PELITA MAJALENGKA - Di tengah arus zaman yang bergerak begitu cepat, manusia semakin dimanjakan oleh teknologi, namun diam-diam semakin rapuh dalam makna hidup. Dunia terasa dekat di genggaman, tetapi hati terasa jauh dari ketenangan. Di sinilah konsep Jama’ah menjadi cahaya yang sering terlupakan. Islam tidak mengajarkan kehidupan individualistik, melainkan kehidupan yang terikat dalam kebersamaan yang terarah, terpimpin, dan penuh tanggung jawab di bawah kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Wajib atas kalian untuk berjama’ah, dan jauhilah perpecahan.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini bukan sekadar anjuran sosial, melainkan prinsip hidup. Jama’ah adalah benteng dari kesesatan, tempat iman dijaga, dan wadah untuk saling menguatkan. Di zaman ketika manusia mudah terseret opini dan hawa nafsu, Jama’ah menjadi penopang agar seseorang tetap lurus di atas jalan Allah.
Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya Jama’ah. Abdullah bin Mas'ud berkata, “Al-Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebenaran, walaupun engkau sendirian.” Ini menunjukkan bahwa Jama’ah bukan sekadar kumpulan manusia, tetapi kesatuan di atas manhaj yang benar. Sedangkan Imam Nawawi menjelaskan bahwa Jama’ah adalah kaum Muslimin yang bersatu di bawah kepemimpinan yang sah dan tidak keluar darinya selama bukan dalam maksiat.
Namun tantangan zaman hari ini berbeda. Individualisme dipuja, kebebasan tanpa batas diagungkan, dan ketaatan sering dianggap sebagai keterbelakangan. Media sosial menciptakan “jama’ah semu”—banyak pengikut, tetapi tanpa ikatan iman, tanpa adab, tanpa arah. Di sinilah ujian besar: apakah kita tetap berpegang pada Jama’ah yang haq atau hanyut dalam arus popularitas yang fana?
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali Imran: 103). Ayat ini bukan hanya perintah untuk bersatu, tetapi juga peringatan bahwa perpecahan adalah pintu kelemahan. Kemajuan zaman tanpa Jama’ah hanya melahirkan manusia pintar tapi tercerai-berai, cerdas tapi kehilangan arah, kuat secara materi tapi lemah secara ruhani.
Imam Al-Auza'i pernah berpesan, “Bersabarlah engkau di atas sunnah, berhentilah di tempat kaum itu berhenti, katakanlah apa yang mereka katakan, dan tahanlah dirimu dari apa yang mereka tahan.” Ini adalah resep menghadapi zaman: tetap bersama Jama’ah yang mengikuti jejak salaf, bukan Jama’ah yang mengikuti arus zaman. Karena kebenaran tidak diukur dengan jumlah, tetapi dengan dalil dan jejak generasi terbaik.
Kemajuan teknologi sebenarnya bukan musuh Jama’ah, tetapi ujian bagi keikhlasan Jama’ah. Apakah teknologi digunakan untuk menguatkan ukhuwah, menyebarkan ilmu, dan mempererat barisan? Atau justru menjadi alat untuk memecah, memperdebatkan tanpa adab, dan mencari pengakuan? Di sinilah letak kedewasaan iman: mampu memanfaatkan zaman tanpa kehilangan prinsip.
Jama’ah yang kokoh adalah Jama’ah yang dibangun di atas ilmu, adab, dan ketaatan. Bukan sekadar ramai dalam kegiatan, tetapi kuat dalam ruhiyah. Bukan sekadar berkumpul, tetapi saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-‘Ashr, keselamatan hanya bagi mereka yang beriman, beramal shalih, dan saling menasihati—ini adalah ruh Jama’ah sejati.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah kemajuan zaman itu sendiri, melainkan bagaimana hati tetap tunduk kepada Allah di tengah segala kemudahan. Jama’ah adalah jalan untuk menjaga itu semua. Ia bukan beban, tetapi nikmat. Ia bukan pengikat yang mengekang, tetapi penjaga yang menyelamatkan. Maka siapa yang menggenggam Jama’ah di akhir zaman, sejatinya ia sedang menggenggam tali keselamatan dunia dan akhirat.[BA]
