PELITA MAJALENGKA - Ada satu pertanyaan yang mungkin sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam: Kitakah generasi Al-Jama'ah? Jangan buru-buru menjawab “iya” hanya karena kita seorang muslim, rajin menghadiri kajian, atau aktif dalam sebuah komunitas. Pertanyaan ini jauh lebih serius. Sebab Al-Jama'ah bukan sekadar nama kelompok, bukan sekadar banyaknya orang yang berkumpul, dan bukan pula sekadar identitas yang kita tempelkan pada diri kita.
Al-Jama'ah adalah bagaimana kita
hidup di atas kebenaran, menjaga persatuan kaum Muslimin, saling menolong dalam
kebaikan, taat dalam perkara yang ma'ruf, dan membangun kehidupan Islam
bersama-sama. Maka pertanyaannya berubah menjadi lebih tajam: apakah cara
hidup kita hari ini sudah mencerminkan generasi yang dikehendaki Allah untuk
menjaga agama ini?
Generasi Al-Jama'ah adalah generasi
yang sadar bahwa Islam tidak akan kuat jika kaum Muslimin hanya menjadi
kumpulan individu yang berjalan sendiri-sendiri. Kita mungkin memiliki
banyak orang pintar, banyak ustadz, banyak masjid, banyak lembaga, banyak
majelis, bahkan banyak aktivitas dakwah. Tetapi jika semuanya berjalan sendiri,
saling curiga, mudah merendahkan, sulit bekerja sama, dan sibuk membesarkan
kelompok masing-masing, maka kekuatan umat tetap lemah.
Al-Jama'ah mengajarkan kepada kita
bahwa kekuatan tidak hanya terletak pada banyaknya orang, tetapi pada hati
yang dipersatukan, tujuan yang disatukan, kebenaran yang dipegang bersama, dan
amal yang dikerjakan secara berjamaah. Umat tidak cukup hanya memiliki
banyak orang baik; umat membutuhkan orang-orang baik yang mau bekerja bersama
untuk kebaikan.
Karena itu, menjadi generasi
Al-Jama'ah dimulai dari perubahan cara pandang terhadap saudara sesama
Muslim. Kita tidak lagi melihat saudaranya sebagai pesaing yang harus
dikalahkan, tetapi sebagai bagian dari tubuh umat yang harus dikuatkan. Ketika
ada saudara yang lemah, kita bantu. Ketika ada yang salah, kita nasihati dengan
hikmah. Ketika ada yang berhasil, kita ikut bersyukur.
Ketika ada perbedaan dalam perkara
yang memang diperselisihkan ulama, kita belajar dewasa dan tidak menjadikannya
alasan untuk memutus ukhuwah. Generasi Al-Jama'ah tidak berarti generasi yang
tidak pernah berbeda pendapat, tetapi generasi yang tidak membiarkan
perbedaan menghancurkan persaudaraan.
Para ulama salaf sangat memahami
bahaya perpecahan. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, “Al-Jama'ah
adalah apa yang sesuai dengan kebenaran, walaupun engkau seorang diri.”
Perkataan ini sangat dalam. Al-Jama'ah tidak boleh dibangun hanya berdasarkan
jumlah, popularitas, atau fanatisme kepada seseorang. Ukurannya adalah
kebenaran yang bersumber dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Karena itu, kita tidak boleh hanya
bertanya, “Siapa yang paling banyak pengikutnya?” tetapi harus bertanya,
“Di mana kebenaran itu berada?” Setelah kebenaran ditemukan, tugas kita
bukan sekadar mengetahuinya, tetapi menghidupkannya, mengamalkannya, dan
mengajak manusia kepadanya dengan hikmah.
Imam Al-Auza'i rahimahullah
memberikan pesan yang sangat berharga: “Bersabarlah di atas As-Sunnah,
berhentilah sebagaimana kaum itu berhenti, katakanlah sebagaimana mereka
mengatakan, dan tahanlah diri dari apa yang mereka tahan.” Inilah karakter
generasi yang memiliki akar. Mereka tidak mudah terbawa arus. Mereka tidak menjadikan
setiap sesuatu yang baru sebagai kebenaran hanya karena terlihat menarik.
Mereka juga tidak meninggalkan
warisan ulama salaf hanya karena merasa zaman sudah berubah. Zaman boleh
berubah, teknologi boleh berubah, metode dakwah boleh berkembang, tetapi Al-Qur'an,
As-Sunnah, prinsip tauhid, ibadah, akhlak, ukhuwah, dan kebenaran tidak boleh
dikorbankan demi mengikuti zaman.
