“Aku Kok Masih Bisa Jatuh Cinta?”


PELITA MAJALENGKA
- “Padahal aku sudah berjilbab. Padahal aku sudah ikut kajian. Padahal aku tahu pacaran itu tidak boleh. Tapi kenapa aku masih bisa jatuh cinta?” Pertanyaan seperti ini sangat manusiawi. Sebab jatuh cinta adalah bagian dari fitrah manusia. Islam tidak pernah mengatakan bahwa seorang muslimah tidak boleh memiliki rasa suka kepada laki-laki. Allah justru menciptakan manusia dengan rasa cinta dan kasih sayang.

Allah berfirman, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).

Jadi jangan merasa berdosa hanya karena tiba-tiba muncul rasa suka kepada seseorang. Perasaan yang datang tanpa kita undang bukanlah sesuatu yang selalu berada dalam kendali kita. Yang menjadi persoalan adalah apa yang kita lakukan setelah rasa itu muncul. Engkau mungkin tidak memilih untuk menyukai seseorang.

Tetapi engkau memilih untuk terus melihat fotonya, mencari alasan untuk menghubunginya, menunggu pesannya, membuka percakapan setiap malam, menjadikannya tempat curhat, bertemu dengannya, bahkan melakukan sesuatu yang Allah larang. Di situlah letak tanggung jawab kita.

Allah berfirman, “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menahan pandangan dan memelihara kemaluannya...” (QS. An-Nur: 30). Kemudian perintah serupa juga diberikan kepada kaum perempuan dalam ayat berikutnya. Rasulullah bersabda, “Telah ditetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina... zina mata adalah pandangan...” (HR. Muslim). Hadis ini mengajarkan bahwa perjalanan menuju dosa sering dimulai dari sesuatu yang tampaknya sederhana. Mata melihat, hati tertarik, pikiran membayangkan, komunikasi dimulai, lalu hubungan semakin dekat.

Karena itu, jangan berkata, “Aku tidak bisa berhenti mencintainya.” Mungkin yang lebih jujur adalah, “Aku terlalu sering memberi makan rasa cintaku kepadanya.” Perasaan itu seperti api. Kalau tidak diberi bahan bakar, lama-lama mengecil. Tetapi kalau setiap hari diberi perhatian, pesan, foto, panggilan, dan pertemuan, jangan heran kalau akhirnya menjadi api yang sulit dipadamkan.

Islam tidak menyuruhmu membunuh hati. Islam mengajarimu menempatkan hati pada tempat yang benar. Kalau memang dia orang yang baik dan engkau serius kepadanya, jangan jadikan hubungan kalian menggantung tanpa arah.

Kalau sudah siap menikah, bicarakan dengan cara yang baik dan libatkan keluarga. Tetapi kalau belum siap menikah, jagalah jarak. Sebab cinta yang benar tidak selalu berkata, “Aku ingin memilikimu sekarang.” Kadang cinta yang benar justru berkata, “Aku mencintaimu, karena itu aku tidak ingin menyeretmu ke dalam dosa.”

Ibnul Qayyim rahimahullah banyak menjelaskan bagaimana hawa nafsu dan dosa sering berjalan melalui tahapan-tahapan kecil. Seseorang tidak selalu langsung jatuh ke dalam dosa besar. Ia sering melewati pintu-pintu kecil yang terus dibuka sampai akhirnya hati sulit kembali. Karena itu, ketika cinta datang, jangan panik. Bawa cinta itu kepada Allah. Berdoalah, “Ya Allah, jika dia baik untuk agamaku, hidupku, dan akhiratku, mudahkanlah dia menjadi pasangan halal bagiku. Jika tidak, lepaskan hatiku darinya dan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik.”

Engkau tidak harus membenci orang yang pernah engkau cintai. Engkau hanya perlu berhenti mencintainya dengan cara yang Allah tidak ridai. Sebab mungkin masalahnya bukan pada rasa cintamu. Masalahnya adalah ke mana rasa cinta itu engkau bawa.[BA]

 

Posting Komentar untuk " “Aku Kok Masih Bisa Jatuh Cinta?”"