Dulu Mengejar Ayat, Kini Menjaga Para Penghafal


PELITA MAJALENGKA
- Ada perjalanan yang awalnya kelihatan biasa saja, tetapi ternyata Allah sedang menyiapkan sesuatu yang luar biasa. Begitulah kira-kira kisah Adelia. Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren Tahfidz Qur’an Nurul Bayan Blok Cintabakti RT 003, RW 004, Ds. Mekarwangi, Kec. Lemahsugih Majalengka, ia masih kecil. Baru kelas 1 SD. Dunia anak-anaknya masih sederhana: bermain, bercanda, belajar, dan sesekali merengek ingin pulang.

Tetapi sejak hari itu, hidupnya perlahan punya arah yang berbeda. Saat teman-teman seusianya sibuk bermain dan berlari ke sana kemari, Adelia mulai belajar mengejar ayat-ayat Allah. Mushaf kecil yang awalnya mungkin hanya terasa seperti buku biasa, lama-lama menjadi teman paling setia dalam hidupnya.

Jalan menjadi penghafal Al-Qur’an tentu bukan jalan yang selalu mulus. Ada hari ketika hafalan terasa lancar. Satu halaman bisa masuk dengan mudah. Tapi ada juga hari ketika satu ayat saja terasa susah banget nempel di kepala. Sudah diulang berkali-kali, tetap lupa lagi.

Belum lagi rasa malas yang datang tiba-tiba, rindu rumah yang kadang bikin dada sesak, atau capek yang membuat hati ingin berkata, “Sudahlah, besok saja.” Adelia pernah berada di titik-titik seperti itu. Ia pernah menangis. Pernah merasa lelah. Pernah merasa kecil di hadapan mushaf yang ada di tangannya. Tapi setiap kali rasa ingin menyerah datang, ada dua wajah yang selalu membuatnya kembali berdiri: Abi dan Umi.

Bagi Adelia, menghafal Al-Qur’an bukan sekadar ingin dipanggil hafidzah. Ada alasan yang jauh lebih dalam. Ia ingin suatu hari nanti menjadi sebab kemuliaan bagi kedua orang tuanya. Ia ingin perjuangannya bersama Al-Qur’an menjadi hadiah untuk Abi dan Umi di akhirat.

Bayangan tentang mahkota cahaya untuk orang tua seorang penghafal Al-Qur’an menjadi salah satu alasan yang membuatnya terus bertahan. Jadi, ketika hafalan lagi berat-beratnya, ia mencoba mengingat lagi untuk siapa semua perjuangan itu dilakukan. Kadang memang kita butuh alasan yang besar supaya tetap kuat ketika jalan terasa berat.

Dan kalau bicara tentang kekuatan Adelia, ada satu nama yang tidak bisa dilepaskan: Umi. Saat rindu rumah datang, saat hati sedang tidak baik-baik saja, suara Umi di telepon menjadi tempat Adelia menenangkan diri. Ada satu kalimat Umi yang sampai sekarang terus ia ingat, “Nak… takdir Allah selalu baik. Terkadang butuh air mata untuk menerimanya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi dalam sekali. Dari sana Adelia belajar bahwa menangis bukan berarti lemah. Rindu bukan berarti harus menyerah. Dan jalan yang terasa berat bukan berarti Allah sedang meninggalkan kita. Bisa jadi justru lewat jalan yang berat itulah Allah sedang membentuk kita menjadi lebih kuat.

Dari Mushaf Kecil Menuju Pengabdian

Di luar kegiatan tahfidz, Adelia sebenarnya gadis yang sederhana. Ia suka membaca, menulis, membaca majalah Islami, dan menikmati buku-buku tentang mindset. Tidak banyak gaya. Tidak banyak bicara yang tidak perlu. Tapi justru dari kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, cara berpikirnya tumbuh. Ia belajar melihat hidup bukan hanya dari apa yang tampak hari ini, tetapi dari apa yang ingin ia bawa sampai akhirat nanti. Mungkin itu juga yang membuat tutur katanya terasa teduh. Usianya masih muda, tetapi pengalaman hidup di pesantren membuatnya belajar banyak hal yang tidak selalu bisa ditemukan di bangku sekolah.

Nurul Bayan juga punya tempat khusus dalam perjalanan hidupnya. Pesantren yang berada di kawasan kaki gunung Ciremai itu menjadi saksi bagaimana seorang anak kecil perlahan tumbuh menjadi hafidzah. Setiap pagi ada gunung, sawah, udara sejuk, dan suasana yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Bagi Adelia, semua itu seperti hadiah yang tidak kecil dari Allah.

Di tengah suasana yang tenang itu, ia belajar mengulang hafalan (murajaah), membaca Al-Qur’an, berdoa, dan berdamai dengan dirinya sendiri. Ada saat ketika ayat yang sudah berhari-hari terasa susah, tiba-tiba menjadi mudah. “Rasanya seperti Allah membuka pintu,” katanya. Dan mungkin memang begitulah perjalanan bersama Al-Qur’an. Kita mengetuk pintunya dengan ikhtiar, lalu Allah yang menentukan kapan pintu itu dibukakan.

Salah satu “senjata” Adelia ketika semangat mulai turun adalah tahajud. Ia merasakan ada sesuatu yang berbeda ketika bangun di sepertiga malam. Saat suasana sunyi, ketika tidak ada teman yang melihat dan tidak ada siapa pun yang memberi tepuk tangan, hati justru terasa lebih jujur. “Saat itu hati paling jujur,” katanya.

