Markam berada di antara Presiden Soekarno dan Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh dalam acara penggalangan dana Dwikora tahun 1964 (Historia.id)
PELITA MAJALENGKA - Jakarta, suatu pagi. Matahari perlahan naik di balik gedung-gedung tinggi ibu kota. Cahaya pertamanya menyentuh puncak Monumen Nasional, lalu memantul dari lidah api berlapis emas yang menjulang 132 meter di atas permukaan tanah. Dari kejauhan, nyala itu tampak seperti api yang dibekukan di langit Jakarta. Di bawahnya, manusia datang dan pergi. Anak-anak berlarian, keluarga berfoto, para pelajar berjalan berkelompok, wisatawan mengangkat telepon genggam, dan orang-orang berdiri dengan wajah penuh kebanggaan di hadapan salah satu simbol terbesar Indonesia.
Tetapi di
tengah keramaian itu, sangat sedikit yang berhenti untuk bertanya: siapa
yang pernah memberikan emas itu? Nama itu mungkin asing bagi banyak
generasi yang lahir jauh setelah Indonesia merdeka. Namanya adalah Teuku
Markam, seorang saudagar asal Aceh yang pernah menjadi salah satu pengusaha
penting pada masa awal Republik. Ia dikenal dekat dengan Presiden Soekarno,
memiliki jaringan bisnis yang luas, terlibat dalam kegiatan perdagangan dan
pembangunan, serta disebut menyumbangkan sekitar 28 kilogram emas untuk bagian
puncak Monas.
Angka itu bukan
jumlah kecil. Dua puluh delapan kilogram emas adalah kekayaan yang sangat
besar, terlebih pada masa ketika Indonesia masih berjuang membangun fondasi
ekonominya. Ironinya, ketika emas yang dikaitkan dengan sumbangannya tetap
berkilau di puncak Monas, kehidupan Teuku Markam justru bergerak menuju masa
yang jauh lebih gelap.
Teuku Markam
diperkirakan lahir pada 1925 di wilayah Aceh Utara. Ia berasal dari lingkungan
Uleebalang Aceh dan pernah menjalani kehidupan militer sebelum akhirnya terjun
ke dunia usaha. Dari dunia perdagangan inilah namanya kemudian tumbuh menjadi
salah satu saudagar besar pada masa Republik. Ia membangun perusahaan yang
dikenal sebagai PT Karkam dan mengembangkan jaringan bisnisnya dalam perdagangan.
Pada masa itu, Indonesia masih merupakan negara yang sangat muda. Pemerintah
sedang berusaha membangun kekuatan ekonomi nasional, sementara berbagai proyek
pembangunan membutuhkan dukungan modal dan jaringan usaha.
Markam hadir
sebagai salah satu pengusaha yang mempunyai kemampuan ekonomi cukup besar untuk
memainkan peran dalam dinamika tersebut. Namanya kemudian semakin dikenal
karena kedekatannya dengan Presiden Soekarno. Hubungan itu membuatnya berada di
sekitar lingkaran kekuasaan dan kegiatan ekonomi pada masa Orde Lama. Namun
kedekatan dengan kekuasaan selalu mempunyai dua sisi. Ketika kekuasaan sedang
berada di pihak kita, kedekatan dapat menjadi kekuatan. Tetapi ketika zaman
berubah, kedekatan yang sama dapat berubah menjadi beban yang sangat berat.
Salah satu
bagian paling terkenal dari kisah Teuku Markam adalah sumbangannya untuk
pembangunan Monumen Nasional. Monas bukan sekadar menara tinggi di tengah
Jakarta. Ia lahir dari keinginan pemerintah pada masa Presiden Soekarno untuk
membangun sebuah monumen yang dapat menjadi simbol perjuangan dan semangat
bangsa Indonesia. Pembangunannya dimulai pada 17 Agustus 1961 dan kemudian
selesai pada 1975. Di bagian puncaknya terdapat bentuk lidah api yang
melambangkan semangat perjuangan bangsa yang tidak pernah padam. Kompas
mencatat bahwa gagasan lidah api tersebut berkaitan dengan simbol semangat
perjuangan bangsa yang terus menyala. Untuk memperkuat simbol tersebut, bagian
lidah api dilapisi emas.
