PELITA MAJALENGKA - Ada sebuah nama yang hampir mustahil dipisahkan dari sejarah Turki modern: Mustafa Kemal Atatürk. Bagi sebagian orang Turki, ia adalah pahlawan yang menyelamatkan negerinya dari kehancuran dan meletakkan fondasi Republik Turki. Namun bagi banyak umat Islam, namanya juga mengingatkan pada sebuah perubahan besar yang jauh lebih dalam: runtuhnya institusi Khilafah Utsmaniyah dan lahirnya sebuah negara dengan proyek sekularisasi yang sangat kuat.
Karena itu, mengenal Atatürk bukan sekadar membaca kisah seorang tokoh
politik. Ia adalah membaca sebuah persimpangan sejarah: ketika sebuah bangsa
yang selama berabad-abad berada di bawah naungan Kesultanan Utsmaniyah memasuki
jalan baru yang secara sadar memisahkan banyak institusi negara dari tradisi
Islam.
Mustafa Kemal lahir pada 1881 di Salonika, yang ketika itu merupakan wilayah Kesultanan Utsmaniyah dan sekarang berada di Yunani. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya, Ali Rıza Bey, pernah bekerja di kantor bea cukai dan kemudian menjadi pedagang, sementara ibunya, Zübeyde Hanım, dikenal sebagai seorang Muslimah.
Ayahnya meninggal ketika Mustafa masih kecil sehingga ia kemudian
dibesarkan oleh ibunya. Nama “Kemal” diberikan oleh gurunya karena prestasinya
dalam matematika. Karena itu, kisah bahwa ia tidak mengetahui siapa ayah
kandungnya tidak memiliki dasar kuat dalam sumber biografis yang dapat
dipertanggungjawabkan.
Yang kemudian membuat Mustafa Kemal menjadi tokoh besar bukanlah masa
kecilnya, melainkan kemampuannya membaca kehancuran sebuah imperium dan
memanfaatkannya untuk membangun tatanan baru. Setelah Perang Dunia I, ia tampil
sebagai pemimpin perjuangan nasional Turki. Republik Turki berdiri pada 1923,
dan Mustafa Kemal menjadi presiden pertamanya. Tetapi setelah negara baru itu
berdiri, ia tidak berhenti pada perubahan politik. Ia melakukan transformasi
besar terhadap hukum, pendidikan, bahasa, pakaian, institusi agama, dan
kehidupan sosial masyarakat. Para sejarawan menggambarkan proyek tersebut
sebagai proses sekularisasi dan westernisasi yang berlangsung sangat cepat.
Ketika Khilafah Dihapus:
Sebuah Kekuasaan Islam yang Berusia Berabad-abad Diputus dalam Satu Keputusan
Titik yang paling mengguncangkan dunia Islam datang pada 3 Maret 1924.
Khilafah Utsmaniyah secara resmi dihapuskan. Dinasti Utsmaniyah kemudian
disingkirkan dari Turki. Lembaga-lembaga keagamaan tradisional juga mengalami
pembatasan dan pembubaran. Madrasah-madrasah ditutup dan berbagai institusi
yang selama berabad-abad menjadi bagian dari struktur kehidupan Islam Utsmani
dirombak.
Bayangkan suasananya. Sebuah institusi politik Islam yang telah bertahan
selama berabad-abad berakhir. Keluarga dinasti yang selama beberapa generasi
menjadi simbol kekuasaan Utsmaniyah diusir dari negeri itu. Dalam waktu relatif
singkat, struktur politik yang diwarisi dari masa lalu dibongkar dan digantikan
oleh republik nasional yang berorientasi sekuler.
Bagi pendukung Kemalisme, langkah itu merupakan bagian dari pembangunan
negara bangsa modern. Tetapi bagi umat Islam, penghapusan Khilafah merupakan
patahan sejarah yang sangat besar. Sebuah institusi yang selama berabad-abad
menjadi simbol kesatuan politik umat Islam tiba-tiba berakhir.
Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian seorang penguasa dengan penguasa
lainnya. Ia menyentuh pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apakah agama akan tetap menjadi salah satu fondasi
kehidupan publik, ataukah agama akan dipinggirkan dari struktur negara?
Mustafa Kemal memilih jalan kedua.
Pada 1925, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Topi yang mendorong
penggunaan pakaian bergaya Barat dan menekan simbol-simbol pakaian tradisional.