Di malam-malam seperti itulah ia kembali mengadu kepada Allah. Meminta kekuatan. Meminta dimudahkan hafalannya. Meminta agar hatinya tetap dekat dengan Al-Qur’an. Karena pada akhirnya, seorang penghafal Qur’an bukan hanya butuh otak yang kuat untuk mengingat, tetapi juga hati yang terus dijaga oleh Allah.

Perjalanan panjang itu akhirnya sampai pada satu pencapaian yang luar biasa. Adelia berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Tahun 2026 menjadi tahun penting karena ia menyelesaikan pendidikannya di Nurul Bayan. Ia juga pernah berhasil meraih Juara 1 MTQ ke-55 tingkat Kabupaten Majalengka kategori Tahfidz 10 Juz. Ketika namanya diumumkan sebagai juara, air matanya jatuh.

Bukan semata-mata karena bangga mendapatkan juara, tetapi karena ia seperti sedang melihat kembali seluruh perjalanan yang sudah dilewatinya. Terbayang saat-saat ingin pulang. Terbayang doa Umi. Terbayang kerja keras Abi. Terbayang guru-guru yang sabar membimbingnya. Terbayang dirinya yang dulu masih kecil dan belum tahu akan sampai sejauh apa perjalanan ini.

“Juara itu amanah,” katanya.

Kalimat itu menunjukkan bahwa Adelia tidak ingin berhenti pada piala. Ia tidak ingin prestasi membuat dirinya terlena. Baginya, menjadi hafidzah bukan soal berapa banyak orang yang mengenal namanya, tetapi bagaimana Al-Qur’an membuat dirinya semakin dekat kepada Allah. Sebab hafalan 30 juz tidak akan banyak berarti jika hanya tersimpan di kepala tetapi tidak terlihat dalam akhlak dan amal.

Dan sekarang, justru setelah lulus, perjalanan Adelia memasuki babak baru. Ia memilih tetap berada di lingkungan Nurul Bayan untuk mengabdi sebagai musyrifah. Ini menarik. Karena biasanya setelah lulus, orang ingin segera pergi mencari pengalaman baru. Adelia justru memilih kembali memberi kepada tempat yang dulu telah banyak memberinya. Dulu ia adalah santri kecil yang harus dibimbing. Sekarang ia mulai mendampingi santri-santri lain yang sedang berjuang menghafal Al-Qur’an.

Ia tahu rasanya menjadi anak kecil yang baru belajar hafalan. Ia tahu bagaimana rasanya ketika satu ayat susah masuk. Ia tahu bagaimana rindu rumah bisa datang tanpa aba-aba. Ia tahu bagaimana rasa malas bisa tiba-tiba muncul. Karena pernah melewati semua itu, kini ia bisa lebih memahami anak-anak yang sedang ia dampingi. Apa yang dulu ia terima dari para guru, kini perlahan ia teruskan kepada generasi berikutnya.

Adelia punya mimpi yang tidak kecil. Ia ingin menjadi pendakwah, ahli agama, sekaligus pengusaha yang tetap hidup dengan prinsip Islam. Ia ingin punya ilmu, tetapi juga ingin punya karya. Ia ingin sukses, tetapi bukan hanya sukses untuk dirinya sendiri. Ia ingin keberadaannya membawa manfaat bagi orang lain.

Dan ketika ditanya siapa orang yang paling ingin ia beri ucapan terima kasih, jawabannya tidak berubah: Umi.

“Beliau yang paling percaya aku bisa.”

Kalimat pendek itu mungkin menjadi gambaran paling sederhana tentang perjalanan Adelia. Di balik seorang anak yang berhasil menyelesaikan 30 juz, ada ibu yang terus mendoakan. Ada ayah yang bekerja keras. Ada guru yang sabar membimbing. Ada air mata yang tidak pernah masuk berita. Ada malam-malam panjang yang tidak pernah disaksikan siapa-siapa.

Dulu Adelia mengejar ayat.

Sekarang ia membantu anak-anak lain mengejar ayat.

Dulu ia yang dibimbing.

Kini ia mulai membimbing.

Dulu ia belajar bagaimana menjadi penjaga Al-Qur’an.

Kini ia belajar bagaimana menjaga para calon penjaga Al-Qur’an.

Mungkin di situlah letak keindahan perjalanan ini. Bahwa hafalan Al-Qur’an tidak berhenti pada gelar hafidzah. Tidak berhenti pada piala. Tidak berhenti pada foto wisuda. Tetapi terus berjalan menjadi amal, menjadi pengabdian, dan menjadi cahaya yang diteruskan kepada orang lain.

Adelia masih sangat muda. Perjalanannya masih panjang. 30 juz bukan akhir. Juara bukan akhir. Lulus pun bukan akhir. Semuanya baru permulaan.

Sebab setiap ayat yang sudah dihafalnya masih menunggu untuk diamalkan. Dan setiap santri yang kini ia dampingi adalah kesempatan baru untuk meneruskan cahaya yang dulu pernah menerangi langkahnya.

Dari seorang anak kecil yang dulu datang membawa mushaf, kini lahir seorang hafidzah muda yang memilih tinggal untuk mengabdi.

Ia dulu mengejar ayat.

Kini, ia membantu orang lain agar tidak berhenti mengejar ayat.[BA]

 

1 komentar untuk "Dulu Mengejar Ayat, Kini Menjaga Para Penghafal"

  1. Masyaa Allah.. Tabaarakallah Adelia, semoga Allah Memberkahi dalam penjagaan nya disetiap Niat dan Langkahmu

    Jazakallah khair Pelita majalengka
    Selalu di berkahi ALLAH🤲🤍

    BalasHapus