PELITA MAJALENGKA - Di zaman hari ini, banyak orang begitu sibuk menjaga penampilan luar. Sibuk menjaga nama baik, menjaga citra, menjaga komentar manusia, menjaga agar terlihat alim, terlihat bijak, terlihat dermawan, terlihat paling ikhlas. Senyum di depan manusia dibuat semanis mungkin, tetapi hati di hadapan Allah justru penuh luka yang dibiarkan membusuk. Kita takut kehilangan penghormatan manusia, tapi tidak takut kehilangan pandangan rahmat dari Allah. Kita gelisah jika dicap buruk oleh manusia, namun tenang-tenang saja ketika hati mulai kotor oleh riya, hasad, ujub, dan cinta dunia.
Padahal, yang pertama kali Allah lihat bukan wajah kita, bukan pakaian kita, bukan jabatan kita, bukan banyaknya pengikut kita. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian. Hati adalah pusat kehidupan. Jika hati baik, seluruh hidup ikut baik. Jika hati rusak, amal yang tampak megah pun bisa menjadi kosong di sisi Allah.
Hari ini ada orang yang rajin tampil shalih di depan umum, tetapi kasar kepada keluarganya. Ada yang pandai berbicara tentang ukhuwah, tetapi diam-diam suka menjatuhkan saudaranya. Ada yang terlihat aktif berdakwah, tetapi sulit menerima nasihat. Ada yang sibuk memperlihatkan amalnya, namun lupa memperbaiki niatnya. Semua ingin terlihat bercahaya di mata manusia, tetapi lupa menyalakan cahaya di dalam hati sendiri.
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Hati itu bisa berkarat sebagaimana besi berkarat.” Dan karat hati itu bukan hanya karena maksiat besar. Kadang ia muncul dari dosa-dosa yang dianggap kecil: senang dipuji, haus pengakuan, iri melihat orang lain lebih dicintai, sulit ikhlas ketika tidak diperhatikan. Penyakit hati sering tumbuh diam-diam. Tidak terlihat manusia, tetapi sangat jelas di sisi Allah.
Betapa banyak orang yang terlihat baik di luar, tetapi hidupnya gelisah. Mengapa? Karena yang dirawat hanya image, bukan hati. Image hanya untuk dilihat manusia. Sedangkan hati menentukan hubungan kita dengan Allah. Maka jangan heran jika ada orang yang semakin terkenal tetapi semakin kosong. Semakin dipuji tetapi semakin mudah marah. Semakin dihormati tetapi semakin sulit menangis dalam doa. Sebab pujian manusia tidak pernah bisa menghidupkan hati yang mati.
Ulama salaf dahulu sangat takut pada penyakit hati. Mereka lebih khawatir terhadap riya daripada fitnah dunia. Sufyan Ats-Tsauri pernah berkata, “Tidak ada sesuatu yang lebih sulit aku obati selain niatku, karena niat selalu berubah-ubah.” Mereka menangis bukan karena kehilangan popularitas, tetapi karena takut amal mereka tidak diterima Allah. Mereka tidak sibuk membangun pencitraan, tetapi sibuk memeriksa keikhlasan.
Hari ini manusia mudah sekali membangun kesan. Dengan satu foto, orang terlihat dermawan. Dengan satu tulisan, orang terlihat bijaksana. Dengan satu ceramah, orang terlihat alim. Tetapi Allah tahu isi hati yang sebenarnya. Allah tahu apakah kita sedang mencari ridha-Nya atau hanya mencari tepuk tangan manusia. Di hadapan manusia kita mungkin bisa berpura-pura rendah hati, tetapi di hadapan Allah semua rahasia terbuka.
Al-Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Jangan tertipu oleh orang yang banyak menangis dan khusyuk, sampai engkau melihat bagaimana ia menjaga dirinya ketika sendirian.” Sebab ukuran keimanan bukan hanya apa yang tampak di depan manusia. Ukuran keimanan terlihat saat tidak ada yang memuji, tidak ada yang melihat, tidak ada kamera, tidak ada sanjungan, tetapi hati tetap takut kepada Allah.
Kadang kita terlalu lelah menjadi “baik di mata manusia.” Padahal manusia sendiri tidak pernah benar-benar puas. Hari ini dipuji, besok dicela. Hari ini dibela, besok dilupakan. Maka hidup untuk penilaian manusia adalah kelelahan yang tidak ada ujungnya. Orang yang mengejar pujian manusia akan hidup dalam kecemasan. Takut tidak dianggap, takut tidak dihormati, takut kehilangan perhatian. Hatinya capek, karena sandarannya salah.
Sedangkan orang yang sibuk menjaga hati akan lebih tenang. Ia tidak terlalu haus validasi. Ia tidak terlalu marah ketika diremehkan. Ia tidak terlalu bangga ketika dipuji. Karena yang ia cari adalah ridha Allah, bukan tepuk tangan manusia. Ia sadar bahwa hati yang bersih lebih mahal daripada citra yang indah.
Abdullah bin Mubarak pernah berkata, “Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat.” Kalimat ini menusuk sekali. Bisa jadi yang membuat amal kita ringan di sisi Allah bukan kurangnya aktivitas, tetapi rusaknya hati saat beramal. Kita ingin dipandang. Kita ingin disebut. Kita ingin dianggap berjasa. Akhirnya amal yang terlihat besar menjadi kosong nilainya.
Karena itu, sebelum sibuk memperbaiki penampilan luar, perbaikilah hati. Sebelum sibuk terlihat shalih, sibukkan diri menjadi hamba yang ikhlas. Menangislah ketika hati mulai keras. Takutlah ketika lebih bahagia dipuji manusia daripada dipuji Allah. Curigailah diri sendiri ketika lebih sibuk menjaga nama baik daripada menjaga dosa-dosa tersembunyi.
Jangan sampai suatu hari manusia mengenang kita sebagai orang baik, tetapi langit mengenal kita sebagai hamba yang penuh riya. Jangan sampai mulut kita mengajak manusia kepada Allah, tetapi hati kita justru jauh dari Allah. Sebab yang akan menyelamatkan kita di akhirat bukan image, bukan popularitas, bukan banyaknya pengikut. Yang menyelamatkan adalah hati yang bersih.
Allah berfirman bahwa pada hari kiamat nanti, harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Maka jagalah hati sebelum menjaga image. Karena manusia hanya melihat beberapa detik dari hidup kita, sedangkan Allah melihat seluruh isi hati kita tanpa ada yang tersembunyi sedikit pun.[BA]

Posting Komentar untuk "Sibuk Menjaga Image, Lupa Menjaga Hati"