Dalam berbagai
sumber, berat awal lapisan emas disebut berbeda, antara sekitar 35 kilogram dan
38 kilogram. Namun angka yang paling sering dikaitkan dengan Teuku Markam
adalah sekitar 28 kilogram emas yang disebut disumbangkannya untuk pelapisan
bagian tersebut. Pada 1995, ketika Indonesia memperingati 50 tahun kemerdekaan,
lapisan emas di puncak Monas kemudian ditambah sehingga totalnya mencapai
sekitar 50 kilogram.
Bayangkan
seorang lelaki menyerahkan 28 kilogram emas untuk sebuah proyek negara. Emas
yang sebelumnya menjadi bagian dari kekayaan pribadi itu kemudian berubah
menjadi simbol publik. Ia tidak lagi tersimpan di rumah, brankas, atau
perusahaan. Ia berada di tempat tertinggi sebuah monumen yang kelak menjadi
ikon Jakarta. Ada sesuatu yang sangat puitis dalam perjalanan emas itu.
Kekayaan seorang manusia dari Aceh berpindah ke ibu kota dan kemudian
ditempatkan di puncak sebuah bangunan yang menjadi simbol nasional.
Apa yang semula
merupakan milik pribadi berubah menjadi bagian dari wajah sebuah bangsa.
Mungkin Teuku Markam tidak pernah membayangkan bahwa jutaan orang kelak akan
berdiri di bawah Monas, mengangkat kamera, dan mengabadikan gambar lidah api
yang sebagian sejarahnya dikaitkan dengan sumbangan emas miliknya. Tetapi
sejarah kemudian membawa kisah Markam ke arah yang sama sekali berbeda.
Tahun 1965
menjadi salah satu titik paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa
politik dan kekerasan yang mengikutinya mengguncang negeri. Kekuasaan Presiden
Soekarno melemah, dan Orde Baru di bawah Soeharto perlahan mengambil alih
kendali pemerintahan. Bagi banyak orang yang sebelumnya dekat dengan Soekarno,
perubahan politik itu membawa konsekuensi besar. Teuku Markam termasuk salah
satu nama yang kemudian mengalami perubahan nasib secara drastis.
Berbagai sumber
menyebut bahwa ia dituduh terkait dengan PKI, dianggap sebagai pendukung
Soekarno, serta menghadapi tuduhan lain yang berkaitan dengan kegiatan
ekonominya. Ia kemudian ditahan pada 1966. Catatan mengenai perjalanan
penahanannya menyebut bahwa ia pernah ditempatkan di sejumlah tempat tahanan,
termasuk Budi Utomo, Guntur, Salemba, Cipinang, dan Nirbaya. Kisah penahanannya
menjadi salah satu bagian paling kontroversial dalam perjalanan hidupnya karena
ia menjalani masa tahanan bertahun-tahun tanpa proses pengadilan yang terbuka
sebagaimana proses peradilan pidana pada umumnya.
Bayangkan
perubahan itu terjadi kepada seseorang dalam waktu yang tidak terlalu panjang.
Kemarin ia seorang saudagar besar yang mempunyai perusahaan, rumah, tanah,
kendaraan, jaringan bisnis, dan hubungan dengan tokoh-tokoh penting negara.
Beberapa waktu kemudian ia berada di balik jeruji. Dunia yang sebelumnya ia
kenal perlahan runtuh. Pada 14 Agustus 1966, aset-aset yang berkaitan dengan
Teuku Markam diambil alih pemerintah.
