PELITA MAJALENGKA - Pernahkah
Anda berpikir, “Saya tidak bisa menulis”? Jika iya, mungkin masalahnya bukan
karena Anda tidak memiliki kemampuan menulis, tetapi karena Anda terlalu cepat
menyimpulkan bahwa menulis hanya milik orang-orang yang sejak kecil pandai
merangkai kata.
Padahal, menulis pada hakikatnya
bukan sekadar bakat. Menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari, dilatih,
diasah, dan dikembangkan. Bahkan, hampir setiap orang sebenarnya memiliki bahan
untuk menjadi seorang penulis: pengalaman hidup, ilmu yang pernah dipelajari,
kegelisahan yang dirasakan, perjalanan yang dilalui, kesalahan yang pernah
dilakukan, dan hikmah yang ditemukan.
Seorang guru memiliki cerita
tentang murid-muridnya. Seorang ibu memiliki pengalaman mendidik anak. Seorang
ayah memiliki perjalanan mencari nafkah. Seorang santri memiliki kisah
perjuangan menuntut ilmu. Seorang mahasiswa memiliki kegelisahan tentang masa
depan. Seorang dai memiliki nasihat yang ingin disampaikan. Seorang pedagang
memiliki pengalaman jatuh bangun membangun usaha.
Bahkan seseorang yang merasa
hidupnya biasa-biasa saja sesungguhnya memiliki sesuatu yang mungkin sangat
berharga bagi orang lain. Karena itu, jangan menunggu menjadi hebat untuk mulai
menulis. Bisa jadi, justru dengan menulis seseorang sedang mempersiapkan
dirinya menjadi pribadi yang lebih bermanfaat.
Dalam perspektif Islam, aktivitas
membaca dan menulis memiliki kedudukan yang sangat mulia. Wahyu pertama yang
turun kepada Nabi Muhammad ﷺ dimulai
dengan perintah membaca:
اقْرَأْ
“Bacalah!” (QS. Al-‘Alaq:
1)
Kemudian Allah menyebut pena
secara khusus:
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ
“Yang mengajar (manusia)
dengan pena.” (QS. Al-‘Alaq: 4)
Ini bukan kebetulan. Islam datang
membawa peradaban ilmu, dan ilmu membutuhkan proses membaca, memahami,
menghafal, mengajarkan, mendokumentasikan, dan menyebarkannya. Pena menjadi
salah satu sarana penting agar ilmu tidak hilang bersama kematian pemiliknya.
Allah bahkan bersumpah dengan
pena:
ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا
يَسْطُرُونَ
“Nun. Demi pena dan apa yang
mereka tuliskan.” (QS. Al-Qalam: 1)
Sumpah Allah terhadap sesuatu
menunjukkan kemuliaan perkara tersebut. Pena mungkin kecil secara fisik, tetapi
pengaruhnya dapat melampaui usia manusia. Pedang dapat menaklukkan wilayah,
tetapi tulisan dapat menaklukkan pikiran. Harta dapat habis diwariskan, tetapi
ilmu yang ditulis dapat terus hidup selama berabad-abad.
Rasulullah ﷺ juga sangat memperhatikan pentingnya menyampaikan ilmu. Dalam
hadis sahih, beliau bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
“Sampaikanlah dariku walaupun
hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)
Pesan ini tidak berarti setiap
orang boleh berbicara agama tanpa ilmu. Justru sebaliknya, seseorang harus
menyampaikan apa yang benar-benar ia ketahui. Dan pada zaman sekarang, salah satu
cara efektif untuk menyampaikan ilmu adalah melalui tulisan.
Lihatlah bagaimana sebuah tulisan
dapat bekerja tanpa mengenal batas waktu dan tempat. Ketika seorang penulis
tidur, tulisannya tetap dibaca. Ketika ia sedang bekerja, tulisannya tetap
berbicara. Bahkan ketika ia telah meninggal dunia, tulisannya masih mungkin
menjadi sebab seseorang mendapatkan ilmu, berubah menjadi lebih baik, atau
kembali kepada Allah.
Inilah salah satu bentuk amal
yang sangat potensial untuk menjadi sedekah jariyah, selama isinya benar,
bermanfaat, dan diniatkan karena Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ
انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ
جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal
dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu
yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Tulisan yang berisi ilmu yang
bermanfaat dapat menjadi salah satu sarana seseorang meninggalkan jejak
kebaikan. Sebuah buku mungkin selesai ditulis dalam beberapa bulan, tetapi
manfaatnya bisa berlangsung puluhan tahun. Satu artikel mungkin hanya
membutuhkan beberapa jam untuk dibuat, tetapi bisa dibaca ribuan orang.
Para ulama Islam sejak dahulu
memahami pentingnya menulis dan mendokumentasikan ilmu. Karya-karya Imam
Al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi, Imam An-Nasa’i, Imam
Ibnu Majah, Imam An-Nawawi, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Ibnu Katsir, Imam
Ath-Thabari dan para ulama lainnya menjadi bukti bahwa ilmu tidak hanya
disampaikan secara lisan, tetapi juga diwariskan melalui tulisan.