Pada 1926, hukum perdata Turki mengambil model dari hukum Swiss. Poligami
dilarang dan hukum keluarga mengalami perubahan besar. Pada 1928, alfabet Turki
diubah dari aksara Arab-Utsmani menjadi alfabet Latin.
Perubahan alfabet tersebut bukan perkara sederhana. Selama berabad-abad,
masyarakat Turki membaca dan menulis dengan aksara Arab-Utsmani. Ketika alfabet
diganti, hubungan generasi baru dengan literatur Ottoman menjadi jauh lebih
sulit. Sebuah generasi baru harus belajar membaca dengan sistem yang berbeda,
sementara warisan tulisan generasi sebelumnya menjadi semakin sulit diakses
tanpa pendidikan khusus.
Di sinilah sebuah pelajaran sejarah yang sangat dalam muncul: sebuah bangsa tidak hanya dapat diubah dengan
mengganti pemerintahnya. Bangsa juga dapat diubah dengan mengubah cara mereka
membaca, menulis, berpikir, dan mengenang masa lalu.
Ketika Islam Ditekan dari
Kehidupan Publik: Azan Diubah, Huruf Arab Ditinggalkan, dan Institusi Keagamaan
Dibongkar
Sekularisasi kemudian bergerak semakin dalam. Perubahan tidak hanya terjadi
di kantor pemerintahan atau ruang parlemen. Ia masuk ke sekolah, bahasa,
pakaian, kalender, hukum, dan bahkan suara azan.
Pada masa pemerintahan Kemalis, azan diwajibkan menggunakan bahasa Turki,
bukan bahasa Arab. Kebijakan tersebut berlangsung hingga 1950 dan kemudian
dicabut setelah Partai Demokrat berkuasa.
Bayangkan sebuah masjid.
Menaranya tetap berdiri. Kubahnya tetap ada. Jamaah masih datang. Tetapi
suara panggilan shalat yang selama berabad-abad terdengar dalam bahasa Arab
harus dikumandangkan dalam bahasa Turki.
Perubahan itu memperlihatkan betapa jauh negara berusaha mengatur ekspresi
keagamaan masyarakat.
Hari istirahat mingguan juga diubah dari Jumat menjadi Minggu. Kalender Barat
digunakan. Institusi pendidikan agama mengalami pembongkaran dan pengaturan
ulang. Bahkan bahasa Turki mengalami proyek besar untuk mengurangi pengaruh
kosakata Arab dan Persia.
Sejarawan melihat semua perubahan tersebut sebagai bagian dari proyek pembentukan
masyarakat Turki modern yang berbeda dari masyarakat Ottoman sebelumnya.
Hagia Sophia menjadi salah satu simbol paling kuat dari perubahan tersebut.
Bangunan yang selama berabad-abad menjadi masjid pada masa Utsmaniyah diubah
menjadi museum pada 1934. Status tersebut bertahan selama puluhan tahun sebelum
pada 2020 kembali difungsikan sebagai masjid.
Bagi banyak orang, perubahan Hagia Sophia bukan sekadar perubahan fungsi
sebuah bangunan. Ia menjadi simbol perubahan identitas dan arah politik Turki modern.
Tetapi perubahan sebesar itu tentu tidak berjalan tanpa perlawanan.
Pemerintahan awal Republik Turki menggunakan aparat negara dan pengadilan
khusus untuk menghadapi berbagai pemberontakan dan oposisi, termasuk
pemberontakan Sheikh Said pada 1925. Sejumlah tokoh dijatuhi hukuman berat,
termasuk hukuman mati. Karena itu, sejarah sekularisasi Turki tidak tepat
digambarkan hanya sebagai kisah reformasi administratif. Di dalamnya terdapat
konflik, pemberontakan, penindasan politik, hukuman, dan pertarungan keras
mengenai identitas bangsa Turki.
Dan di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Sejarah bukan sekadar daftar
tanggal. Di balik sebuah keputusan politik selalu ada manusia.
Ketika bahasa berubah, generasi berikutnya membaca masa lalu dengan cara
berbeda. Ketika hukum berubah, struktur keluarga berubah. Ketika institusi
agama dibubarkan, hubungan masyarakat dengan tradisinya berubah. Ketika
Khilafah dihapuskan, umat Islam di berbagai penjuru dunia kehilangan salah satu
simbol politik yang selama berabad-abad mereka kenal.
