PELITA MAJALENGKA - Banyak pasangan bertanya-tanya, mengapa rumah tangga yang dahulu penuh tawa, doa, dan harapan, kini terasa berat, kering, dan melelahkan. Padahal secara lahiriah, kebutuhan terpenuhi, rumah ada, pekerjaan berjalan, dan anak-anak tumbuh.
Namun ada satu yang hilang: keberkahan. Rumah tangga tanpa keberkahan ibarat rumah mewah tanpa cahaya—lengkap, tetapi dingin dan menyesakkan. Keberkahan bukan soal banyaknya harta, melainkan hadirnya ketenangan, kemudahan dalam kesulitan, dan rasa cukup di hati.
Pertama, melalaikan Allah dalam kehidupan rumah tangga
Ketika shalat mulai diremehkan, doa jarang dipanjatkan, dan Al-Qur’an hanya menjadi pajangan, rumah kehilangan ruhnya. Banyak pasangan sibuk membangun karier, bisnis, dan masa depan anak, tetapi lupa membangun hubungan dengan Allah. Padahal, rumah yang jauh dari dzikir akan mudah dimasuki kegelisahan, prasangka, dan pertengkaran kecil yang membesar tanpa sebab.
Kedua, komunikasi yang dipenuhi ego, bukan empati
Rumah tangga tidak diberkahi ketika suami dan istri lebih sibuk membela diri daripada saling memahami. Kata-kata menjadi senjata, bukan penenang. Nada suara lebih sering meninggi daripada menenangkan. Ilmu psikologi keluarga menunjukkan bahwa konflik bukan masalah utama, melainkan cara menyikapinya. Ketika empati mati, keberkahan ikut pergi.
Ketiga, hilangnya adab antara suami dan istri
Banyak pasangan lupa bahwa pernikahan bukan hanya kontrak sosial, tetapi ikatan ibadah. Ketika adab hilang—saling merendahkan, membuka aib pasangan, atau berkata kasar—maka pintu rahmat tertutup perlahan. Islam menekankan akhlak dalam rumah tangga karena adab adalah penjaga keberkahan jangka panjang.
Keempat, rezeki yang tidak dijaga kehalalannya
Harta yang masuk ke rumah bukan hanya soal jumlah, tetapi sumbernya. Rezeki yang bercampur dengan kezaliman, riba, penipuan, atau kecurangan akan membawa dampak pada ketenangan keluarga. Penelitian juga menunjukkan bahwa tekanan finansial yang tidak sehat sering berakar dari cara memperoleh dan mengelola uang, bukan semata kekurangannya.
Kelima, abainya peran dan tanggung jawab
Rumah tangga menjadi tidak berkah ketika peran saling dipertukarkan tanpa kesepakatan, atau ditinggalkan tanpa rasa bersalah. Suami lalai memimpin dan melindungi, istri terbebani sendirian, anak kehilangan figur. Ketidakseimbangan ini melahirkan kelelahan emosional yang perlahan merusak cinta.
Keenam, membiarkan luka batin menumpuk tanpa penyelesaian
Banyak pasangan memilih diam, memendam, dan berharap waktu menyembuhkan segalanya. Padahal luka yang dipendam akan berubah menjadi jarak emosional. Psikologi menyebutnya emotional withdrawal—menarik diri secara perlahan hingga pasangan hidup seperti orang asing. Rumah tangga yang tidak berani jujur pada luka, sulit meraih keberkahan.
Ketujuh, terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa keluarga
Ironisnya, banyak orang bekerja keras demi keluarga, tetapi justru kehilangan keluarga itu sendiri. Waktu habis untuk layar, pekerjaan, dan ambisi, sementara kehadiran nyata di rumah semakin langka. Anak-anak tumbuh tanpa kedekatan emosional, pasangan merasa sendiri meski serumah. Keberkahan hadir ketika waktu, bukan hanya uang, diberikan dengan tulus.
Kedelapan, tidak adanya visi ibadah dalam pernikahan
Ketika pernikahan hanya dimaknai sebagai tempat memenuhi kebutuhan biologis dan sosial, maka ia mudah rapuh. Rumah tangga yang diberkahi memiliki visi akhirat—saling menolong menuju ridha Allah. Tanpa visi ini, masalah kecil terasa besar karena tidak ada tujuan luhur yang menyatukan.
Kesembilan, minimnya rasa syukur dan apresiasi
Rumah tangga kehilangan berkah ketika yang terlihat hanya kekurangan, bukan nikmat. Ucapan terima kasih menjadi langka, apresiasi dianggap tidak penting. Padahal penelitian menunjukkan bahwa pasangan yang saling menghargai memiliki tingkat kebahagiaan dan ketahanan rumah tangga lebih tinggi. Syukur adalah magnet keberkahan.
Kesepuluh, enggan bermuhasabah dan memperbaiki diri
Banyak konflik rumah tangga berlarut-larut karena masing-masing merasa paling benar. Padahal perubahan besar selalu dimulai dari kesediaan bercermin. Rumah tangga diberkahi bukan karena tanpa masalah, tetapi karena penghuninya mau belajar, meminta maaf, dan memperbaiki diri.
Pada akhirnya, keberkahan rumah tangga bukan hadiah instan, melainkan buah dari kesadaran spiritual, kedewasaan emosional, dan komitmen bersama. Rumah tangga yang diberkahi mungkin tidak selalu mewah, tetapi terasa lapang. Tidak selalu mudah, tetapi penuh makna. Dan di sanalah cinta tumbuh bukan hanya untuk dunia, tetapi juga untuk akhirat.[]
