Saat Tarbiyah Jadi Ladang Bisnis


PELITA MAJALENGKA - 
Di tengah harapan umat yang ingin melihat lahirnya generasi Qur’ani, realitas hari ini justru menghadirkan ironi yang menyesakkan dada. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dahulu dibangun dengan semangat pengorbanan dan keikhlasan, kini perlahan berubah wajah. Ia tak lagi sekadar menjadi tempat menanam iman dan ilmu, tapi mulai bergeser menjadi ladang bisnis yang menjanjikan keuntungan. Di balik nama “tarbiyah”, terselip angka-angka biaya yang membuat banyak orang tua terdiam, bahkan menyerah sebelum mencoba.

Betapa banyak orang tua yang hatinya terbakar keinginan untuk memasukkan anaknya ke pesantren, berharap anaknya dekat dengan Al-Qur’an, berakhlak mulia, dan tumbuh dalam lingkungan yang menjaga iman. Namun harapan itu sering kali kandas ketika mendengar biaya masuk yang mencapai jutaan hingga belasan juta rupiah. Belum lagi biaya bulanan yang tak kalah besar. Air mata pun jatuh diam-diam. Bukan karena mereka tak peduli pendidikan, tapi karena keadaan yang memaksa mereka mundur.

Padahal, jika kita menengok kembali pada misi agung Islam, pendidikan bukanlah komoditas yang diperjualbelikan. Rasulullah ﷺ diutus bukan untuk memungut bayaran dari umatnya, melainkan untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Beliau mendidik para sahabat dengan penuh cinta, tanpa membedakan kaya atau miskin. Bahkan, orang-orang lemah dan fakir justru mendapat perhatian lebih. Mereka didudukkan di majelis ilmu, dimuliakan, dan dijadikan bagian penting dari dakwah.

Lihatlah bagaimana para sahabat belajar di serambi masjid, dalam kesederhanaan yang nyaris tanpa fasilitas. Namun dari tempat sederhana itulah lahir generasi terbaik sepanjang sejarah. Mereka tidak membayar mahal untuk belajar Al-Qur’an, tapi mereka membayar dengan keikhlasan, kesungguhan, dan pengorbanan jiwa. Ilmu tidak dijadikan alat untuk memperkaya diri, tapi menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mengangkat derajat umat.

Kini, kita dihadapkan pada pertanyaan yang sangat mendasar: untuk apa lembaga pendidikan Islam didirikan? Apakah untuk mencetak generasi bertakwa, ataukah untuk menciptakan sistem yang hanya bisa diakses oleh kalangan tertentu? Jika pendidikan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang mampu, maka ke mana perginya ruh keadilan dalam Islam? Bukankah Islam datang untuk merangkul semua, terutama mereka yang lemah?

Memang benar, lembaga pendidikan membutuhkan biaya untuk operasional, pembangunan, dan kesejahteraan para pengajar. Itu tidak bisa dipungkiri. Namun ketika biaya menjadi penghalang utama bagi umat untuk mendapatkan pendidikan, di situlah kita harus berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini masih dalam koridor dakwah, atau sudah bergeser menjadi bisnis yang dibungkus dengan label agama?

Lebih menyedihkan lagi, ketika lembaga-lembaga tahfidz Al-Qur’an—yang seharusnya menjadi cahaya bagi umat—justru memasang tarif tinggi untuk “menghafalkan Kalamullah”. Seakan-akan Al-Qur’an hanya bisa dekat dengan mereka yang mampu membayar. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tapi persoalan hati dan niat. Karena ketika niat mulai bergeser, keberkahan pun perlahan akan pergi.

Umat ini tidak kekurangan orang baik. Banyak dermawan yang siap membantu jika ada sistem yang jujur dan amanah. Banyak juga orang tua yang siap berkorban, asalkan mereka merasa diperlakukan dengan adil. Yang dibutuhkan bukan sekadar lembaga yang megah, tapi lembaga yang punya hati. Yang memahami bahwa di luar sana ada anak-anak yang ingin belajar, tapi tertahan oleh keadaan.

Sudah saatnya kita mengembalikan ruh tarbiyah kepada tujuan awalnya: membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, mencintai agamanya, dan bermanfaat bagi sesama. Pendidikan Islam harus kembali menjadi jalan rahmat, bukan jalan yang menyulitkan. Harus menjadi jembatan, bukan tembok penghalang.

Karena pada akhirnya, yang akan ditanya bukan seberapa besar lembaga itu berkembang, tapi seberapa banyak jiwa yang terselamatkan. Bukan seberapa tinggi gedungnya berdiri, tapi seberapa dalam keikhlasan yang mengalir di dalamnya. Dan di hadapan Allah kelak, semua akan dipertanggungjawabkan—apakah tarbiyah ini benar-benar untuk umat, atau hanya untuk dunia yang sementara.[BA]