Atatürk sendiri menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dalam kondisi
kesehatan yang buruk. Ia dikenal memiliki kebiasaan minum alkohol yang berat.
Ia meninggal pada 10 November 1938 di Dolmabahçe Palace, Istanbul.
Sumber-sumber biografis mencatat penyebab kematiannya sebagai sirosis hati.
Namun kematian seorang manusia tidak otomatis menjadi bukti bahwa Allah
sedang menghukumnya. Kita tidak mengetahui perkara gaib. Kita tidak berhak
memastikan kedudukan seseorang di hadapan Allah hanya berdasarkan bagaimana ia
meninggal.
Yang dapat kita lakukan adalah mengambil pelajaran. Al-Qur'an mengingatkan: “Lalu
Kami binasakan orang-orang yang lebih besar kekuatannya daripada mereka, dan
telah berlalu contoh umat-umat terdahulu.” (QS. Az-Zukhruf: 8)
Ayat ini bukan alasan untuk memastikan bahwa kematian seseorang tertentu
adalah hukuman Allah. Tetapi ia adalah peringatan keras kepada manusia yang
merasa kuat, berkuasa, dan mampu mengubah dunia sesuai kehendaknya.
Sebab kekuasaan ada batasnya. Istana ada batasnya. Jabatan ada batasnya. Tubuh
manusia ada batasnya. Bahkan sebuah rezim yang tampak sangat kuat pun pada
akhirnya akan menjadi bagian dari sejarah.
Setelah kematiannya, jenazah Atatürk diperlakukan dengan prosedur
pemulasaraan formal. Ia dimandikan dan dikafani, kemudian diawetkan karena
belum akan segera dimakamkan. Pada 19 November 1938, salat jenazah dilaksanakan
di Istana Dolmabahçe dan dipimpin oleh Prof. Şerafettin Yaltkaya. Jenazah
kemudian dibawa ke Ankara dan ditempatkan sementara di Museum Etnografi hingga
akhirnya dipindahkan ke Anıtkabir pada 1953.
Di sinilah kisah seorang manusia yang pernah mengubah arah sebuah negeri
akhirnya berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat diubah oleh kekuasaan
mana pun: kematian.
Atatürk dapat mengubah sistem pemerintahan. Ia dapat mengubah alfabet. Ia
dapat mengubah hukum. Ia dapat mengubah pakaian. Ia dapat mengubah kalender. Ia
dapat mengubah bahasa azan. Tetapi ia tidak dapat mengubah satu hukum Allah: setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Allah berfirman: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali 'Imran: 185). Karena itu,
pertanyaan terpenting dari kisah Mustafa Kemal Atatürk bukan sekadar, “Apakah
kita setuju atau tidak setuju dengannya?”
Pertanyaan yang jauh lebih dalam adalah: Jika suatu hari kita mati, apa yang kita tinggalkan? Apakah
kita meninggalkan ilmu yang menerangi generasi setelah kita? Apakah kita
meninggalkan anak-anak yang mencintai Allah? Apakah kita meninggalkan amal yang
terus mengalir? Apakah kita meninggalkan masyarakat yang semakin dekat kepada
kebenaran? Ataukah kita hanya meninggalkan nama besar yang perlahan-lahan
menjadi tulisan di halaman buku sejarah? Pada akhirnya, sejarah akan menutup
semua kisah manusia dengan kalimat yang sama: Ia telah pergi.
Yang membedakan bukan seberapa tinggi seseorang pernah berdiri, melainkan apa yang ia lakukan ketika diberi kekuasaan, apa
yang ia tinggalkan ketika masih hidup, dan dalam keadaan apa ia kembali
menghadap Allah.
Maka jangan hanya membaca sejarah untuk mengetahui siapa yang menang dan
siapa yang kalah. Bacalah sejarah agar hati kita takut kepada Allah. Bacalah
sejarah agar kita tidak mabuk oleh kekuasaan. Bacalah sejarah agar kita tidak
silau oleh kemegahan dunia. Dan yang paling penting, bacalah sejarah agar kita
sadar bahwa sehebat apa pun manusia
membangun sejarah, pada akhirnya ia sendiri akan menjadi bagian dari sejarah
itu.[BA]

Posting Komentar untuk "Mustafa Kemal Atatürk: Ketika Sebuah Bangsa Mengubah Arah Sejarah"