PELITA MAJALENGKA - Ada sebuah kalimat yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya menyimpan persoalan besar: “Kita dekat, tapi tidak halal.” Mereka setiap hari saling berkabar. Bangun tidur mencari pesan darinya, sebelum tidur memastikan sudah mengucapkan “good night”. Mereka saling memanggil sayang, bahkan ada yang sudah memanggil “mama” dan “papa”.
Ada yang hampir setiap hari bertemu, jalan bersama, makan bersama, bahkan tinggal di tempat yang sama. Ada yang sudah mengetahui rahasia terdalam pasangannya, memegang tangan, berpelukan, saling mencium, bahkan melakukan hubungan yang seharusnya hanya boleh dilakukan setelah akad. Mereka merasa sudah seperti suami istri. Padahal satu hal belum ada: akad. Mereka dekat, tetapi belum halal.
Inilah jebakan yang sering tidak disadari generasi muda. Kedekatan membuat hati merasa memiliki, sementara syariat belum memberikan hak untuk memiliki. Perasaan berkata, “Dia milikku.” Tetapi Allah belum mengatakan demikian.
Status di media sosial mungkin
mengatakan “taken”, tetapi di hadapan Allah belum ada ikatan pernikahan. Mereka
bisa saling memanggil “ayah” dan “ibu”, tetapi belum memiliki hak seorang suami
atau istri. Mereka bisa tinggal satu kontrakan, tetapi tetap bukan pasangan
yang halal. Kedekatan tidak otomatis
mengubah yang haram menjadi halal. Perasaan tidak menggantikan akad.
Allah tidak hanya berfirman,
“Jangan berzina.” Allah memberikan peringatan yang jauh lebih dalam: “Dan janganlah kamu mendekati zina.”
(QS. Al-Isra: 32). Perhatikan kata yang digunakan: jangan mendekati.
Artinya, Islam bukan hanya menjaga manusia dari perbuatan zina, tetapi juga
menjaga jalan-jalan yang dapat menyeret manusia ke sana. Hubungan tanpa batas,
khalwat, sentuhan, rayuan, percakapan seksual, saling mempertontonkan aurat,
hingga tinggal berdua adalah bagian dari pintu-pintu yang harus dijaga.
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Janganlah
seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang perempuan kecuali bersama
mahramnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Larangan ini bukan karena
Islam membenci cinta. Justru sebaliknya. Islam memahami bahwa manusia memiliki
hati, memiliki ketertarikan, memiliki dorongan seksual, dan dapat kehilangan
kendali ketika batas-batasnya dihancurkan sedikit demi sedikit. Islam tidak mematikan cinta; Islam menyelamatkan
cinta agar tidak berubah menjadi dosa dan kehancuran.
Dan lihatlah realitas dunia hari
ini. Penelitian ilmiah tentang teen dating violence menunjukkan bahwa
hubungan romantis pada usia remaja bukan perkara sepele. Tinjauan sistematis
yang diterbitkan dalam Pediatrics menemukan bahwa kekerasan dalam
hubungan pacaran remaja berkaitan dengan berbagai dampak jangka panjang,
termasuk masalah kesehatan mental dan fisik, perilaku berisiko, penggunaan zat,
serta kemungkinan mengalami kekerasan kembali dalam hubungan berikutnya.
WHO juga melaporkan bahwa lebih
dari satu dari lima perempuan usia
15–19 tahun yang pernah berpasangan telah mengalami kekerasan
fisik dan/atau seksual dari pasangan intim. Secara global, sekitar 31,6% perempuan—sekitar 840 juta perempuan dan anak
perempuan—pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual dari pasangan intim
atau kekerasan seksual non-pasangan sepanjang hidupnya. Ini
bukan berarti setiap pacaran pasti berakhir dengan kekerasan. Tetapi data
tersebut memperlihatkan sesuatu yang harus kita renungkan: relasi romantis yang tidak sehat dapat menjadi pintu
masuk bagi kontrol, manipulasi, kekerasan dan trauma.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah
ketika cinta berubah menjadi kepemilikan. “Kamu jangan berteman dengan dia.”
