Tim Ukhuwah yang Kehilangan Hangatnya Ukhuwah


PELITA MAJALENGKA
- Di tengah hiruk-pikuk kegiatan umat, selalu ada orang-orang yang setia hadir. Mereka datang lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka menguatkan yang lemah, menyatukan yang retak, dan menenangkan yang gelisah. Mereka adalah tim ukhuwah, orang-orang yang terlihat kuat, hangat, dan selalu siap kapan saja dibutuhkan.

Namun di balik semua itu, ada satu sisi yang jarang kita lihat. Mereka yang tampak kuat, tidak selalu benar-benar kuat. Mereka yang selalu tersenyum, tidak selalu sedang baik-baik saja. Mereka yang menguatkan banyak orang, kadang justru pulang dengan hati yang lelah dan sunyi.

Realitas ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini hanya ajakan untuk melihat dengan lebih jujur. Bahwa orang-orang yang mengurus ukhuwah, juga butuh diukhuwahi. Mereka bukan mesin kebaikan tanpa rasa. Mereka manusia, seperti kita semua, yang juga punya batas, punya lelah, dan punya kebutuhan.

Sering kali kita terlalu mudah mengandalkan mereka. Ketika ada masalah, kita mencari mereka. Ketika ada konflik, kita memanggil mereka. Ketika ada kebutuhan, kita berharap mereka hadir. Tapi jarang sekali kita berhenti sejenak untuk bertanya, bagaimana keadaan mereka sebenarnya.

Ada yang siang malam mengurus umat, tapi kondisi ekonominya sederhana. Ada yang sibuk membantu orang lain, tapi keluarganya sendiri menunggu perhatian. Ada yang menjadi tempat curhat banyak orang, tapi dirinya sendiri tidak punya tempat untuk bercerita. Semua itu nyata, hanya saja sering tersembunyi.

Allah sudah mengingatkan bahwa sesama orang beriman itu bersaudara dalam QS. Al-Hujurat ayat 10. Persaudaraan itu bukan sekadar konsep besar yang dibicarakan di mimbar. Ia harus terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada orang-orang yang paling dekat dengan kita.

Jika ukhuwah hanya hidup dalam program dan agenda, maka ia akan mudah kering. Tapi jika ukhuwah hidup dalam perhatian dan kepedulian, maka ia akan tetap hangat meski dalam kesibukan. Sayangnya, kita sering sibuk mengurus yang jauh, tapi lupa menjaga yang dekat.

Umar bin Khattab pernah mengingatkan untuk menghisab diri sebelum dihisab. Mungkin salah satu yang perlu kita hisab adalah cara kita memperlakukan orang-orang yang selama ini banyak memberi. Sudahkah kita benar-benar memperhatikan mereka, atau hanya memanfaatkan kehadiran mereka.

Hasan al-Basri mengatakan bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Jika kita benar-benar menjadi cermin, kita tidak hanya melihat kebaikan mereka, tapi juga menangkap kelelahan yang mereka sembunyikan.

Rasulullah juga menggambarkan kaum mukmin seperti satu tubuh dalam hadits riwayat Sahih Muslim. Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan. Tapi bagaimana jika yang sakit adalah bagian yang selama ini kita anggap paling kuat. Apakah kita masih peka, atau justru mengabaikannya.

Sering kali kita mengira mereka baik-baik saja. Kita berpikir mereka sudah terbiasa. Kita merasa mereka pasti mampu. Padahal bisa jadi, mereka hanya bertahan, bukan benar-benar kuat. Mereka hanya diam, bukan karena tidak butuh, tapi karena tidak ingin merepotkan.

Di sinilah ukhuwah diuji dengan sebenarnya. Bukan pada kata-kata, tapi pada kepekaan. Bukan pada banyaknya aktivitas, tapi pada kedalaman rasa. Ukhuwah yang sejati tidak menunggu diminta, tapi hadir sebelum diminta.

Bayangkan jika tim ukhuwah itu juga diukhuwahi. Mereka tidak hanya diberi amanah, tapi juga diberi perhatian. Mereka tidak hanya diminta hadir, tapi juga didatangi tanpa alasan. Mereka tidak hanya dipuji, tapi juga dipahami.

Tidak perlu sesuatu yang besar untuk memulai. Kadang cukup dengan menyapa lebih dulu. Kadang cukup dengan bertanya kabar dengan tulus. Kadang cukup dengan hadir di rumahnya, melihat keadaannya, dan memastikan keluarganya dalam kondisi baik.

Hal-hal sederhana seperti itu bisa menjadi sangat berarti. Karena yang mereka butuhkan bukan sekadar pengakuan, tapi kepedulian yang nyata. Mereka tidak butuh dianggap hebat, tapi ingin dirasakan sebagai saudara.

Ukhuwah tidak akan bertahan jika hanya berjalan satu arah. Jika hanya ada yang memberi tanpa pernah menerima, maka lambat laun akan ada kelelahan yang menumpuk. Dan jika itu dibiarkan, maka hangatnya ukhuwah perlahan akan memudar.

Tulisan ini bukan ajakan untuk berhenti berbuat. Bukan juga untuk mengurangi amanah. Tapi ajakan untuk menyeimbangkan. Agar dalam kesibukan mengurus umat, kita tidak kehilangan rasa dalam lingkaran terdekat.

Karena bisa jadi, kekuatan besar yang kita banggakan selama ini berdiri di atas pundak orang-orang yang diam-diam lelah. Dan bisa jadi, jika mereka tidak lagi kuat, maka banyak hal yang ikut goyah.

Mereka yang selama ini selalu ada untuk orang lain, juga butuh ditemani. Mereka yang menguatkan banyak hati, juga butuh dikuatkan. Mereka yang tampak kokoh, juga butuh tempat bersandar.

Maka sebelum kita terlalu jauh mencari siapa yang harus kita bantu, lihatlah dulu di sekitar kita. Perhatikan lebih dalam. Rasakan lebih jujur. Karena bisa jadi, orang yang paling dekat dengan kita adalah yang paling membutuhkan perhatian kita.

Ukhuwah bukan tentang siapa yang paling banyak berkorban. Tapi tentang siapa yang tidak membiarkan saudaranya berjalan sendirian. Dan jika hari ini kita mulai menyadari itu, mungkin kita akan lebih lembut dalam bersikap, lebih peka dalam melihat, dan lebih tulus dalam menjaga.

Karena pada akhirnya, mereka tidak pernah meminta untuk dimengerti. Tapi jika kita benar-benar bersaudara, seharusnya kita tidak perlu menunggu mereka meminta.

Dan mungkin, di saat kita mulai peduli pada mereka yang selama ini menguatkan kita, di situlah ukhuwah kembali menemukan hangatnya. Bukan karena besar programnya, tapi karena hidup rasanya.

Dan saat itu terjadi, kita akan sadar bahwa menjaga mereka… sama pentingnya dengan menjaga umat itu sendiri.[BA]

Posting Komentar untuk " Tim Ukhuwah yang Kehilangan Hangatnya Ukhuwah"