PELITA MAJALENGKA - Banyak perjuangan tidak hancur karena serangan musuh dari luar, tetapi karena penyakit yang tumbuh diam-diam di dalam hati para pelakunya. Sebuah bangunan yang kokoh akan runtuh jika pondasinya rapuh. Demikian pula dakwah, organisasi, jamaah, dan perjuangan umat akan melemah jika hati para aktivisnya dipenuhi penyakit yang tidak disadari. Musuh terbesar terkadang bukan mereka yang berada di luar barisan, melainkan hawa nafsu yang bersembunyi di dalam dada.
Ketika seseorang mulai merasa dirinya paling berjasa, paling memahami keadaan, dan paling layak didengar, saat itulah benih kehancuran mulai ditanam. Ia masih berbicara tentang ukhuwah, tetapi diam-diam menyukai pujian. Ia masih menyerukan persatuan, tetapi tidak rela jika orang lain lebih dihormati. Ia masih mengajak kepada Allah, tetapi hatinya mulai mencari pengakuan manusia.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa sesuatu yang paling beliau khawatirkan atas umatnya adalah syirik kecil, yaitu riya'. Amal yang tampak besar di hadapan manusia bisa menjadi ringan di sisi Allah jika tercampuri keinginan untuk dipuji. Sebaliknya, amal yang kecil dan tersembunyi bisa menjadi gunung pahala karena dilakukan dengan ikhlas. Oleh karena itu, perjuangan yang benar harus selalu diawali dengan perjuangan melawan diri sendiri.
Aktivis yang tidak membersihkan hatinya akan mudah terjebak dalam persaingan yang tidak sehat. Ia lebih sibuk membandingkan dirinya dengan saudaranya daripada memperbaiki hubungannya dengan Allah. Ia merasa gelisah ketika orang lain berhasil. Ia merasa senang ketika saingannya gagal. Padahal penyakit semacam ini adalah racun yang perlahan menggerogoti bangunan perjuangan dari dalam.
Banyak gerakan besar runtuh bukan karena kekurangan dana atau kurangnya kader, tetapi karena hilangnya keikhlasan. Ketika hati sudah dipenuhi ambisi pribadi, perjuangan berubah menjadi arena perebutan pengaruh. Ukhuwah berubah menjadi formalitas. Musyawarah berubah menjadi ajang mempertahankan ego. Dan dakwah berubah menjadi kendaraan menuju kepentingan pribadi.
Karena itu, setiap pejuang perlu sering bertanya kepada dirinya sendiri: "Apakah aku masih berjuang karena Allah, atau karena diriku sendiri?" Pertanyaan ini sederhana, tetapi sangat berat untuk dijawab dengan jujur. Sebab hati manusia mudah berubah dan mudah tertipu oleh penampilan amalnya sendiri. Orang yang paling berbahaya bukanlah yang sadar dirinya sakit, tetapi yang merasa sehat padahal penyakitnya semakin parah.
Lebih Takut Kehilangan Jabatan daripada Kehilangan Keikhlasan
Salah satu tanda penyakit hati yang berbahaya adalah ketika seseorang lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan keikhlasan. Ketika posisi terancam, ia gelisah siang dan malam. Namun ketika niatnya tercemar, ia tidak merasa ada masalah. Padahal kehilangan jabatan hanya berdampak di dunia, sedangkan kehilangan keikhlasan dapat menghancurkan amal hingga akhirat.
Jabatan pada hakikatnya hanyalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Ia bukan kemuliaan yang harus diperebutkan. Ia bukan mahkota yang harus dipertahankan dengan segala cara. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula hisab yang menantinya di hadapan Allah.
Ironisnya, ada orang yang dahulu berjuang dengan penuh ketulusan, tetapi berubah ketika diberi posisi. Ia mulai sulit menerima kritik. Ia merasa organisasi tidak akan berjalan tanpa dirinya. Ia menganggap pergantian kepemimpinan sebagai ancaman, bukan sebagai sunnatullah dalam kehidupan.
Padahal para sahabat Nabi ﷺ justru takut ketika diberi amanah. Mereka memahami bahwa kepemimpinan bukanlah hadiah, melainkan beban. Mereka tidak berlomba mencari jabatan. Bahkan sebagian dari mereka berusaha menghindarinya karena khawatir tidak mampu mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah.
Keikhlasan jauh lebih berharga daripada kedudukan apa pun. Jabatan bisa hilang dalam satu keputusan. Popularitas bisa lenyap dalam satu peristiwa. Tetapi amal yang ikhlas akan tetap hidup meskipun nama pelakunya telah dilupakan manusia. Di situlah letak kemuliaan sejati seorang pejuang.
Tidak Semua yang Berjuang Sedang Memperjuangkan Kebenaran
Semangat saja tidak cukup untuk menjadikan sebuah perjuangan bernilai di sisi Allah. Banyak orang berjuang dengan sungguh-sungguh, tetapi arah perjuangannya salah. Ada yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harta, namun sebenarnya sedang memperjuangkan ego, kelompok, atau kepentingan dunia.
Kebenaran tidak diukur dari besarnya massa yang mengikuti. Kebenaran juga tidak ditentukan oleh banyaknya tepuk tangan dan pujian. Ukuran kebenaran adalah kesesuaiannya dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, seorang pejuang harus selalu memastikan bahwa langkahnya berada di atas jalan yang benar.