Berbagai
catatan menyebut aset perusahaan yang berkaitan dengan PT Karkam, PT Aslam, dan
PT Sinar Pagi kemudian masuk dalam perjalanan sejarah perusahaan negara dan
berkaitan dengan PT PP Berdikari. Keputusan Presiden Nomor 31 Tahun 1974
kemudian menegaskan status harta kekayaan eks perusahaan-perusahaan tersebut
sebagai “pinjaman” yang menjadi penyertaan modal negara di PT PP Berdikari.
Bagi seorang manusia, perubahan status aset tersebut bukan sekadar persoalan
administrasi. Di balik angka, dokumen, dan keputusan negara, ada sebuah
kehidupan yang berubah secara drastis. Rumah, perusahaan, tanah, kekayaan,
jaringan usaha, dan kehidupan yang dibangun selama bertahun-tahun tidak lagi
berada di bawah kendalinya.
Yang hilang
dari Teuku Markam bukan hanya harta. Yang hilang adalah dunianya. Harta dapat
dihitung dengan angka, tanah dapat diukur dengan luas, perusahaan dapat dinilai
dengan laporan keuangan, tetapi kehilangan nama baik jauh lebih sulit diukur.
Seseorang dapat kehilangan kekayaan dan mencoba mencarinya kembali. Namun
ketika sebuah stigma politik melekat pada nama seseorang, luka itu dapat
mengikuti dirinya bahkan setelah ia keluar dari penjara.
Markam
menjalani tahun-tahun panjang dalam tahanan. Delapan tahun adalah waktu yang
sangat panjang bagi seorang manusia. Dalam delapan tahun, seorang anak dapat tumbuh
menjadi remaja, seorang mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan, sebuah
perusahaan dapat berkembang menjadi besar, bahkan sebuah kota dapat berubah
wajah. Tetapi bagi Markam, tahun-tahun tersebut berlalu dalam situasi yang jauh
dari kehidupan yang pernah ia jalani.
Kondisi
kesehatannya kemudian memburuk. Ia dirawat di RSPAD Gatot Soebroto selama
kurang lebih dua tahun. Pada 1974, setelah bertahun-tahun menjalani masa
penahanan, Teuku Markam akhirnya dibebaskan. Tetapi kebebasan itu datang ketika
kehidupannya sudah berubah. Ia bukan lagi saudagar besar seperti sebelumnya.
Perusahaan-perusahaannya tidak lagi berada dalam kendalinya. Aset-asetnya telah
mengalami perubahan status. Namanya telah melewati badai politik. Tubuhnya juga
tidak lagi sekuat dahulu.
Namun, di
tengah semua kehilangan itu, ia mencoba bangkit. Setelah dibebaskan, ia
mendirikan PT Marjaya dan kembali mengerjakan sejumlah proyek. Beberapa sumber
mencatat keterlibatannya dalam berbagai proyek pembangunan dan pekerjaan
infrastruktur. Upaya tersebut menunjukkan bahwa Markam tidak menyerah begitu
saja kepada keadaan. Setelah kehilangan hampir seluruh fondasi kehidupan
ekonominya, ia mencoba kembali berdiri dan membangun kehidupan dari puing-puing
masa lalu.
Di sinilah
kisah Teuku Markam menjadi lebih dari sekadar kisah seorang pengusaha kaya. Ia
menjadi kisah tentang manusia yang hidupnya berubah karena pergantian zaman.
Sejarah Indonesia tentang 1965 dan Orde Baru sendiri merupakan bidang yang
kompleks dan masih terus dikaji oleh para sejarawan. Sejarawan Asvi Warman
Adam, misalnya, banyak meneliti historiografi Indonesia dan bagaimana sejarah
Orde Baru dibentuk, termasuk pentingnya melihat pengalaman kelompok-kelompok
yang selama ini berada di luar narasi resmi.
