PELITA MAJALENGKA - Di zaman yang serba terbuka ini, batas antara benar dan salah seringkali terasa kabur. Apa yang dulu dianggap tabu, kini menjadi tontonan biasa. Apa yang dulu disembunyikan karena malu, kini diumbar tanpa rasa bersalah. Kita hidup di era di mana manusia merasa bebas—bebas berpendapat, bebas berperilaku, bahkan bebas melanggar batas yang seharusnya dijaga. Namun di tengah kebebasan itu, ada satu hal yang semakin redup: rasa diawasi oleh Allah, atau yang dalam Islam disebut sebagai ihsan.
Ihsan bukan sekadar konsep tinggi dalam agama,
tapi inti dari kualitas iman. Ia adalah kesadaran batin bahwa Allah selalu
melihat kita—di saat ramai maupun sepi, di hadapan manusia maupun ketika
sendiri. Bahkan ketika kita tidak mampu melihat-Nya, kita yakin sepenuh hati
bahwa Dia melihat kita.
Masalahnya hari ini bukan karena kita tidak
tahu. Banyak dari kita paham tentang ihsan. Kita pernah mendengar ceramahnya,
membaca dalilnya, bahkan mungkin pernah merasakan manisnya. Namun yang hilang
adalah kesadaran yang hidup, bukan
sekadar pengetahuan yang tersimpan.
Coba kita jujur pada diri sendiri.
Berapa kali kita merasa “aman” melakukan
sesuatu karena tidak ada yang melihat?
Berapa kali kita menunda kebaikan karena merasa tidak ada yang menuntut?
Berapa kali kita berbuat dosa kecil sambil berkata dalam hati, “Ah, ini
sepele…”?
Padahal masalahnya bukan besar atau kecilnya
dosa, tapi hilangnya rasa diawasi.
Di sinilah letak bahayanya zaman ini.
Teknologi memberi ruang luas untuk berbuat apa saja tanpa diketahui orang lain.
Satu layar kecil di tangan bisa menjadi pintu menuju kebaikan, tapi juga jurang
kehancuran. Banyak yang terlihat baik di luar, tapi hidup dalam “dunia lain”
yang tersembunyi. Inilah ujian ihsan yang paling nyata hari ini: apakah kita
tetap menjaga diri saat tidak ada manusia yang melihat?
Orang yang hidup dengan ihsan tidak butuh
pengawasan manusia. Ia tidak menunggu dipuji untuk berbuat baik, dan tidak
takut dicela untuk meninggalkan maksiat. Ia sadar, penilaian Allah jauh lebih
penting daripada penilaian manusia.
Namun menghidupkan ihsan bukan perkara instan.
Ia perlu dilatih, dihidupkan, dan dijaga setiap hari.
Pertama, mulailah dengan mengingat Allah dalam kesendirian. Justru di situlah
kualitas iman diuji. Saat kita sendirian dengan gadget, dengan pikiran, dengan
pilihan-pilihan yang hanya kita dan Allah yang tahu—di situlah ihsan diuji.
Biasakan menyebut nama Allah, walau pelan. Sadarkan hati bahwa Allah melihat.
Kedua, latih kejujuran pada diri sendiri.
Banyak orang gagal menjaga ihsan karena terlalu pandai mencari alasan. Ia tahu
salah, tapi dibungkus dengan pembenaran. Ia tahu lalai, tapi ditutup dengan
kesibukan. Padahal ihsan tumbuh dari hati yang jujur—yang berani mengakui
kelemahan, dan mau memperbaiki.
Ketiga, perbanyak amal yang tidak diketahui
orang lain. Ini adalah cara paling ampuh menghidupkan ihsan. Shalat malam yang
tidak dipamerkan, sedekah yang tidak diumumkan, doa yang tidak diceritakan.
Amal-amal rahasia ini akan membangun hubungan pribadi dengan Allah—hubungan yang
tidak tergantung pada penilaian manusia.
Keempat, sering-seringlah merenung tentang
kematian dan pertemuan dengan Allah. Dunia ini terlalu bising, terlalu sibuk,
terlalu cepat membuat kita lupa tujuan. Padahal setiap langkah kita mendekat
pada satu titik: kembali kepada-Nya. Orang yang sering mengingat akhir akan
lebih mudah menjaga ihsan, karena ia sadar semua akan dipertanggungjawabkan.
Yang perlu kita sadari, kehilangan ihsan bukan
berarti kita tidak beriman. Tapi itu tanda bahwa iman kita sedang lemah. Dan
iman, sebagaimana dikatakan para ulama, bisa naik dan turun. Maka tugas kita
bukan menghakimi diri, tapi menghidupkannya kembali.
Jangan tunggu menjadi sempurna untuk merasa
diawasi Allah. Justru dengan merasa diawasi itulah kita akan perlahan menjadi
lebih baik.
Bayangkan jika setiap Muslim benar-benar hidup
dengan ihsan. Tidak akan ada korupsi yang tersembunyi. Tidak akan ada
pengkhianatan dalam diam. Tidak akan ada kemaksiatan yang dianggap biasa.
Karena setiap orang merasa cukup dengan satu pengawasan: pengawasan dari Allah.
Di zaman serba bebas ini, justru kita
membutuhkan “rem” dari dalam diri. Bukan sekadar aturan luar, tapi kesadaran
batin. Itulah ihsan.
Maka hari ini, sebelum kita sibuk memperbaiki
dunia, mari kita mulai dari hati sendiri. Hidupkan kembali rasa itu—bahwa kita
tidak pernah benar-benar sendiri.
Ada Allah yang selalu melihat.
Ada Allah yang selalu mengetahui.
Dan ada Allah yang kelak akan meminta pertanggungjawaban.
Semoga
kita termasuk orang-orang yang bukan hanya mengaku beriman, tapi benar-benar
hidup dalam pengawasan-Nya.[BA]
.jpg)