PELITA MAJALENGKA - Mengaku ikhwan jamaah, tapi hobi menjatuhkan—kalimat ini terdengar keras, bahkan mungkin menyinggung. Tapi justru di situlah letak kejujurannya. Ia seperti cermin yang tiba-tiba diletakkan di depan wajah kita, memaksa melihat sesuatu yang selama ini kita hindari. Tidak semua yang rajin hadir di barisan, otomatis bersih dari penyakit hati. Tidak semua yang lantang berbicara tentang ukhuwah, benar-benar memelihara persaudaraan.
Jamaah sejatinya bukan sekadar kumpulan
orang-orang yang merasa paling benar, apalagi yang sibuk mencari kesalahan
saudaranya. Jamaah adalah tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang lelah oleh dosa,
tempat berteduh bagi hati yang ingin berubah. Ia bukan panggung untuk saling
menjatuhkan, tapi ladang untuk saling menguatkan. Karena yang datang ke
dalamnya bukan malaikat, melainkan manusia—yang penuh luka, salah, dan peluang
untuk bertobat.
Namun realitas seringkali berjalan di arah yang
berbeda. Niat awal yang lurus perlahan tergelincir oleh bisikan halus: ingin
diakui, ingin dianggap lebih, ingin terlihat paling benar. Dari situlah lahir
kalimat-kalimat tajam yang dibungkus nasihat, sindiran yang dikemas seolah
kepedulian, dan kritik yang lebih banyak melukai daripada memperbaiki. Tanpa
sadar, ukhuwah berubah menjadi arena persaingan yang sunyi.
Yang lebih menyedihkan, semua itu sering
dilakukan atas nama kebaikan. Seolah menjatuhkan adalah bagian dari amar ma’ruf
nahi munkar. Padahal, kebenaran yang disampaikan tanpa kasih sayang hanya akan
melahirkan penolakan. Dan nasihat yang lahir dari hati yang kotor, tak akan
pernah benar-benar sampai ke hati yang lain.
Coba sejenak kita jujur pada diri sendiri.
Ketika melihat saudara kita salah, apa yang pertama kali muncul dalam hati?
Keinginan untuk menutup aibnya, atau dorongan untuk menceritakannya? Ketika ia
tergelincir, apakah kita mendekat untuk menguatkan, atau justru menjauh sambil
diam-diam merasa lebih baik? Di situlah sebenarnya kualitas keimanan kita
sedang diuji.
Menjadi bagian dari jamaah bukan berarti kita
sudah sampai, tapi justru baru mulai. Mulai belajar merendahkan ego, menahan
lisan, dan membersihkan niat. Karena yang paling berat bukan mengajak orang
lain berubah, tapi menjaga diri agar tidak merasa paling benar. Dan seringkali,
penyakit merasa paling benar itulah yang diam-diam menghancurkan bangunan
jamaah dari dalam.
Jamaah yang kuat bukan yang anggotanya
sempurna, tapi yang anggotanya sadar bahwa mereka tidak sempurna. Mereka saling
menutup kekurangan, bukan membuka aib. Mereka saling menarik ke atas, bukan
menarik ke bawah. Di sana, kesalahan bukan bahan gunjingan, tapi bahan
perbaikan bersama.
Maka jika hari ini kita masih menemukan diri
kita mudah menjatuhkan, jangan buru-buru menyalahkan orang lain. Mungkin ada
yang perlu kita benahi dalam hati. Mungkin kita belum benar-benar datang ke
jamaah dengan niat untuk berubah, tapi masih membawa beban ingin diakui dan
dimuliakan.
Pada
akhirnya, jamaah adalah cermin. Ia memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Jika
kita datang dengan hati yang ingin memperbaiki, kita akan menemukan
saudara-saudara yang menguatkan. Tapi jika kita datang dengan hati yang ingin
meninggikan diri, maka tanpa sadar kita akan menjadi bagian dari masalah itu
sendiri. Dan di situlah pilihan kita diuji: menjadi penenang dalam barisan,
atau justru menjadi retakan yang perlahan meruntuhkannya.[BA]
