Umur Terbatas, Tapi Angan-Angan Kian Menjadi


PELITA MAJALENGKA - 
Ada satu kenyataan yang sering kita abaikan: umur kita terus berkurang, tetapi angan-angan justru semakin panjang. Hari demi hari berlalu, rambut mulai memutih, tenaga tak lagi sekuat dulu, namun harapan-harapan dunia justru semakin membumbung tinggi. Kita ingin ini, ingin itu, menunda amal, seakan-akan hidup ini masih sangat panjang. Padahal, setiap detik yang berlalu adalah bagian dari umur yang tak akan pernah kembali.

Dalam diam, kematian berjalan mendekat. Ia tidak menunggu kesiapan kita, tidak peduli dengan rencana yang belum selesai. Betapa banyak orang yang kemarin masih berbicara, tertawa, merancang masa depan, hari ini sudah terbujur kaku. Namun anehnya, kita yang masih diberi kesempatan hidup justru sibuk memperpanjang angan-angan, bukan memperbanyak bekal.

Para ulama sering mengingatkan bahwa طول الأمل (panjang angan-angan) adalah penyakit hati yang berbahaya. Ia membuat seseorang lalai dari akhirat. Al-Hasan Al-Bashri رحمه الله pernah berkata, “Tidaklah seseorang memanjangkan angan-angannya, kecuali amalnya akan menjadi buruk.” Sebab ketika seseorang merasa waktunya masih lama, ia akan menunda taubat, menunda kebaikan, dan merasa tidak perlu segera berubah.

Coba renungkan, berapa banyak niat baik yang kita tunda? Berapa kali kita berkata, “Nanti saja saya mulai memperbaiki diri,” atau “Kalau sudah tua saya akan lebih serius beribadah.” Padahal, siapa yang menjamin kita sampai pada usia tua? Bahkan banyak yang wafat di usia muda, di saat angan-angannya masih sangat panjang.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله menjelaskan bahwa panjang angan-angan membuat hati menjadi keras. Ia berkata, “Dua hal yang merusak hati adalah lalai dan panjang angan-angan.” Ketika hati sudah keras, nasihat tidak lagi menyentuh, ayat-ayat Allah tidak lagi menggugah, dan kematian pun terasa jauh, seakan hanya menimpa orang lain.

Padahal, orang-orang shalih terdahulu justru hidup dengan angan-angan yang pendek. Bukan berarti mereka tidak punya cita-cita, tetapi mereka sadar bahwa hidup ini singkat. Mereka berlomba dalam kebaikan, seakan-akan ajal sudah di depan mata. Umar bin Abdul Aziz رحمه الله pernah berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan tunggu pagi. Jika kamu berada di pagi hari, jangan tunggu sore.” Sebuah kalimat sederhana, namun mengguncang jiwa.

Hari ini kita sering terjebak dalam ilusi waktu. Kita merasa masih punya banyak kesempatan. Kita sibuk mengejar dunia, memperindah rencana, memperluas mimpi, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah. Padahal, satu detik saja bisa menjadi penentu antara keselamatan dan penyesalan yang abadi.

Muhasabah terbesar adalah ketika kita mulai jujur pada diri sendiri: sudahkah kita menggunakan umur ini dengan benar? Ataukah kita hanya menghabiskannya untuk sesuatu yang tidak bernilai di sisi Allah? Betapa banyak waktu yang terbuang untuk hal yang sia-sia, sementara amal yang benar-benar menyelamatkan justru sangat sedikit.

Angan-angan dunia memang tidak ada ujungnya. Satu keinginan tercapai, muncul keinginan berikutnya. Harta bertambah, keinginan ikut bertambah. Jabatan naik, ambisi ikut naik. Namun kubur hanya membutuhkan satu liang sempit. Tidak peduli seberapa besar mimpi kita di dunia, pada akhirnya kita akan kembali kepada tanah.

Di sinilah pentingnya menyeimbangkan antara harapan dan kesadaran akan akhir. Bukan berarti kita tidak boleh punya rencana, tetapi jangan sampai rencana membuat kita lupa tujuan. Hidup ini bukan sekadar tentang mencapai apa yang kita inginkan, tetapi tentang bagaimana kita kembali kepada Allah dalam keadaan terbaik.

Bayangkan jika hari ini adalah hari terakhir kita. Masihkah kita menunda shalat yang khusyuk? Masihkah kita menunda taubat? Masihkah kita sibuk dengan hal-hal yang tidak mendekatkan kita kepada-Nya? Pertanyaan-pertanyaan ini seharusnya mengguncang hati kita, memecah kelalaian yang selama ini kita pelihara.

Sungguh, orang yang cerdas bukanlah yang paling banyak angan-angannya, tetapi yang paling siap menghadapi kematian. Ia memanfaatkan waktu, menjaga amal, dan tidak tertipu oleh dunia. Sebaliknya, orang yang merugi adalah yang sibuk bermimpi panjang, namun lupa bahwa umur semakin pendek.

Hari ini, sebelum semuanya terlambat, mari kita pendekkan angan-angan dan panjangkan amal. Jangan tunggu waktu luang untuk berbuat baik, karena waktu luang belum tentu datang. Jangan tunggu hati siap untuk bertaubat, karena hati bisa semakin keras jika terus ditunda.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tersadar sebelum terlambat, yang menggunakan sisa umur dengan sebaik-baiknya, dan yang pulang kepada Allah dalam keadaan hati yang hidup, bukan hati yang mati oleh panjangnya angan-angan.[BA]