sudah tidak ada. Tidak ada lagi suara kita di majelis. Tidak ada lagi tangan kita yang menulis. Tidak ada lagi langkah kita yang datang membina. Tetapi ada seorang anak muda yang dahulu pernah kita ajari, kemudian berdiri menggantikan kita. Ia mengajarkan Al-Qur'an. Ia membina pemuda. Ia menjaga ukhuwah. Ia meneruskan dakwah. Kemudian suatu hari ia pun membina generasi setelahnya. Saat itulah kita memahami bahwa ternyata perjuangan kita tidak mati. Ia hanya berpindah tangan. Mungkin nama kita dilupakan, tetapi kebaikan yang kita tanam terus hidup.

Karena itu, jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya sibuk membangun hari ini tetapi lupa menyiapkan hari esok. Jangan sampai kita membawa seluruh ilmu, pengalaman, dan amanah ke dalam kubur. Tanamlah pada manusia. Ajari mereka. Dekati mereka. Percayai mereka. Beri mereka amanah. Dampingi mereka. Dan siapkan mereka untuk berdiri tanpa kita. Sebab kita mungkin tidak akan hidup cukup lama untuk melihat peradaban yang kita impikan berdiri, tetapi kita harus memastikan bahwa ketika kita pergi, masih ada generasi yang berjalan menuju ke sana.

Kaderisasi by Design, Bukan by Accident.

Al-Jama'ah tidak boleh berhenti pada satu generasi. Dakwah tidak boleh mati bersama dai. Ilmu tidak boleh mati bersama guru. Amanah tidak boleh mati bersama pemimpinnya. Perjuangan tidak boleh berhenti bersama orang-orang yang memulainya.

Kita mungkin akan mati. Tetapi semoga amanah yang kita bawa tidak ikut mati bersama kita.[BA]

 

Posting Komentar untuk "Kaderisasi By Design, Bukan By Accident"