Kita hari ini masih bisa
mempelajari hadis, tafsir, fikih, sejarah, dan berbagai cabang ilmu Islam
karena generasi sebelumnya bersusah payah menulis dan membukukan ilmu.
Di kalangan ulama terdapat
ungkapan yang sangat masyhur:
العِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ
قَيْدُهُ
“Ilmu adalah buruan, dan
tulisan adalah pengikatnya.”
Ungkapan ini sering dinisbatkan
kepada Imam Asy-Syafi‘i. Maknanya jelas: ilmu yang hanya disimpan dalam ingatan
sangat mudah terlupakan, sedangkan ilmu yang dicatat memiliki peluang lebih
besar untuk bertahan dan diwariskan.
Namun, menjadi penulis bukan
berarti harus langsung menghasilkan buku ratusan halaman. Mulailah dari satu
paragraf. Kemudian satu halaman. Setelah itu satu artikel. Jangan terlalu sibuk
memikirkan apakah tulisan kita sudah sehebat tulisan para penulis terkenal.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah tulisan kita benar, bermanfaat,
dan dapat menjadi jalan kebaikan?
Jangan takut tulisan pertama
terlihat sederhana. Semua penulis hebat pernah menjadi penulis pemula. Tidak
ada buku yang lahir dari halaman terakhir. Semuanya dimulai dari halaman
pertama. Tidak ada tulisan panjang yang muncul sekaligus. Semuanya bermula dari
satu kalimat, lalu satu paragraf, kemudian berkembang menjadi halaman demi
halaman.
Di era digital, kesempatan
menjadi penulis bahkan jauh lebih terbuka. Dahulu seseorang membutuhkan
penerbit, percetakan, modal besar, dan distribusi untuk menyebarkan gagasan.
Hari ini seseorang dapat menulis artikel di media, membuat newsletter,
menerbitkan buku digital, menulis di blog, membuat caption edukatif, menyusun
modul, atau membangun perpustakaan digital. Satu tulisan yang baik dapat
menyebar jauh melampaui batas kampung, kota, bahkan negara.
Tetapi ada satu hal yang harus
dijaga: jangan menulis hanya untuk dikenal; menulislah agar kebaikan dikenal.
Jangan menjadikan pena sebagai
alat untuk mencari pujian, menghina, memfitnah, menyebarkan kebencian, atau
memperbanyak kebisingan. Pena adalah amanah. Apa yang kita tulis akan
dipertanggungjawabkan.
Allah mengingatkan:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا
لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang
diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap
mencatat.” (QS. Qaf: 18)
Jika ucapan saja dicatat, apalagi
tulisan yang sengaja dibuat, disimpan, disebarkan, dan dibaca banyak orang.
Karena itu, seorang Muslim yang
ingin menjadi penulis harus memiliki tiga bekal: ilmu, keikhlasan, dan tanggung jawab.
Ilmu membuat tulisan tidak menyesatkan. Keikhlasan membuat tulisan tidak
semata-mata mengejar popularitas. Tanggung jawab membuat seorang penulis
berhati-hati terhadap setiap informasi yang ia sebarkan.
Mungkin hari ini Anda belum
memiliki buku. Tidak mengapa. Mungkin tulisan Anda belum banyak dibaca. Tidak
masalah. Mungkin belum ada yang menyebut Anda sebagai penulis. Biarkan.
Mulailah saja.
Ambillah pena. Buka laptop. Buka
ponsel. Tulis apa yang Anda ketahui. Tuliskan pengalaman yang mengandung
pelajaran. Tuliskan ilmu yang telah Anda pelajari. Tuliskan nasihat yang
mungkin dibutuhkan orang lain. Tuliskan kisah perjuangan. Tuliskan kegelisahan
umat. Tuliskan solusi. Tuliskan kebenaran dengan bahasa yang bijak.
Sebab kita tidak pernah tahu,
mungkin satu tulisan sederhana yang kita anggap tidak berarti justru menjadi
sebab seseorang berubah. Mungkin satu paragraf membuat seorang pemuda kembali
ke masjid. Mungkin satu artikel membuat seorang ibu lebih sabar mendidik
anaknya. Mungkin satu buku membuat seorang mahasiswa menemukan jalan hidupnya.
Dan mungkin, ketika kita telah
tiada, tulisan itu masih menjadi saksi bahwa pernah ada seorang hamba Allah
yang berusaha meninggalkan jejak kebaikan.
Semua
orang bisa menjadi penulis. Tetapi tidak semua orang memilih untuk menulis.
Maka jangan menunggu sempurna
untuk mulai menulis.
Mulailah menulis hari
ini. Karena boleh jadi, kalimat yang Anda tulis hari ini adalah amal yang akan
terus hidup setelah Anda tidak lagi hidup.[BA]

Posting Komentar untuk "Semua Orang Bisa Menjadi Penulis"