Pemuda Harus Berperan Bukan Baperan


PELITA MAJALENGKA
- Pemuda itu bukan sekadar fase umur, tapi fase penentuan arah hidup. Di masa inilah tenaga sedang kuat, pikiran sedang tajam, dan peluang terbuka luas. Namun ironisnya, di zaman hari ini, tidak sedikit pemuda yang justru terjebak dalam zona nyaman yang menipu. Rebahan jadi kebiasaan, scroll tanpa tujuan jadi rutinitas, dan baper jadi respon utama dalam menghadapi realitas. Sedikit kritik terasa menyakitkan, sedikit ujian terasa menghancurkan. Padahal hidup tidak pernah menjanjikan kenyamanan, tapi menjanjikan peluang bagi yang mau berjuang.

Kalimat “jangan baperan” bukan berarti mematikan perasaan, tapi menguatkan jiwa. Karena pemuda yang besar bukan yang tidak pernah sakit hati, tapi yang mampu mengelola rasa dan tetap melangkah. Dunia ini tidak butuh pemuda yang mudah tersinggung, tapi butuh pemuda yang tangguh, yang tetap berdiri meski diremehkan, tetap bergerak meski tidak diapresiasi.

Lihatlah bagaimana pemuda di zaman Rasulullah . Mereka bukan generasi rebahan, tapi generasi pergerakan. Mereka tidak sibuk mencari validasi, tapi sibuk memperbaiki diri dan memberi manfaat. Ada seorang pemuda bernama Ali bin Abi Thalib. Di usia yang sangat muda, ia sudah mengorbankan nyawanya dengan tidur di tempat Rasulullah saat hijrah, menggantikan posisi beliau yang sedang diincar untuk dibunuh. Itu bukan perkara ringan. Itu keberanian luar biasa. Tidak ada ruang baper di sana, yang ada hanyalah keimanan dan keteguhan.

Lalu ada Mus’ab bin Umair, pemuda tampan dari keluarga kaya di Mekkah. Hidupnya penuh kemewahan sebelum Islam datang. Tapi ketika ia mengenal kebenaran, ia tinggalkan semua kenyamanan itu. Ia rela hidup sederhana, bahkan sampai tidak memiliki kain kafan yang cukup saat wafatnya. Tapi dari tangannya, Islam menyebar di Madinah. Ia bukan hanya belajar, tapi mengajarkan. Ia bukan hanya paham, tapi mengamalkan.

Bandingkan dengan sebagian realitas pemuda hari ini. Sedikit sulit, mengeluh. Sedikit gagal, menyerah. Waktu lebih banyak habis untuk hal yang tidak memberi nilai. Padahal potensi itu ada, tapi terkubur oleh rasa malas dan mental yang rapuh. Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak mau bangkit.

Menjadi pemuda yang berperan itu bukan harus langsung melakukan hal besar. Tapi dimulai dari hal kecil yang konsisten. Bangun lebih awal, menjaga shalat, menuntut ilmu dengan serius, membantu orang tua, aktif dalam kegiatan yang bermanfaat. Itu semua adalah langkah nyata. Masalahnya, banyak yang ingin terlihat hebat, tapi tidak mau memulai dari yang sederhana.

Rasulullah pernah bersabda bahwa manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah standar yang jelas. Bukan seberapa banyak kita mengeluh, tapi seberapa banyak kita memberi. Bukan seberapa sering kita tersinggung, tapi seberapa kuat kita bertahan dan terus bergerak.

Pemuda hari ini harus jujur melihat diri. Apakah waktu yang ada sudah dimanfaatkan? Apakah ilmu benar-benar dicari atau hanya sekadar lewat di layar? Apakah hati lebih sering mengingat Allah atau sibuk dengan dunia yang fana? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena hidup tidak akan berubah kalau kita tidak berani mengevaluasi diri.

Berhenti jadi penonton dalam hidup sendiri. Jangan habiskan masa muda hanya untuk hal yang tidak akan kita banggakan di masa tua. Karena waktu tidak akan kembali. Kesempatan tidak datang dua kali. Dan penyesalan selalu datang belakangan.

Pemuda itu harus berperan. Karena masa depan umat ada di tangan mereka. Kalau hari ini pemudanya lemah, maka jangan heran jika masa depan juga rapuh. Tapi kalau pemudanya kuat, berilmu, dan beramal, maka harapan itu akan selalu ada.

Jadi, bangkitlah. Kurangi rebahan yang tidak perlu. Kuatkan hati dari rasa baper yang melemahkan. Isi hari dengan amal dan ilmu. Karena sejatinya, pemuda yang hebat bukan yang paling banyak bicara, tapi yang paling nyata karyanya.[BA]

 

Posting Komentar untuk " Pemuda Harus Berperan Bukan Baperan"