Kadang-kadang seseorang begitu bersemangat membela kelompoknya hingga tidak mampu lagi membedakan antara kebenaran dan loyalitas buta. Apa pun yang dilakukan kelompoknya dianggap benar. Siapa pun yang mengkritik dianggap musuh. Padahal sikap seperti ini dapat menutup pintu hidayah dan objektivitas.
Seorang mukmin sejati mencintai kebenaran lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Jika ia salah, ia siap memperbaiki diri. Jika saudaranya benar, ia siap menerima dan mendukungnya. Sebab tujuan utama perjuangan bukan memenangkan diri sendiri, tetapi memenangkan kebenaran.
Jangan Biarkan Dakwah Menjadi Panggung Kesombongan
Dakwah adalah jalan para nabi. Namun jalan yang mulia ini bisa berubah menjadi jebakan jika tidak dijaga dengan hati yang bersih. Kesombongan sering datang bukan ketika seseorang tidak dikenal, tetapi ketika ia mulai dikenal dan dihormati.
Awalnya ia berdakwah untuk mengajak manusia kepada Allah. Lambat laun ia mulai menikmati perhatian manusia. Ia merasa bangga ketika namanya disebut. Ia kecewa ketika tidak dilibatkan. Ia sedih bukan karena dakwah melemah, tetapi karena dirinya tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Kesombongan adalah penyakit yang sangat halus. Ia bisa bersembunyi di balik ceramah, tulisan, jabatan, bahkan ibadah. Seseorang mungkin tampak rendah hati di hadapan manusia, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Inilah penyakit yang dahulu menyebabkan Iblis terusir dari rahmat Allah.
Seorang dai sejati tidak sibuk membesarkan namanya. Ia sibuk membesarkan agama Allah. Ia tidak ingin manusia mengaguminya, tetapi ingin manusia mencintai Rabb-nya. Ketika dakwah berhasil, ia bersyukur kepada Allah. Ketika dirinya dilupakan, ia tetap tenang karena yang dicarinya bukan popularitas.
Terlalu Banyak yang Ingin Memimpin, Terlalu Sedikit yang Siap Berkhidmat
Di banyak tempat, orang yang ingin menjadi pemimpin sering kali lebih banyak daripada orang yang siap menjadi pelayan umat. Semua ingin berada di depan. Semua ingin didengar. Semua ingin dihormati. Tetapi sedikit yang siap bekerja dalam diam tanpa pujian.
Padahal hakikat kepemimpinan dalam Islam adalah pelayanan. Pemimpin bukan orang yang paling banyak dilayani, tetapi yang paling banyak melayani. Ia bukan yang paling dimuliakan, tetapi yang paling besar pengorbanannya. Semakin tinggi posisinya, semakin besar tanggung jawabnya.
Penyakit cinta kedudukan sering membuat seseorang sulit menerima peran biasa. Ia merasa harus selalu menjadi pusat keputusan. Ia merasa kontribusinya hanya bernilai jika berada di posisi teratas. Akibatnya, muncul persaingan yang tidak perlu dan energi perjuangan habis untuk urusan internal.
Padahal umat tidak hanya membutuhkan pemimpin. Umat juga membutuhkan guru, penulis, penggerak, donatur, relawan, dan pelayan-pelayan kebaikan yang bekerja dengan tulus. Banyak amal besar lahir dari orang-orang yang tidak terkenal, tetapi sangat ikhlas dalam pengabdiannya.
Menang Sendiri, Kalah Bersama
Salah satu tragedi terbesar dalam perjuangan adalah ketika seseorang ingin menang sendiri. Ia ingin pendapatnya diterima tanpa musyawarah. Ia ingin keberhasilan dikaitkan dengan dirinya. Namun ketika kegagalan terjadi, ia mencari orang lain untuk disalahkan.
Sikap seperti ini merusak ukhuwah dan menghancurkan kepercayaan. Orang-orang menjadi enggan bekerja sama. Musyawarah kehilangan makna. Kebersamaan berubah menjadi formalitas yang kosong. Akhirnya perjuangan kehilangan kekuatannya karena setiap orang berjalan dengan egonya masing-masing.
Padahal kemenangan sejati bukanlah ketika seseorang berhasil mengalahkan saudaranya dalam perdebatan. Kemenangan sejati adalah ketika kebenaran ditegakkan dan persatuan tetap terjaga. Kadang-kadang seseorang harus mengalah demi menjaga hati saudaranya. Kadang-kadang ia harus menerima pendapat lain demi kemaslahatan yang lebih besar.
Mari kita renungkan dengan jujur. Jangan-jangan selama ini kita terlalu sibuk memperjuangkan posisi, nama, dan pengaruh, tetapi lalai memperjuangkan kebersihan hati. Jangan-jangan kita takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan keikhlasan. Jangan-jangan kita terlihat berjuang di hadapan manusia, tetapi sebenarnya sedang berjuang untuk diri sendiri. Semoga Allah membersihkan hati-hati kita, menjaga keikhlasan kita, dan menjadikan setiap langkah perjuangan sebagai jalan menuju ridha-Nya, bukan jalan menuju kemuliaan diri yang semu.[BA]

Posting Komentar untuk "Penyakit Hati Para Aktivis dan Pejuang"