Jamaah Tanpa Ruh, Ibarat Tubuh Tak Bernyawa


PELITA MAJALENGKA
Ada yang hadir dalam jamaah, tapi tidak benar-benar hidup di dalamnya. Ia datang, tapi hatinya absen. Ia berkumpul, tapi jiwanya terpisah. Seperti tubuh yang berdiri tegak namun tanpa nyawa, begitulah jamaah tanpa ruh—terlihat ada, tapi sejatinya hampa. Lalu kita bertanya pelan dalam hati: apakah ini yang sedang terjadi hari ini?

Malas taklim, malas amal shalih, enggan hadir dalam musyawarah, apalagi bermuhasabah. Seolah semua aktivitas ruhiyah terasa berat, melelahkan, bahkan mengganggu kenyamanan. Padahal di situlah letak kehidupan sejati seorang mukmin. Ketika hati tidak lagi rindu pada ilmu dan amal, bukankah itu tanda bahwa ada yang sedang mati perlahan?

Lebih menyedihkan lagi, saat dinasihati justru marah. Saat diingatkan justru tersinggung. Seakan setiap kata adalah serangan, setiap masukan adalah tuduhan. Hati menjadi sempit, tak mampu lagi menampung kebenaran. Padahal dulu, mungkin kita pernah menangis hanya karena satu ayat atau satu nasihat sederhana.

Merasa paling benar, paling hebat, paling pintar—itulah penyakit yang diam-diam menggerogoti. Tidak mau menerima masukan, keras kepala, dan selalu melihat orang lain salah. Dunia terasa penuh dengan kesalahan orang lain, tapi tak ada satu pun kesalahan yang diakui dalam diri sendiri. Bukankah ini tanda hati yang mulai tertutup?

Sedikit-sedikit baper, mudah tersinggung, cepat mutung. Ukhuwah terasa berat karena hati dipenuhi prasangka. Dikit-dikit merasa tidak dihargai, tidak diperhatikan, bahkan merasa ditinggalkan oleh para pemimpin. Padahal boleh jadi, bukan mereka yang berubah, tapi hati kita yang mulai menjauh.

Jamaah bukan sekadar kumpulan manusia, tapi tempat bertumbuhnya ruh. Tempat belajar merendahkan diri, bukan meninggikan ego. Tempat menerima nasihat, bukan menolaknya. Jika yang tumbuh justru kesombongan, kepekaan yang berlebihan, dan perasaan selalu benar, maka yang perlu ditanya bukan jamaahnya—tapi ruh dalam diri kita.

Seorang ulama salaf pernah berkata, “Tidaklah seseorang diberi nasihat lalu ia marah, kecuali itu tanda kesombongan dalam hatinya.” Betapa tajam kalimat ini. Karena yang marah bukan karena nasihatnya salah, tapi karena egonya tersentuh. Dan ego yang terus dipelihara, akan membunuh ruh perlahan tanpa berasa.

Ulama lain berkata, “Barangsiapa yang tidak mau bermuhasabah, maka ia sedang menyiapkan kehancurannya sendiri.” Muhasabah bukan sekadar aktivitas, tapi cermin kejujuran. Tanpa itu, kita akan terus merasa baik-baik saja, padahal mungkin sedang jauh dari Allah.

Maka sebelum menuding realitas di luar, mari jujur melihat ke dalam. Jangan-jangan yang dimaksud “jamaah tanpa ruh” itu bukan orang lain. Jangan-jangan… itu adalah kita. Dan jika benar, kabar baiknya: ruh itu belum benar-benar mati. Ia hanya lemah, menunggu untuk dihidupkan kembali—dengan taubat, dengan ilmu, dengan kerendahan hati, dan dengan kesediaan untuk berubah.[BA]