Ngaku Muslim, Kok Ngaret Terus?


PELITA MAJALENGKA -
Ada satu kebiasaan kecil yang sering dianggap sepele, tapi diam-diam menggerogoti kualitas iman: ngaret. Telat datang, telat janji, telat kerja, bahkan telat ibadah. Lebih parah lagi, ini sudah seperti budaya—diterima, dimaklumi, bahkan dibanggakan. Padahal kalau kita mau jujur sejenak, hati kecil kita tahu… ini bukan sekadar soal waktu. Ini soal keseriusan kita dalam beragama.

Coba renungkan pelan-pelan. Kenapa kita bisa sangat tepat waktu untuk urusan dunia? Meeting penting, kita datang lebih awal. Janji dengan orang yang kita hormati, kita siapkan dari jauh-jauh hari. Tapi ketika adzan berkumandang, kita masih berkata, “Bentar lagi…”, “Masih ada waktu…”, atau “Nanti aja…”. Dan anehnya, kata “nanti” itu sering berubah menjadi tidak sama sekali. Di titik ini, kita perlu jujur: ada yang tidak beres dalam cara kita memandang waktu.

Para ulama salaf sudah lama mengingatkan. Mereka tidak melihat waktu seperti kita melihatnya hari ini. Bagi mereka, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata, “Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap hari berlalu, maka hilang pula sebagian dirimu.” Kalimat ini sederhana, tapi jika benar-benar dihayati, seharusnya membuat kita gelisah. Karena setiap kali kita menunda, sebenarnya kita sedang mengurangi jatah hidup kita—tanpa jaminan kita masih punya kesempatan untuk memperbaikinya.

Masalah ngaret ini sebenarnya bukan soal teknis. Bukan soal macet, sibuk, atau lupa. Akar masalahnya lebih dalam: kita belum benar-benar merasa diawasi oleh Allah. Karena kalau keyakinan itu hidup di dalam hati, mustahil kita santai menunda kewajiban. Kita akan takut kehilangan waktu, takut amal tertunda, dan takut pulang kepada Allah dalam keadaan lalai.

Lihat bagaimana Islam mengatur waktu dengan begitu tegas. Shalat ada waktunya, tidak bisa digeser sesuka hati. Puasa ada waktunya. Haji ada waktunya. Semua ibadah mengajarkan satu pesan yang sama: disiplin waktu adalah bagian dari ketaatan.

Ibnu Mas’ud رضي الله عنه pernah berkata, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu seperti penyesalanku terhadap satu hari yang berlalu, sementara umurku berkurang, tapi amalku tidak bertambah.” Jika para sahabat saja merasa rugi karena satu hari tanpa peningkatan amal, lalu bagaimana dengan kita yang sering menghabiskan waktu untuk hal yang tidak jelas, bahkan sengaja menunda yang penting?

Ngaret juga punya dampak yang sering tidak kita sadari. Ia melatih jiwa menjadi lemah. Menunda membuat kita terbiasa meremehkan tanggung jawab. Lama-lama, bukan hanya waktu yang kita sia-siakan, tapi juga kepercayaan orang lain. Dan yang paling berbahaya, hati kita menjadi tumpul—tidak lagi merasa bersalah ketika melakukan hal yang salah. Di sinilah letak bahayanya. Karena dosa yang paling mengkhawatirkan bukan yang besar, tapi yang terus diulang sampai terasa biasa.

Bayangkan jika hari ini semua aktivitas kita dicatat, lalu diperlihatkan di hadapan Allah. Berapa banyak yang kita tunda? Berapa banyak janji yang kita longgarkan? Berapa banyak kesempatan beramal yang kita lewatkan begitu saja? Masih pantaskah kita menganggap ini hanya kebiasaan kecil?

Sudah saatnya kita ubah cara pandang. Tepat waktu bukan sekadar etika sosial, tapi tanda iman yang serius. Menepati janji bukan hanya soal profesionalitas, tapi cerminan kejujuran hati. Rasulullah mengingatkan bahwa salah satu tanda kemunafikan adalah ketika berjanji, dia mengingkari. Dan seringkali, semua itu berawal dari kebiasaan sederhana: menunda, lalu terbiasa ngaret.

Mulailah dari hal kecil, tapi lakukan dengan sungguh-sungguh. Biasakan datang lebih awal, meski hanya sepuluh menit. Usahakan shalat di awal waktu, bukan di sisa waktu. Pegang janji, sekecil apapun itu. Jangan tunggu berubah besar—cukup jaga yang kecil, tapi konsisten. Karena perubahan besar dalam hidup tidak lahir dari niat yang hebat, tapi dari kebiasaan kecil yang dijaga terus-menerus.

Ingat, hidup ini tidak akan menunggu kita siap. Waktu tidak akan melambat hanya karena kita santai. Dan suatu hari nanti, kita mungkin akan berharap bisa kembali ke hari ini—hanya untuk memperbaiki satu hal yang dulu kita anggap remeh: tidak menunda kebaikan.

Sekarang, coba tanya diri sendiri dengan jujur…
Masih mau ngaku Muslim, tapi terus ngaret?[BA]