PELITA MAJALENGKA - Ada seorang perempuan yang mungkin sebenarnya baik. Ia rajin shalat, memakai jilbab, membaca Al-Qur'an, bahkan terkadang menangis ketika mendengar kajian tentang dosa dan akhirat. Tetapi ada satu bagian dalam hidupnya yang belum selesai: ia masih memiliki pacar. Ketika dinasihati, ia mungkin berkata, “Aku memang pacaran, tapi aku tidak pernah melakukan zina.”
Kalimat ini sekilas terdengar melegakan. Seolah-olah
selama belum melakukan zina, semuanya masih aman. Padahal Allah tidak hanya
melarang zina, tetapi juga melarang segala sesuatu yang mendekatkan seseorang
kepada zina. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu mendekati zina.
Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS.
Al-Isra: 32).
Perhatikan baik-baik kalimat Allah: “jangan mendekati
zina.” Allah tidak hanya berkata, “Jangan berzina.” Mengapa? Karena Allah
paling tahu sifat manusia. Allah tahu bahwa zina biasanya tidak dimulai dengan
zina. Ia sering dimulai dari sesuatu yang kelihatannya kecil. Awalnya hanya
berkenalan. Kemudian sering chat. Lalu mulai saling perhatian. Kemudian menjadi
tempat curhat. Lama-lama muncul panggilan sayang.
Setelah itu mulai saling menunggu pesan, saling cemburu,
ingin bertemu, ingin berjalan bersama, ingin berduaan, kemudian batas-batas
yang sebelumnya terasa mustahil mulai dianggap biasa. Tidak sedikit orang
akhirnya berkata, “Aku sendiri tidak tahu kok semuanya bisa sampai sejauh ini.”
Karena itu, seorang muslimah tidak boleh merasa aman
hanya karena berkata, “Kami belum melakukan apa-apa.” Sebab persoalannya bukan
hanya apa yang sudah dilakukan, tetapi ke mana hubungan itu sedang berjalan.
Rasulullah ﷺ
bersabda, “Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita
kecuali setan menjadi pihak ketiga di antara keduanya.” (HR. Tirmidzi).
Di zaman sekarang, khalwah tidak selalu terjadi di tempat
yang sepi. Dua orang bisa berada di kamar masing-masing, tetapi selama
berjam-jam berbicara melalui handphone. Tidak bersentuhan secara fisik, tetapi
hati mereka saling membuka pintu. Mereka saling mengetahui masalah pribadi,
saling menjadi tempat menangis, saling menghibur, bahkan saling merasa bahwa
hanya mereka berdua yang paling memahami satu sama lain.
Dalam ilmu komunikasi, komunikasi melalui media digital
memang dapat membentuk kedekatan emosional yang sangat kuat. Joseph Walther
melalui konsep hyperpersonal communication menjelaskan bahwa komunikasi
berbasis media tertentu bahkan dapat membuat seseorang merasa sangat dekat
dengan orang lain karena komunikasi memungkinkan seseorang memilih apa yang
ingin ditampilkan tentang dirinya.
Maka jangan remehkan kalimat, “Kami cuma chat.” Chat yang
dilakukan terus-menerus dapat membangun ikatan emosional. Ikatan itu kemudian
membuat seseorang sulit melepaskan hubungan yang sebenarnya belum halal.
Yang perlu dipahami adalah bahwa berjilbab dan
meninggalkan pacaran bukan dua pilihan yang saling bertentangan. Kita membutuhkan
keduanya. Jilbab adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah dalam menjaga
aurat dan kehormatan. Menjaga batas dengan lawan jenis juga merupakan bagian
dari ketaatan kepada Allah.
Jangan berkata, “Saya sudah berjilbab, berarti saya sudah
baik.” Lebih indah jika seorang muslimah berkata, “Saya berjilbab karena ingin
taat kepada Allah. Karena itu, saya juga ingin belajar memperbaiki cara saya
mencintai.”
Jilbab bukan tanda bahwa seseorang sudah sempurna. Jilbab
adalah salah satu tanda bahwa ia sedang berjalan menuju kesempurnaan ketaatan.
Kalau hari ini masih ada pacaran, jangan merasa terlalu hina untuk berubah.
Jangan pula merasa terlalu nyaman untuk bertahan.
Allah tidak meminta kita menjadi manusia yang tidak
pernah salah. Allah meminta kita kembali ketika menyadari kesalahan. Rasulullah
ﷺ bersabda, “Setiap
anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah
adalah mereka yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi).
Maka kalau engkau berjilbab tetapi masih pacaran, jangan
lepaskan jilbabmu. Pertahankan jilbabmu, lalu lepaskan pacaranmu. Jangan karena
merasa belum sempurna, engkau meninggalkan ketaatan yang sudah ada. Perbaiki
sedikit demi sedikit. Bisa jadi suatu hari nanti engkau melihat perjalanan
hidupmu dan berkata, “Alhamdulillah, dulu Allah menyelamatkanku ketika aku
masih mengira bahwa pacaran adalah cinta.”[BA]

Posting Komentar untuk "Aku Berjilbab, Tapi Aku Juga Punya Pacar"