Masalah besar umat hari ini bukan
hanya kurangnya ilmu, tetapi terputusnya ilmu dari amal dan terputusnya amal
dari kebersamaan. Kita tahu pentingnya shalat, tetapi belum tentu membangun
kehidupan yang dekat dengan masjid. Kita tahu pentingnya ukhuwah, tetapi masih
mudah mencela saudara. Kita tahu pentingnya dakwah, tetapi sering menunggu
orang lain bergerak.
Kita berbicara tentang kejayaan
Islam, tetapi belum tentu mau mendidik satu generasi setelah kita. Kita
berharap muncul pemimpin yang baik, tetapi lupa bahwa pemimpin yang baik harus
lahir dari masyarakat yang baik dan proses kaderisasi yang serius. Inilah
sebabnya generasi Al-Jama'ah tidak boleh berhenti pada kajian dan slogan. Ia
harus berubah menjadi gerakan ilmu, tarbiyah, ukhuwah, dakwah, kaderisasi,
pelayanan umat, dan amal nyata.
Lalu, siapakah generasi
Al-Jama'ah itu? Mereka adalah pemuda yang menjaga shalatnya, tetapi juga
peduli terhadap masa depan umat. Mereka adalah mahasiswa yang belajar bukan
hanya untuk mendapatkan ijazah, tetapi untuk menjadi manusia yang bermanfaat.
Mereka adalah orang tua yang tidak hanya memikirkan masa depan ekonomi anaknya,
tetapi juga iman, ilmu, akhlak, dan perjuangannya.
Mereka adalah para dai yang tidak
hanya pandai berbicara di mimbar, tetapi mampu membangun manusia. Mereka adalah
orang-orang yang tidak puas menjadi “orang baik sendirian”, tetapi ingin melahirkan
lebih banyak orang baik setelah dirinya tiada. Mereka memahami bahwa hidup
terlalu singkat jika hanya digunakan untuk menyelamatkan diri sendiri.
Generasi Al-Jama'ah juga harus
belajar melepaskan ego kelompok. Kita boleh memiliki lembaga, pesantren,
masjid, organisasi, komunitas, atau program dakwah masing-masing. Tetapi jangan
sampai sarana menjadi tujuan dan identitas menjadi sekat. Jangan sampai kita
lebih bangga mengatakan “kelompokku” daripada mengatakan “umatku”.
Jangan sampai keberhasilan lembaga
sendiri membuat kita tidak peduli kepada keberhasilan umat secara keseluruhan.
Jika masjid kita maju, kita bersyukur. Jika pesantren kita berkembang, kita
bersyukur. Jika lembaga saudara kita berkembang, kita juga bersyukur. Karena
yang sedang kita bangun bukan kerajaan pribadi. Yang kita bangun adalah masa
depan umat Islam.
Al-Jama'ah juga membutuhkan kepemimpinan
yang bertanggung jawab dan ketaatan dalam perkara yang ma'ruf. Islam tidak
mengajarkan manusia hidup tanpa arah. Dalam kehidupan bersama, selalu
dibutuhkan orang yang memimpin, mengatur, bermusyawarah, mengambil keputusan,
dan bertanggung jawab.
Namun kepemimpinan dalam Islam
bukanlah kesempatan untuk dilayani. Ia adalah amanah untuk melayani. Seorang
pemimpin harus takut kepada Allah ketika mengambil keputusan, sedangkan orang
yang dipimpin harus belajar taat dalam perkara yang benar. Keduanya bertemu
dalam satu prinsip: bukan siapa yang paling berkuasa, tetapi bagaimana
semuanya tunduk kepada Allah.
Di sinilah kita perlu membedakan
antara ketaatan kepada Allah dan fanatisme kepada manusia. Generasi
Al-Jama'ah tidak mengkultuskan tokoh. Ia menghormati ulama, mencintai pemimpin,
mendengar nasihat orang berilmu, tetapi tetap menjadikan Al-Qur'an dan
As-Sunnah sebagai standar kebenaran. Jika seseorang benar, kita dukung dalam kebenarannya.
Jika seseorang keliru, kita nasihati
dengan adab. Inilah kedewasaan berjamaah. Sebab orang yang hanya mampu
mengikuti ketika semua sesuai keinginannya, sebenarnya belum belajar arti
ketaatan.
Kita juga perlu bertanya: mengapa
generasi muda harus memahami Al-Jama'ah? Karena masa depan umat tidak akan
ditentukan hanya oleh generasi yang sedang hidup hari ini. Masa depan umat akan
ditentukan oleh generasi yang sedang kita didik hari ini. Jika anak-anak muda
hanya dididik untuk mengejar pekerjaan, popularitas, kekayaan, dan kesenangan,
maka jangan heran jika suatu hari umat kehilangan generasi penerus.
Tetapi jika mereka dididik dengan
iman, ilmu, akhlak, keberanian, kepemimpinan, keterampilan, ukhuwah, dan
semangat pengabdian, maka kita sedang menyiapkan generasi yang mampu menjaga
agama dan membangun peradaban.
