PELITA MAJALENGKA - Ada jenis pelajaran yang tidak diajarkan lewat podium, tetapi justru tumbuh dari keseharian yang sederhana. Ia tidak hadir dengan sorotan, melainkan meresap perlahan melalui rutinitas yang diulang tanpa lelah. Justru pelajaran seperti inilah yang paling membekas, karena tidak hanya dipahami, tetapi dijalani.
Di Shuffah Samarinda, keterbatasan tidak menjadi alasan untuk berhenti,
melainkan berubah menjadi ruang tumbuh yang nyata. Tidak ada kemewahan yang
memanjakan, tidak ada fasilitas berlebih, namun dari situlah lahir sesuatu yang
jauh lebih bernilai: ketangguhan, keikhlasan, dan kesadaran untuk terus
beramal.
Kehidupan di sana berjalan dalam pola yang
tampak biasa. Hari-hari diisi dengan bangun, shalat, tilawah, menghadiri
majelis, dan menjaga adab. Semua berjalan berulang, tenang, dan nyaris tidak
terdengar. Namun di balik kesederhanaan itu, ada proses besar yang sedang
bekerja membentuk karakter.
Kekuatan sejati tidak lahir dari sesuatu yang instan, melainkan dari
kebiasaan kecil yang dijaga secara konsisten. Salah satu kebiasaan yang tampak
sederhana tetapi berdampak besar adalah kewajiban berinfak Rp50.000 setiap
bulan bagi setiap mahasiswa yang mukim. Nilainya mungkin kecil, tetapi di
situlah letak pendidikannya.
Mereka dilatih memberi sebelum merasa cukup, belajar melepaskan saat masih
membutuhkan, dan memahami makna itsar—mendahulukan orang lain di tengah
keterbatasan diri. Dari kebiasaan kecil inilah tumbuh jiwa-jiwa yang tidak
hanya memahami kebaikan, tetapi terbiasa melakukannya.
Keterbatasan yang ada tidak mematikan potensi,
justru mengarahkannya. Pengawasan yang terus berlangsung selama masa kuliah
membentuk kesungguhan dalam belajar dan melahirkan prestasi, baik akademik
maupun non-akademik. Hal ini mendorong banyak mahasiswa untuk melanjutkan
pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Di sisi lain, tempaan kehidupan yang tidak selalu mudah membentuk
kemandirian dan jiwa entrepreneur. Banyak di antara mereka yang kemudian mampu
berdiri di berbagai bidang usaha. Yang tak kalah penting, seluruh mahasiswa
menjalani pendidikan dengan dukungan beasiswa, sehingga beban biaya tidak
menjadi penghalang.
Energi mereka tidak habis untuk bertahan hidup, tetapi difokuskan untuk
bertumbuh dan berjuang. Dari sinilah fondasi kader yang kuat dibangun, bukan
hanya secara ilmu, tetapi juga secara mental dan spiritual.
Nilai-nilai yang ditanamkan selama masa
pendidikan tidak berhenti setelah kelulusan. Ia menjelma menjadi sikap hidup
yang nyata, yaitu sami’na wa atho’na—mendengar dan taat. Ketika panggilan untuk
mengabdi selama dua tahun datang, banyak yang menerimanya tanpa perhitungan
panjang. Mereka telah terbiasa untuk tidak menjadikan diri sebagai pusat
kehidupan.
Jejak
Nyata Kader: Afandi dan Fudoh
Salah satu potret nyata dari hasil pembinaan
ini dapat dilihat pada sosok Afandi. Kini ia telah menyandang gelar M.Pd dan
memilih mengabdikan diri di Shuffah Km 18 Balikpapan. Namun yang membuatnya
istimewa bukanlah gelarnya, melainkan perjalanan amalnya.
