Rahasia Peradaban Besar: Selalu Ada Kaderisasi


PELITA MAJALENGKA
- Peradaban besar tidak pernah dibangun hanya oleh orang-orang hebat. Ia dibangun oleh orang-orang hebat yang berhasil melahirkan manusia-manusia hebat setelahnya. Sebab sehebat apa pun seorang pemimpin, ia tetap akan tua. Sehebat apa pun seorang ulama, ia akan wafat. Sehebat apa pun sebuah generasi, ia pasti akan digantikan. Pertanyaannya bukan apakah mereka akan pergi, tetapi siapa yang sudah dipersiapkan untuk melanjutkan ketika mereka pergi?

Kita sering bangga memiliki tokoh besar, tetapi lupa menanyakan berapa banyak kader yang sedang ia lahirkan. Kita sibuk membangun gedung, lembaga, program, dan kegiatan, tetapi kadang lupa membangun manusia yang akan menjaga semuanya ketika kita sudah tidak ada. Padahal bangunan bisa diwariskan dalam sehari, tetapi manusia yang mampu menjaga visi membutuhkan pendidikan bertahun-tahun.

Rasulullah ﷺ tidak sekadar mengumpulkan pengikut. Beliau mendidik generasi. Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Mu'adz, Zaid, Ibnu Abbas, Aisyah dan para sahabat lainnya bukan sekadar orang-orang yang mencintai Rasulullah ﷺ. Mereka adalah manusia yang ditempa agar mampu membawa Islam setelah Rasulullah ﷺ wafat. Maka ketika Rasulullah ﷺ pergi, risalah tidak ikut pergi.

Inilah yang sering kita lupakan: dakwah yang bergantung kepada satu orang sebenarnya belum selesai dibangun. Jika seorang ustadz berhenti lalu jamaah kehilangan arah, jika seorang pendiri pergi lalu lembaga kehilangan ruh, jika seorang pemimpin wafat lalu perjuangan ikut padam, berarti kita belum membangun sistem kaderisasi. Kita baru membangun ketergantungan.

Allah berfirman, “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali 'Imran: 104). Perhatikan: Allah berbicara tentang segolongan umat, bukan satu orang. Kebaikan harus memiliki barisan penerus. Ilmu harus memiliki pewaris. Dakwah harus memiliki generasi.

Maka kaderisasi bukan pekerjaan tambahan. Kaderisasi adalah napas panjang sebuah perjuangan. Kita tidak sedang mencari orang untuk membantu pekerjaan kita hari ini. Kita sedang mempersiapkan manusia yang suatu hari akan mengambil amanah ketika tangan kita sudah tidak mampu menggenggamnya.

Pemimpin yang takut melahirkan penerus sebenarnya sedang membangun makam bagi perjuangannya sendiri. Sebaliknya, pemimpin sejati justru bahagia ketika muridnya mulai melampaui dirinya, ketika anak didiknya mampu berdiri tanpa dirinya, ketika generasi muda mulai mengambil tanggung jawab yang dahulu ia pikul. Ia tidak ingin dikenang sebagai orang yang paling hebat; ia ingin dikenang sebagai orang yang berhasil melahirkan orang-orang hebat.

Jangan sampai dua puluh tahun lagi kita hanya memiliki cerita tentang kejayaan generasi kita, sementara anak-anak muda tidak tahu bagaimana meneruskannya. Jangan sampai kita sibuk berkata, “Dulu kami pernah melakukan ini dan itu,” sementara generasi setelah kita hanya menjadi penonton sejarah. Peradaban tidak diwariskan melalui cerita. Peradaban diwariskan melalui kader.

Karena itu, mulai hari ini jangan hanya bertanya, “Apa yang akan kita bangun?” Bertanyalah lebih dalam: “Siapa yang akan meneruskannya?” Jangan hanya menghitung berapa banyak program yang selesai. Hitung berapa banyak manusia yang tumbuh. Jangan hanya meninggalkan gedung, buku, dan lembaga. Tinggalkan generasi yang mampu menjaga semuanya dengan iman, ilmu, amanah, dan keberanian.

Sebab pada akhirnya, kita semua akan pergi. Nama kita mungkin hilang. Jabatan kita selesai. Suara kita tidak lagi terdengar. Tetapi jika setelah kita pergi masih ada anak-anak muda yang melanjutkan dakwah, menghidupkan ilmu, menjaga umat, membangun lembaga, dan meneruskan cita-cita Islam, maka sesungguhnya kita belum benar-benar pergi.

Itulah rahasia peradaban besar: generasi yang besar tidak sibuk mempertahankan dirinya agar tetap besar. Ia sibuk memastikan bahwa setelah dirinya selesai, akan lahir generasi yang lebih besar.[BA]

Posting Komentar untuk "Rahasia Peradaban Besar: Selalu Ada Kaderisasi"