Perspektif
semacam itu penting ketika kita membaca kisah Teuku Markam. Kita tidak perlu
mengubahnya menjadi sosok tanpa kesalahan, tetapi kita juga tidak boleh
menerima begitu saja setiap tuduhan terhadap dirinya tanpa melihat bukti
sejarah. Tuduhan harus dibedakan dari keputusan pengadilan. Kesaksian keluarga
harus dibedakan dari dokumen arsip. Cerita populer harus dibedakan dari fakta
yang telah diverifikasi. Dengan cara itulah sejarah dapat diperlakukan secara
adil.
Teuku Markam
akhirnya meninggal dunia di Jakarta pada 1985 setelah mengalami komplikasi
penyakit. Ia pergi meninggalkan sebuah kisah yang penuh paradoks. Ia pernah
menjadi orang kaya dan berpengaruh, kemudian kehilangan kebebasan dan
kekayaannya, lalu mencoba bangkit setelah keluar dari tahanan. Sementara itu,
Monas tetap berdiri di tengah Jakarta. Setiap hari, matahari kembali menyentuh
lidah api di puncaknya. Emas itu tetap memantulkan cahaya. Jutaan manusia
datang dan pergi. Anak-anak tumbuh menjadi dewasa. Generasi berganti.
Gedung-gedung baru bermunculan. Teknologi berubah. Jakarta berubah. Tetapi
Monas tetap menjadi salah satu simbol paling kuat dari ibu kota.
Pada 1995, emas
pada puncak Monas ditambah sehingga total lapisannya mencapai sekitar 50
kilogram. Karena itu, angka 50 kilogram yang sering disebut dalam pemberitaan
masa kini tidak berarti seluruhnya merupakan emas yang disumbangkan Teuku
Markam. Namun sekitar 28 kilogram sumbangan Markam tetap menjadi bagian penting
dalam sejarah awal lapisan emas Monas. Di sinilah ironi kehidupan itu terasa
begitu kuat. Emasnya bertahan lebih lama daripada namanya. Kilau emas
tersebut dapat dilihat siapa saja, tetapi kisah manusia di baliknya tidak
otomatis diketahui oleh setiap orang yang datang berkunjung.
Cobalah suatu
hari berdiri di halaman Monas. Jangan langsung mengambil kamera. Angkat kepala
dan lihat puncaknya. Lihat lidah api yang berlapis emas itu. Kemudian bayangkan
seorang lelaki dari Aceh yang hidup pada masa Republik masih sangat muda.
Bayangkan seorang pengusaha yang memiliki kekayaan besar, kemudian memberikan
sekitar 28 kilogram emas untuk sebuah simbol negara.
Bayangkan emas
itu dibawa ke Jakarta, menjadi bagian dari puncak Monas, lalu selama puluhan
tahun terus memantulkan cahaya kepada siapa pun yang memandangnya. Setelah itu
bayangkan kehidupan orang yang menyumbangkannya. Dari puncak kekayaan ia jatuh
ke dalam tahanan. Dari dunia bisnis ia kehilangan kendali atas perusahaan. Dari
kehidupan yang penuh pengaruh ia masuk ke dalam kesunyian. Dari nama yang
dikenal banyak orang ia perlahan menjadi nama yang tidak lagi banyak disebut.
Ada sesuatu
yang hampir seperti metafora dalam perjalanan hidup itu. Ia memberikan emas
untuk menerangi puncak Monas, tetapi hidupnya sendiri pernah melewati masa yang
sangat gelap. Kalimat itu bukan sekadar ungkapan puitis. Ia menggambarkan
sebuah paradoks sejarah yang sangat manusiawi. Seseorang dapat memberikan
sesuatu yang besar kepada sebuah bangsa, tetapi belum tentu hidupnya selalu
berakhir dengan penghormatan yang setara. Seseorang dapat berada sangat dekat
dengan pusat kekuasaan, tetapi kedekatan itu juga dapat membuatnya sangat
rentan ketika kekuasaan berganti. Seseorang dapat memiliki kekayaan luar biasa,
tetapi dalam hitungan tahun dapat kehilangan hampir semuanya.