Karena itu, Al-Jama'ah harus
bergerak dari identitas menuju kualitas. Jangan hanya berkata, “Kita
berjamaah.” Tunjukkan dalam kehidupan. Apakah kita saling menguatkan? Apakah
kita mendidik generasi? Apakah kita memiliki sistem kaderisasi? Apakah kita
memiliki program dakwah? Apakah kita membantu orang miskin?
Apakah kita membangun ekonomi umat?
Apakah kita mendidik keluarga? Apakah kita melahirkan penulis, dai, guru,
pengusaha, ilmuwan, pemimpin, dan profesional Muslim yang memiliki iman dan
visi dakwah? Jika jawabannya belum, maka pekerjaan kita masih panjang.
Sebab Al-Jama'ah yang sehat bukan sekadar tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki tujuan sama. Ia adalah tempat manusia saling membentuk menjadi lebih baik. Di dalamnya ada ilmu yang menghidupkan akal, iman yang menghidupkan hati, ukhuwah yang menguatkan langkah, kepemimpinan yang mengarahkan, tarbiyah yang membentuk karakter, dan amal yang memberikan manfaat. Orang yang masuk ke dalamnya tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapat?” tetapi juga harus bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?” Dari sinilah lahir jiwa pengabdian.
Maka jangan tunggu umat menjadi
sempurna baru kita mau berjamaah. Justru karena umat masih banyak kekurangan,
kita dipanggil untuk memperbaikinya bersama. Jangan tunggu ada generasi
hebat baru kita melakukan kaderisasi. Justru karena generasi hebat belum
banyak, kita harus mulai mendidiknya sekarang.
Jangan menunggu semua orang
sepemikiran baru kita bekerja sama. Belajarlah bekerja bersama dalam perkara
yang benar, dengan ilmu, adab, dan saling menghormati. Peradaban tidak dibangun
dalam sehari. Ia dibangun oleh manusia-manusia yang sabar menanam, meskipun
mungkin mereka sendiri tidak sempat menikmati seluruh buahnya.
Pada akhirnya, pertanyaan “Kitakah
Generasi Al-Jama'ah?” harus berubah menjadi pertanyaan yang lebih personal:
“Apa yang sudah saya lakukan untuk menjadi bagian dari generasi itu?”
Apakah saya sudah memperbaiki diri? Apakah saya sudah memperbaiki keluarga?
Apakah saya sudah mendidik generasi setelah saya? Apakah saya sudah memperkuat
ukhuwah? Apakah saya sudah mengurangi perpecahan? Apakah saya sudah menjadi
orang yang ketika hadir membuat jamaah semakin kuat, bukan semakin lemah?
Kita tidak membutuhkan generasi yang
hanya pandai berbicara tentang kejayaan Islam. Kita membutuhkan generasi
yang mau membayar harga perjuangan itu dengan ilmu, waktu, tenaga, harta,
kesabaran, dan pengorbanan. Generasi yang tidak sibuk bertanya, “Siapa yang
paling hebat?” tetapi bertanya, “Bagaimana kita bisa bersama-sama menjadi lebih
kuat?” Generasi yang tidak menjadikan Islam sebagai slogan, tetapi
menjadikannya jalan hidup. Generasi yang tidak hanya ingin dikenang karena
namanya, tetapi ingin meninggalkan amal, ilmu, kader, dan peradaban.
Maka mari kita mulai dari diri kita
sendiri. Bukan besok. Bukan nanti. Sekarang. Perbaiki iman. Kokohkan
ilmu. Hidupkan ukhuwah. Hormati ulama. Taati dalam perkara yang ma'ruf. Didik
keluarga. Bangun generasi. Layani umat. Sebarkan kebaikan. Dan jangan berhenti
hanya karena perjalanan terasa panjang.
Sebab boleh jadi kita tidak akan
menyaksikan seluruh kejayaan yang kita cita-citakan. Tetapi kita bisa menjadi generasi
yang menanam benihnya. Dan bisa jadi, ketika kita sudah berada di bawah
tanah, anak-anak muda yang pernah kita didik akan meneruskan perjuangan itu.
Itulah makna menjadi generasi Al-Jama'ah: hidup bukan hanya untuk
menyelamatkan diri, tetapi ikut menjaga agama, menguatkan umat, dan menyiapkan
generasi yang akan melanjutkan estafet kebaikan.
Kitakah generasi itu?
Jika jawabannya belum, maka mari
menjadi generasi itu.
Jika jawabannya sudah, maka buktikan
dengan amal.
Karena Al-Jama'ah bukan sekadar
tempat kita berada. Al-Jama'ah adalah amanah yang harus kita hidupkan.[BA]

Posting Komentar untuk "Kitakah Generasi Al-Jama'ah?"