Semasa menjadi mahasiswa, ia dikenal sebagai salah satu yang paling banyak
mengangkut pasir menggunakan angkong untuk pembangunan asrama yang kelak ia dan
sahabat-sahabatnya tempati sendiri. Ia tidak menunggu fasilitas tersedia,
tetapi ikut membangunnya sejak awal. Amal seperti ini mungkin tidak banyak
terlihat, tetapi justru di situlah letak kejujurannya.
Istrinya, Fudoh, juga menunjukkan semangat
yang sama. Ia sedang menyelesaikan tesisnya, dan ketika ditanya tentang
cita-cita, ia menjawab ingin menjadi dosen tanpa meninggalkan Shuffah tempat
dimana ia bisa berbagi ilmu. Pilihan ini bukan karena keterbatasan, tetapi
karena telah tumbuh rasa cinta terhadap perjuangan yang telah membesarkan
mereka.
Kisah mereka bukan sekadar cerita inspiratif, melainkan bukti bahwa
pembiasaan yang konsisten mampu melahirkan kader yang memiliki arah hidup yang
jelas dan komitmen yang kuat.
Namun di luar sana, realitas sering berbeda.
Tidak semua lingkungan mampu memberikan ruang seperti yang ada di Shuffah.
Ketika seseorang datang membawa gagasan dan semangat perubahan, yang ia temui
justru sering kali penolakan halus. Kalimat seperti “itu terlalu tinggi, kita
belum sampai ke sana” terdengar sederhana, tetapi bisa memadamkan semangat.
Sering kali bukan karena gagasannya yang terlalu tinggi, melainkan karena
hati yang belum siap menerima. Bahkan tidak jarang, penilaian terhadap gagasan
dipengaruhi oleh perasaan terhadap orang yang membawanya. Di sinilah ukhuwah
benar-benar diuji, bukan dalam kenyamanan kebersamaan, tetapi dalam kesiapan
menerima kebaikan dari siapa pun datangnya.
Shuffah Samarinda mengajarkan bahwa kaderisasi
bukan hanya tentang membentuk individu yang kuat, tetapi juga tentang
menciptakan lingkungan yang memberi ruang. Ruang untuk belajar, ruang untuk
melakukan kesalahan, ruang untuk tumbuh, dan ruang untuk beramal. Tanpa ruang
itu, banyak potensi kebaikan akan terhenti sebelum berkembang.
Bahkan lebih mengkhawatirkan, seseorang bisa memilih diam bukan karena tidak
memiliki gagasan, tetapi karena merasa tidak lagi memiliki tempat. Ketika itu
terjadi, kita mungkin tidak sadar bahwa kita sedang menutup pintu kebaikan yang
seharusnya bisa membawa manfaat bersama.
Dari semua ini, ada pelajaran besar yang
seharusnya tidak berhenti sebagai sekadar cerita. Model pembinaan seperti ini
bukan sesuatu yang mustahil untuk dihadirkan di tempat lain. Ia bisa
ditumbuhkan, diperjuangkan, dan direplikasi selama ada kesungguhan.
Membiasakan amal meski kecil, meringankan beban pendidikan, menjaga
pengawasan yang terarah, serta membuka ruang seluas-luasnya bagi setiap
kebaikan adalah langkah-langkah nyata yang bisa dimulai.
Pada
akhirnya, yang menentukan bukanlah besar kecilnya fasilitas, tetapi kesungguhan
dalam menjaga nilai. Dari hal kecil yang konsisten, lahir keikhlasan. Dari
rutinitas sederhana, tumbuh keteguhan. Dari satu kesempatan yang diberikan,
lahir perubahan besar.
Sosok seperti Afandi dan Fudoh bukanlah sesuatu yang langka, melainkan hasil
dari proses yang bisa diulang. Selama hati tidak dipersempit dan ruang tidak
dibatasi, maka peluang untuk melahirkan kader-kader serupa akan selalu terbuka.(BA)

Posting Komentar untuk " Dari Keterbatasan Menuju Ketangguhan — Pelajaran Sunyi dari Shuffah Samarinda tentang Memberi, Taat, dan Membuka Ruang"