Kisah Teuku
Markam seharusnya tidak digunakan untuk menumbuhkan kebencian terhadap masa
lalu. Ia juga tidak seharusnya disederhanakan menjadi cerita hitam-putih
tentang siapa yang sepenuhnya benar dan siapa yang sepenuhnya salah. Justru
karena sejarah begitu rumit, kisah seperti ini perlu diceritakan dengan jernih.
Kita perlu belajar bahwa sejarah tidak hanya terdiri atas nama-nama yang menang
dan berada di puncak kekuasaan. Sejarah juga terdiri atas manusia yang kalah,
manusia yang ditahan, manusia yang kehilangan harta, manusia yang kehilangan
nama baik, dan manusia yang tidak sempat menuliskan versinya sendiri. Di balik
setiap keputusan politik selalu ada kehidupan manusia yang terkena dampaknya.
Emas tidak
pernah berbicara. Ia tidak mengatakan siapa pemiliknya. Ia tidak menceritakan
bagaimana emas itu diperoleh. Ia tidak mengeluh ketika dipindahkan dari
kekayaan pribadi menjadi bagian dari sebuah monumen. Ia hanya diam di puncak
Monas, menyerap cahaya matahari dan memantulkannya kembali ke langit Jakarta.
Tetapi bagi mereka yang mau membaca sejarah lebih dalam, emas itu seakan
menyimpan sebuah pertanyaan: berapa banyak manusia yang berjasa kepada
negeri ini tetapi kemudian dilupakan? Pertanyaan itu tidak hanya berlaku
bagi Teuku Markam. Ia berlaku bagi banyak orang lain yang pernah menyumbangkan
tenaga, pikiran, harta, keberanian, bahkan seluruh hidup mereka untuk bangsa,
tetapi kemudian tidak lagi disebut oleh generasi setelahnya.
Karena itu,
ketika kita berbicara tentang Teuku Markam, yang perlu kita ingat bukan hanya
angka 28 kilogram emas. Kita perlu mengingat manusia di balik angka tersebut.
Seorang lelaki yang pernah berada di tengah arus sejarah besar Indonesia.
Seorang pengusaha yang pernah memiliki kekayaan luar biasa. Seorang tokoh yang
dekat dengan Soekarno. Seorang manusia yang kemudian mengalami penahanan dan
kehilangan aset pada masa pergantian rezim. Seorang lelaki yang setelah
dibebaskan masih mencoba membangun kembali kehidupannya. Dan akhirnya, seorang
manusia yang meninggal pada 1985, sementara salah satu jejak yang dikaitkan
dengan namanya masih berada di tempat yang sangat tinggi.
Mungkin itulah
cara terbaik membaca sejarah Teuku Markam. Bukan dengan memuja, bukan dengan
membenci, tetapi dengan mengingat. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa
yang mampu membangun monumen tinggi, melainkan bangsa yang mampu menghargai
manusia yang pernah berada di balik proses pembangunan tersebut. Monas adalah
monumen. Tetapi manusia seperti Teuku Markam adalah bagian dari ingatan yang
membuat sebuah monumen menjadi lebih bermakna. Di balik beton ada pekerja, di
balik desain ada pemikir, di balik pembangunan ada kebijakan, di balik
pendanaan ada orang-orang yang menyumbang, dan di balik sejarah selalu ada
manusia.
