PELITA MAJALENGKA - Di tengah hiruk-pikuk kegiatan umat, selalu ada orang-orang yang setia hadir. Mereka datang lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka menguatkan yang lemah, menyatukan yang retak, dan menenangkan yang gelisah. Mereka adalah tim ukhuwah, orang-orang yang terlihat kuat, hangat, dan selalu siap kapan saja dibutuhkan.
Namun di balik
semua itu, ada satu sisi yang jarang kita lihat. Mereka yang tampak kuat, tidak
selalu benar-benar kuat. Mereka yang selalu tersenyum, tidak selalu sedang
baik-baik saja. Mereka yang menguatkan banyak orang, kadang justru pulang
dengan hati yang lelah dan sunyi.
Realitas ini
bukan untuk menyalahkan siapa pun. Ini hanya ajakan untuk melihat dengan lebih
jujur. Bahwa orang-orang yang mengurus ukhuwah, juga butuh diukhuwahi. Mereka
bukan mesin kebaikan tanpa rasa. Mereka manusia, seperti kita semua, yang juga
punya batas, punya lelah, dan punya kebutuhan.
Sering kali
kita terlalu mudah mengandalkan mereka. Ketika ada masalah, kita mencari
mereka. Ketika ada konflik, kita memanggil mereka. Ketika ada kebutuhan, kita
berharap mereka hadir. Tapi jarang sekali kita berhenti sejenak untuk bertanya,
bagaimana keadaan mereka sebenarnya.
Ada yang siang
malam mengurus umat, tapi kondisi ekonominya sederhana. Ada yang sibuk membantu
orang lain, tapi keluarganya sendiri menunggu perhatian. Ada yang menjadi
tempat curhat banyak orang, tapi dirinya sendiri tidak punya tempat untuk
bercerita. Semua itu nyata, hanya saja sering tersembunyi.
Allah sudah
mengingatkan bahwa sesama orang beriman itu bersaudara dalam QS. Al-Hujurat
ayat 10. Persaudaraan itu bukan sekadar konsep besar yang dibicarakan di
mimbar. Ia harus terasa dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada orang-orang
yang paling dekat dengan kita.
Jika ukhuwah
hanya hidup dalam program dan agenda, maka ia akan mudah kering. Tapi jika
ukhuwah hidup dalam perhatian dan kepedulian, maka ia akan tetap hangat meski
dalam kesibukan. Sayangnya, kita sering sibuk mengurus yang jauh, tapi lupa
menjaga yang dekat.
Umar bin
Khattab pernah mengingatkan untuk menghisab diri sebelum dihisab. Mungkin salah
satu yang perlu kita hisab adalah cara kita memperlakukan orang-orang yang
selama ini banyak memberi. Sudahkah kita benar-benar memperhatikan mereka, atau
hanya memanfaatkan kehadiran mereka.
Hasan al-Basri
mengatakan bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Jika kita
benar-benar menjadi cermin, kita tidak hanya melihat kebaikan mereka, tapi juga
menangkap kelelahan yang mereka sembunyikan.
Rasulullah ﷺ juga
menggambarkan kaum mukmin seperti satu tubuh dalam hadits riwayat Sahih Muslim.
Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan. Tapi bagaimana jika yang
sakit adalah bagian yang selama ini kita anggap paling kuat. Apakah kita masih
peka, atau justru mengabaikannya.
Sering kali
kita mengira mereka baik-baik saja. Kita berpikir mereka sudah terbiasa. Kita
merasa mereka pasti mampu. Padahal bisa jadi, mereka hanya bertahan, bukan
benar-benar kuat. Mereka hanya diam, bukan karena tidak butuh, tapi karena
tidak ingin merepotkan.
Di sinilah
ukhuwah diuji dengan sebenarnya. Bukan pada kata-kata, tapi pada kepekaan.
Bukan pada banyaknya aktivitas, tapi pada kedalaman rasa. Ukhuwah yang sejati
tidak menunggu diminta, tapi hadir sebelum diminta.
Bayangkan jika
tim ukhuwah itu juga diukhuwahi. Mereka tidak hanya diberi amanah, tapi juga
diberi perhatian. Mereka tidak hanya diminta hadir, tapi juga didatangi tanpa
alasan. Mereka tidak hanya dipuji, tapi juga dipahami.
Tidak perlu
sesuatu yang besar untuk memulai. Kadang cukup dengan menyapa lebih dulu. Kadang
cukup dengan bertanya kabar dengan tulus. Kadang cukup dengan hadir di
rumahnya, melihat keadaannya, dan memastikan keluarganya dalam kondisi baik.
Hal-hal
sederhana seperti itu bisa menjadi sangat berarti. Karena yang mereka butuhkan
bukan sekadar pengakuan, tapi kepedulian yang nyata. Mereka tidak butuh
dianggap hebat, tapi ingin dirasakan sebagai saudara.
Ukhuwah tidak
akan bertahan jika hanya berjalan satu arah. Jika hanya ada yang memberi tanpa
pernah menerima, maka lambat laun akan ada kelelahan yang menumpuk. Dan jika
itu dibiarkan, maka hangatnya ukhuwah perlahan akan memudar.
Tulisan ini
bukan ajakan untuk berhenti berbuat. Bukan juga untuk mengurangi amanah. Tapi
ajakan untuk menyeimbangkan. Agar dalam kesibukan mengurus umat, kita tidak
kehilangan rasa dalam lingkaran terdekat.
Karena bisa
jadi, kekuatan besar yang kita banggakan selama ini berdiri di atas pundak
orang-orang yang diam-diam lelah. Dan bisa jadi, jika mereka tidak lagi kuat,
maka banyak hal yang ikut goyah.
Mereka yang
selama ini selalu ada untuk orang lain, juga butuh ditemani. Mereka yang
menguatkan banyak hati, juga butuh dikuatkan. Mereka yang tampak kokoh, juga
butuh tempat bersandar.
Maka sebelum
kita terlalu jauh mencari siapa yang harus kita bantu, lihatlah dulu di sekitar
kita. Perhatikan lebih dalam. Rasakan lebih jujur. Karena bisa jadi, orang yang
paling dekat dengan kita adalah yang paling membutuhkan perhatian kita.
Ukhuwah bukan
tentang siapa yang paling banyak berkorban. Tapi tentang siapa yang tidak
membiarkan saudaranya berjalan sendirian. Dan jika hari ini kita mulai
menyadari itu, mungkin kita akan lebih lembut dalam bersikap, lebih peka dalam
melihat, dan lebih tulus dalam menjaga.
Karena pada
akhirnya, mereka tidak pernah meminta untuk dimengerti. Tapi jika kita
benar-benar bersaudara, seharusnya kita tidak perlu menunggu mereka meminta.
Dan mungkin, di
saat kita mulai peduli pada mereka yang selama ini menguatkan kita, di situlah
ukhuwah kembali menemukan hangatnya. Bukan karena besar programnya, tapi karena
hidup rasanya.
Dan saat itu terjadi, kita akan sadar bahwa menjaga mereka… sama pentingnya dengan menjaga umat itu sendiri.[BA]

Posting Komentar untuk " Tim Ukhuwah yang Kehilangan Hangatnya Ukhuwah"