Kebaikan Itu Menular: Satu Kebaikan Bisa Menggerakkan Banyak Hati


PELITA MAJALENGKA
- Kebaikan itu menular. Ia tidak berhenti pada tangan orang yang melakukannya. Ia bisa berpindah dari satu hati ke hati yang lain, dari satu rumah ke rumah yang lain, dari satu manusia kepada manusia berikutnya. 

Kadang kita melakukan kebaikan yang menurut kita sangat kecil: tersenyum, membantu seseorang, memberi makan, menguatkan orang yang sedang sedih, memaafkan kesalahan, atau sekadar berkata, “Jangan menyerah.” Kita mungkin menganggapnya selesai ketika perbuatan itu selesai. Padahal, bisa jadi saat itulah perjalanan kebaikan baru dimulai.

Ada orang yang melihat kita menolong, lalu tergerak untuk menolong orang lain. Ada anak yang melihat ayahnya bersedekah, kemudian belajar bahwa memberi adalah sesuatu yang mulia. Ada seorang tetangga yang melihat tetangganya membantu orang lain, lalu ikut membuka pintu rumahnya untuk membantu. Begitulah kebaikan bekerja. Ia menjadi contoh. Ia menyalakan sesuatu di dalam hati manusia.

Al-Qur’an bahkan memberikan prinsip yang sangat kuat: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 2). Perhatikan, Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk menjadi baik seorang diri. Allah memerintahkan agar kebaikan itu dikerjakan bersama, saling menguatkan, saling mendorong, dan saling menghidupkan. Kebaikan yang dilakukan bersama akan menjadi kekuatan sosial yang jauh lebih besar daripada kebaikan yang berjalan sendirian.

Rasulullah juga bersabda, “Barang siapa menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim). Ini luar biasa. Artinya, ketika kita menjadi sebab seseorang melakukan kebaikan, Allah tidak menjadikan pahala kita berkurang. Kita justru mendapatkan bagian pahala dari kebaikan yang lahir melalui diri kita.

Secara ilmiah, gagasan bahwa perilaku manusia dapat menyebar melalui hubungan sosial juga bukan sekadar perasaan. Para peneliti Nicholas Christakis dan James Fowler meneliti fenomena social contagion, yaitu bagaimana perilaku dan keadaan tertentu dapat menyebar melalui jaringan sosial manusia. Penelitian mereka mencakup berbagai jenis data dan perilaku, termasuk kerja sama, kebahagiaan, dan perilaku sosial lainnya.

Penelitian lain yang diterbitkan di PNAS menunjukkan adanya cooperative behavior cascades dalam jaringan sosial manusia—perilaku kooperatif seseorang dapat memengaruhi perilaku orang lain dalam jaringan sosialnya. Bahkan penelitian tentang perilaku prososial menemukan bahwa menyaksikan tindakan menolong dapat mengaktifkan dorongan untuk melakukan tindakan serupa, meskipun para peneliti juga menemukan bahwa efek tersebut tidak selalu sama kuat pada setiap orang.

Karena itu, jangan pernah berkata, “Kebaikan saya kecil, tidak akan mengubah apa-apa.” Bisa jadi Anda tidak melihat dampaknya, tetapi orang lain melihatnya. Anda mungkin tidak pernah tahu bahwa senyum Anda membuat seseorang kembali bersemangat. Anda mungkin tidak tahu bahwa sedekah Anda mengajarkan seseorang tentang kemurahan hati. Anda mungkin tidak tahu bahwa nasihat sederhana Anda menyelamatkan seseorang dari keputusan yang buruk.

Kebaikan bahkan bisa bergerak jauh melewati orang yang pertama kali menerimanya. Anda membantu seseorang hari ini. Besok, mungkin ia membantu orang lain. Orang yang dibantunya kemudian membantu orang berikutnya. Dari satu tangan berpindah ke tangan lain. Dari satu hati menyentuh hati yang lain. Dari satu tindakan kecil lahir rangkaian kebaikan yang tidak pernah kita hitung.

Inilah sebabnya seorang Muslim tidak boleh bosan menjadi baik hanya karena tidak segera melihat hasilnya. Jangan menunggu dunia menjadi baik baru kita berbuat baik. Jadilah salah satu alasan dunia menjadi lebih baik. Jangan menunggu orang lain memulai. Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari rumah. Mulailah dari keluarga. Mulailah dari masjid, sekolah, tempat kerja, lingkungan, dan ruang-ruang kecil tempat kita hidup.

Tersenyumlah. Mudahkan urusan orang lain. Maafkan ketika mampu membalas. Berikan makanan kepada yang membutuhkan. Angkat orang yang sedang jatuh. Ajarkan ilmu. Sebarkan nasihat yang benar. Doakan orang lain dalam diam. Jangan mempermalukan orang yang sedang belajar menjadi baik. Jangan remehkan satu amal hanya karena ukurannya kecil.

Allah berfirman, “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7).

Mungkin kebaikan kita hari ini hanya sebesar zarrah. Tetapi jangan lupa: Allah mampu membuat sesuatu yang kecil menjadi besar. Satu kata bisa mengubah hidup seseorang. Satu pertolongan bisa mengembalikan harapan. Satu teladan bisa mengubah sebuah keluarga. Satu orang yang konsisten berbuat baik bisa menggerakkan sebuah lingkungan.

Maka teruslah berbuat baik. Jangan berhenti hanya karena tidak dipuji. Jangan kecewa karena tidak dibalas. Jangan mundur karena hasilnya belum terlihat. Sebab tugas kita bukan memastikan ke mana kebaikan itu akan berjalan. Tugas kita adalah menanamnya dengan ikhlas.

Boleh jadi, kebaikan yang kita tanam hari ini baru tumbuh bertahun-tahun kemudian. Boleh jadi kita tidak sempat melihat buahnya di dunia. Tetapi selama ia dilakukan karena Allah, tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia.

Kebaikan itu menular. Kebaikan itu menggerakkan. Kebaikan itu memengaruhi. Maka jadilah orang yang menularkan kebaikan—bukan karena ingin dikenal sebagai orang baik, tetapi karena ingin menjadi jalan bagi hadirnya lebih banyak kebaikan di muka bumi. Wallahua’lam.(BA)

 

Posting Komentar untuk "Kebaikan Itu Menular: Satu Kebaikan Bisa Menggerakkan Banyak Hati"