Teuku Markam
telah lama pergi. Monas masih berdiri. Jakarta terus bergerak. Emas di
puncaknya masih menangkap cahaya matahari setiap pagi. Orang-orang masih datang
untuk berfoto, masih mengagumi ketinggiannya, masih menjadikannya simbol
kebanggaan ibu kota. Tetapi mungkin, mulai sekarang, setiap kali kita melihat
lidah api itu, kita dapat melihat sesuatu yang lebih dari sekadar emas. Kita
dapat melihat perjalanan sebuah bangsa. Kita dapat melihat bagaimana kekayaan
dapat berubah menjadi simbol, bagaimana kekuasaan dapat berganti, bagaimana manusia
dapat jatuh dan bangkit, dan bagaimana sebuah nama dapat tenggelam sementara
jejak perbuatannya tetap tinggal.
Teuku Markam
meninggal pada 1985. Tetapi kisahnya belum selesai.
Sebab selama
Monas masih berdiri dan lidah api berlapis emas itu masih memantulkan cahaya di
atas Jakarta, selalu ada kesempatan bagi generasi baru untuk bertanya tentang
sejarah yang berada di baliknya. Siapa lelaki yang pernah memberikan emas itu?
Mengapa ia melakukannya? Apa yang terjadi kepadanya setelah itu? Dan bagaimana
sebuah bangsa seharusnya memperlakukan orang-orang yang pernah memberikan
sesuatu untuknya?
Mungkin
jawabannya tidak seluruhnya sederhana. Mungkin masih ada bagian sejarah yang
membutuhkan penelitian lebih dalam. Mungkin arsip-arsip yang lebih lengkap
masih perlu dibuka dan dikaji. Tetapi satu hal patut kita renungkan: jangan
sampai kita hanya pandai menikmati kilau sebuah monumen, tetapi lupa mengenang
manusia yang pernah memberikan sebagian hidupnya untuk membuat sejarah bangsa
ini.
Di puncak Monas
ada api. Api itu dilapisi emas. Emas itu berkilau setiap kali disentuh
matahari. Dan jauh di bawahnya, di antara riuh Jakarta yang tidak pernah
berhenti, ada sebuah nama yang pernah menjadi besar, kemudian nyaris hilang
dari ingatan: Teuku Markam.
Ia memberikan
emas kepada negeri.
Sejarah
memberinya luka.
Monas menyimpan
jejaknya.
Dan waktu,
seperti biasa, terus berjalan.
Emasnya masih
bercahaya. Semoga ingatan kita juga tidak padam.[BA]
-----------------------------------------------
Sumber Rujukan
- ANTARA News, pemberitaan
mengenai asal-usul emas Monas dan kontribusi Teuku Markam sekitar 28 kilogram
emas, termasuk informasi mengenai penambahan emas pada 1995 hingga mencapai
sekitar 50 kilogram.
- Kompas.com, berbagai tulisan mengenai sejarah pembangunan Monas,
sejarah lidah api Monas, serta perjalanan hidup Teuku Markam, termasuk
penahanan, pengambilalihan aset, pembebasan, dan wafatnya.
- Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1974, mengenai status harta kekayaan eks
perusahaan-perusahaan yang sebelumnya diambil alih pemerintah dan kemudian
menjadi penyertaan modal negara pada PT PP Berdikari.
- Kajian
historiografi Asvi Warman Adam, khususnya mengenai sejarah Indonesia masa Orde Baru,
konstruksi sejarah resmi, dan pentingnya melihat pengalaman korban dalam
membaca sejarah secara kritis.
Catatan metodologis: detail mengenai Teuku Markam dalam berbagai publikasi
populer tidak selalu identik. Karena itu, angka kontribusi emas ditulis sebagai
“sekitar 28 kilogram”, sementara berat lapisan emas awal Monas disebut berbeda
dalam sejumlah sumber, sekitar 35–38 kilogram. Setelah penambahan pada 1995,
total emas di puncak Monas disebut mencapai sekitar 50 kilogram. Perbedaan
tersebut perlu menjadi perhatian bagi penulis maupun editor agar feature tetap
menarik tanpa mengorbankan ketelitian sejarah.

Posting Komentar untuk "Emas Di Puncak Monas, Sunyi Di Bawahnya"