Dulu Saat Mondok Jilbab Lebar, Saat Kuliah Jadi Jilbab Gaul


PELITA MAJALENGKA
- Ada sebuah pemandangan yang sering membuat hati bertanya-tanya. Dulu ketika masih mondok, seorang akhwat begitu menjaga jilbabnya. Kainnya lebar, menutupi dada, longgar, sederhana, dan jauh dari keinginan mencari perhatian. Namun setelah memasuki dunia kuliah, perlahan semuanya berubah. 

Jilbab dipendekkan, diperkecil, dibuat lebih modis, lebih mengikuti tren, lebih menyesuaikan lingkungan. Yang dulu dianggap syariat, kini dianggap terlalu kuno. Yang dulu dibanggakan karena ketaatan, kini terasa memalukan karena takut disebut tidak gaul.

Fenomena ini bukan sekadar soal kain yang beberapa sentimeter lebih pendek. Ini adalah gambaran tentang pergeseran nilai yang terjadi secara perlahan dalam hati seorang muslimah. Setan memang tidak selalu mengajak manusia langsung meninggalkan agama. Ia cukup mengubah standar penilaian. Yang tadinya ukuran benar adalah Al-Qur'an dan Sunnah, perlahan bergeser menjadi ukuran tren, lingkungan, influencer, dan komentar manusia.

Allah Ta'ala berfirman, "Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." (QS. An-Nur: 31)

Dan Allah juga berfirman, "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." (QS. Al-Ahzab: 59)

Ayat-ayat ini turun bukan sekadar untuk dibaca atau dihafal. Ia adalah petunjuk kehidupan. Jilbab bukan hanya simbol identitas muslimah, tetapi bentuk ketaatan kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi.

Ironisnya, sebagian muslimah hari ini masih yakin ayat tersebut benar, tetapi kesadaran terhadap urgensinya mulai memudar. Mereka tidak menolak dalil, namun kalah oleh tekanan lingkungan. Mereka tidak mengingkari syariat, namun merasa berat ketika harus berbeda dari mayoritas. Akhirnya lahirlah berbagai model jilbab yang lebih dekat kepada tuntutan mode daripada tuntunan wahyu.

Di sinilah kita memahami bahwa menjalankan syariat tidak cukup hanya dengan mengetahui dalil. Banyak orang tahu, tetapi sedikit yang mampu istiqamah. Yang menjaga seseorang bukan sekadar ilmu, tetapi kekuatan iman, muraqabah kepada Allah, dan kesadaran bahwa hidup ini adalah ujian.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hati akan selalu ditarik oleh dua kekuatan: panggilan Allah dan panggilan hawa nafsu. Siapa yang terus mengikuti hawa nafsunya, lambat laun akan merasa asing terhadap ketaatan. Sebaliknya, siapa yang terus melawan hawa nafsunya karena Allah, maka Allah akan memudahkan jalan hidayah baginya.

Media sosial hari ini mempercepat perubahan itu. Setiap hari mata disuguhi model berpakaian baru. Influencer menjadi panutan. Standar kecantikan dibentuk oleh jumlah pengikut dan jumlah suka. Sedikit demi sedikit, hati menjadi terbiasa melihat sesuatu yang dahulu dianggap tidak sesuai syariat. Akhirnya rasa sensitif terhadap pelanggaran pun berkurang.

Padahal kemuliaan seorang muslimah tidak pernah diukur dari seberapa modern penampilannya. Kemuliaan di sisi Allah diukur dari ketakwaannya. Berapa banyak wanita yang sederhana pakaiannya tetapi mulia di langit. Dan berapa banyak yang dipuji manusia namun tidak memiliki nilai di hadapan Allah.

Para ulama salaf sangat memahami hal ini. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata, "Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam. Jika kami mencari kemuliaan dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kami."

Perkataan ini bukan hanya berlaku untuk urusan kepemimpinan. Ia juga berlaku dalam kehidupan pribadi seorang muslimah. Ketika kemuliaan dicari melalui tren, pujian manusia, dan standar dunia, maka yang diperoleh sering kali hanyalah kelelahan. Tetapi ketika kemuliaan dicari melalui ketaatan, hati akan menemukan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh apa pun.

Tulisan ini bukan untuk menghakimi para muslimah. Kita semua memiliki ujian masing-masing. Ada yang sedang berjuang memperbaiki shalatnya, ada yang berjuang menjaga lisannya, ada pula yang berjuang menjaga hijabnya. Yang diperlukan bukan saling merendahkan, melainkan saling mengingatkan dengan kasih sayang.

Jika hari ini ada yang merasa jilbabnya sudah jauh berubah dibanding masa-masa awal hijrahnya, jangan putus asa. Pintu taubat masih terbuka. Allah tidak melihat seberapa jauh seseorang pernah menyimpang, tetapi seberapa sungguh-sungguh ia kembali. Bisa jadi langkah kecil memperbaiki jilbab hari ini menjadi sebab turunnya keberkahan, ketenangan, dan penjagaan Allah dalam hidupnya.

Karena pada akhirnya, yang akan menemani kita di alam kubur bukan tren yang pernah kita ikuti, bukan pujian yang pernah kita kumpulkan, bukan pula jumlah pengikut di media sosial. Yang akan menemani adalah amal saleh dan ketaatan yang kita persembahkan kepada Allah.

Maka wahai saudariku, jangan biarkan standar dunia mengalahkan petunjuk langit. Jangan biarkan tren sesaat menghapus perjuangan panjang yang pernah dibangun. Tetaplah bangga dengan syariat. Sebab di tengah zaman yang semakin jauh dari agama, mempertahankan ketaatan adalah bentuk keberanian yang luar biasa. Dan boleh jadi, justru karena jilbab yang engkau pertahankan demi Allah, engkau akan dipertahankan oleh Allah hingga akhir hayat.[BA]

Posting Komentar untuk "Dulu Saat Mondok Jilbab Lebar, Saat Kuliah Jadi Jilbab Gaul"