“Kirim lokasi sekarang.” “Kasih password-mu.” “Kalau kamu meninggalkan aku,
hidupku selesai.” “Kalau kamu menikah dengan orang lain, kamu akan menyesal.”
Kalimat-kalimat semacam ini sering dianggap sebagai tanda cinta, padahal bisa
menjadi tanda kontrol dan ketergantungan emosional. Penelitian tentang
kekerasan dalam hubungan remaja menunjukkan hubungan kuat antara kekerasan
pacaran dengan depresi, kecenderungan bunuh diri, PTSD, penggunaan zat, dan
gangguan psikologis lainnya.
Karena itu kita tidak boleh menutup mata terhadap berita tentang anak muda yang bertengkar hebat dengan pacarnya, kemudian melakukan kekerasan, melukai bahkan membunuh pasangannya, atau menyakiti dirinya sendiri setelah hubungan berakhir. Tidak benar jika semua kasus bunuh diri atau pembunuhan anak muda disederhanakan sebagai akibat pacaran. Ada banyak faktor psikologis, keluarga, sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Namun ilmu
pengetahuan menunjukkan bahwa kekerasan dalam relasi dan masalah kesehatan
mental memang dapat saling berkaitan dan meninggalkan dampak panjang. WHO
mencatat bahwa kekerasan pada anak dan remaja dapat berdampak pada perkembangan
otak, prestasi pendidikan, kesehatan mental, perilaku berisiko, hingga perilaku
menyakiti diri dan pikiran bunuh diri.
Maka wahai anak muda, jangan
tertipu oleh kalimat, “Kami serius
kok.” Kalau serius, mengapa tidak menuju pernikahan? Kalau
benar mencintai, mengapa membiarkan orang yang dicintai terus berada dalam
hubungan yang Allah tidak ridhai? Kalau benar ingin menjadikannya pasangan
hidup, mengapa harus menikmati seluruh “hak pasangan” sebelum akad?
Cinta yang benar tidak hanya
bertanya, “Apakah aku bahagia
bersamanya?” tetapi juga bertanya, “Apakah Allah ridha dengan cara kami mencintai?”
Jika belum mampu menikah, jagalah
jarak. Bukan karena perasaanmu tidak berharga, tetapi karena perasaanmu terlalu
berharga untuk dipertaruhkan dengan dosa. Fokuslah belajar. Bangun masa depan.
Perbaiki akhlak. Persiapkan pekerjaan. Persiapkan mental. Persiapkan ilmu rumah
tangga. Jika memang dia jodohmu, tempuh jalan yang Allah halalkan. Datanglah
melalui pintu keluarga. Lakukan proses yang terhormat. Kemudian akadkan cinta
itu.
Sebab ada perbedaan besar antara “aku ingin memilikimu” dan “aku ingin menjagamu karena Allah.”
Yang pertama bisa membuat seseorang menuntut. Yang kedua membuat seseorang
mampu menahan diri.
Boleh jadi hari ini kamu menangis
karena tidak bisa dekat dengannya. Tetapi percayalah, lebih baik menangis karena menjaga batas Allah
daripada menangis karena sebuah hubungan telah menghancurkan masa depanmu.
Lebih baik kehilangan pacar
daripada kehilangan kehormatan. Lebih baik menahan rindu daripada menanggung
dosa. Lebih baik tidak dipanggil “sayang” untuk sementara daripada dipanggil
“pendosa” di hadapan Allah.
Dan ingatlah: kita tidak dilarang mencintai. Kita hanya
diperintahkan mencintai dengan cara yang benar.
Karena cinta yang halal bukan
sekadar membuat dua manusia merasa dekat.
Cinta
yang halal membuat dua manusia semakin dekat kepada Allah.
Maka jika hari ini engkau
berkata, “Kita dekat, tapi tidak
halal,” mungkin itulah saatnya berhenti sejenak dan bertanya
kepada hati sendiri:
Apakah
aku benar-benar mencintainya, atau sebenarnya aku sedang mencintai apa yang
kurasakan ketika bersamanya?
Jika benar mencintainya, jangan terus ajak dia berjalan menuju dosa. Ajaklah dia berjalan menuju akad.[BA]

Posting Komentar untuk "Kita Dekat, Tapi Tidak Halal"