PELITA MAJALENGKA - Ada sebuah pertanyaan penting yang layak direnungkan oleh siapa pun yang peduli terhadap masa depan dakwah Islam: siapa yang akan mengisi ruang digital umat dengan pesan-pesan Islam yang benar, menarik, cerdas, dan mencerahkan?
Pertanyaan ini semakin penting karena manusia hari ini tidak hanya hidup di masjid, sekolah, kampus, pasar, dan rumah. Mereka juga hidup di Instagram, TikTok, YouTube, Facebook, podcast, portal berita, dan berbagai ruang digital lainnya.
DataReportal dalam Digital 2026: Indonesia mencatat bahwa Indonesia memiliki sekitar 230 juta pengguna internet pada akhir 2025, dengan penetrasi 80,5 persen. Jumlah identitas pengguna media sosial mencapai sekitar 180 juta, setara 62,9 persen populasi.
Bayangkan betapa luasnya medan dakwah itu.
Karena itu, Komunikasi dan Penyiaran Islam atau KPI bukan sekadar jurusan untuk mencetak penyiar atau penceramah. KPI adalah salah satu pintu penting untuk mempersiapkan generasi komunikator Islam yang mampu menghadirkan nilai-nilai Islam di tengah perubahan zaman.
Ketika Dakwah Memasuki Layar Smartphone
Dakwah mengalami perubahan besar. Dahulu seseorang harus datang ke masjid untuk mendengarkan ceramah. Sekarang ceramah dapat masuk ke kamar, kendaraan, ruang kerja, bahkan ke genggaman seseorang melalui smartphone.
Sebuah penelitian sistematis terhadap 20 artikel ilmiah menemukan bahwa media sosial seperti Instagram, TikTok, YouTube, dan Facebook efektif digunakan untuk penyebaran informasi dan pendidikan Islam, meningkatkan literasi keagamaan, memperluas jangkauan dakwah kepada generasi muda, serta meningkatkan interaksi dan partisipasi audiens.
Namun, perubahan media juga membawa persoalan baru.
Dakwah digital tidak cukup hanya bermodalkan ilmu agama. Dai dan komunikator Islam harus memahami karakter audiens, bahasa visual, storytelling, algoritma, psikologi komunikasi, produksi konten, dan etika bermedia.
Inilah wilayah strategis mahasiswa KPI.
Alumni KPI Punya Prospek Besar
Bayangkan seorang mahasiswa KPI lulus dengan kemampuan membaca pesan agama sekaligus memahami dunia komunikasi.
Ia bisa menjadi content creator dakwah, jurnalis Islam, reporter, presenter, penyiar, podcaster, copywriter, social media specialist, digital strategist, videografer, editor, produser, public relations, pengelola media Islam, konsultan komunikasi, pengelola kampanye sosial, hingga entrepreneur di bidang media digital.
Peluangnya semakin terbuka karena komunikasi digital telah menjadi bagian dari kehidupan hampir semua institusi.
Masjid membutuhkan pengelola media sosial. Pesantren membutuhkan tim media. Lembaga zakat membutuhkan digital campaign. Organisasi Islam membutuhkan public relations. Media membutuhkan jurnalis digital. Perusahaan membutuhkan communication specialist. Tokoh publik membutuhkan pengelola personal branding.
Di mana ada manusia dan pesan, di situ ada kebutuhan terhadap komunikasi.
Dan selama umat Islam membutuhkan dakwah, di situ pula kebutuhan terhadap komunikator Islam akan terus ada.
Mahasiswa KPI Jangan Hanya Menjadi Penonton
Kesalahan terbesar mahasiswa KPI adalah kuliah empat tahun tetapi keluar kampus tanpa portofolio.
Padahal era digital memberikan kesempatan luar biasa.
Seorang mahasiswa semester pertama sudah bisa memiliki akun dakwah. Semester kedua bisa belajar membuat video. Semester ketiga mulai menulis artikel. Semester berikutnya belajar podcast, desain, jurnalistik, produksi siaran, dan strategi media sosial.
Ketika lulus, ia tidak hanya membawa ijazah.
Ia membawa portofolio.
Ia bisa menunjukkan puluhan artikel, ratusan konten, video, podcast, dokumentasi kegiatan, pengalaman menjadi reporter, kemampuan mengelola media sosial, serta personal branding yang telah dibangun sejak mahasiswa.
Inilah keunggulan besar mahasiswa KPI.
Kuliah sambil berkarya. Belajar sambil membangun masa depan.
Strategi Jitu Dakwah Digital Alumni KPI
Lalu bagaimana alumni KPI harus bergerak?
Pertama, kenali audiens. Jangan membuat konten berdasarkan apa yang ingin kita katakan saja. Pelajari apa yang sedang dibutuhkan masyarakat.
Kedua, kuatkan substansi. Jangan mengejar viral dengan mengorbankan kebenaran. Konten dakwah harus memiliki dasar keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, kuasai storytelling. Ceramah yang panjang dapat diubah menjadi cerita pendek, pengalaman nyata, analogi, ilustrasi, atau kisah yang menyentuh kehidupan sehari-hari.
Keempat, pahami karakter setiap platform. TikTok dan Reels membutuhkan kekuatan pada beberapa detik pertama. YouTube memungkinkan pembahasan lebih mendalam. Instagram dapat menggabungkan visual, carousel, video, dan interaksi.
Kelima, bangun personal branding. Masyarakat harus tahu: Anda siapa, keahlian Anda apa, dan manfaat apa yang Anda tawarkan.
Keenam, bangun komunitas, bukan sekadar followers. Dakwah tidak berhenti pada jumlah penonton. Tujuan akhirnya adalah perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku.
Penelitian terbaru tentang dakwah digital kepada Generasi Z menemukan bahwa konten visual yang singkat dan menarik, pesan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, interaksi dua arah, serta konsistensi personal branding menjadi faktor penting dalam efektivitas komunikasi dakwah digital.
Jangan Sampai Algoritma Mengalahkan Akhlak
Ada bahaya besar dalam dakwah digital: terlalu sibuk mengejar perhatian sampai lupa tujuan dakwah.
Algoritma menyukai keterlibatan. Konten kontroversial mudah mendapatkan komentar. Judul provokatif mudah mendapatkan klik. Konflik mudah mendatangkan penonton.
Tetapi dakwah tidak boleh tunduk sepenuhnya kepada logika viralitas.
Kajian tentang komunikasi Islam di ruang digital menunjukkan adanya kecenderungan pergeseran orientasi dakwah dari nilai edukatif dan spiritual menuju logika popularitas. Karena itu, kompetensi digital harus berjalan bersama etika komunikasi dan tanggung jawab sosial.
Alumni KPI harus menjadi generasi yang mampu berkata:
“Saya ingin viral, tetapi bukan dengan kebohongan. Saya ingin populer, tetapi bukan dengan menghina. Saya ingin banyak pengikut, tetapi bukan dengan mengorbankan prinsip Islam.”
Inilah karakter komunikator Islam masa depan.
KPI dan Kebangkitan Komunikasi Islam
Kebangkitan komunikasi Islam tidak akan lahir hanya dari banyaknya orang yang pandai berbicara. Ia membutuhkan generasi yang mampu menghubungkan wahyu dengan realitas, ilmu dengan teknologi, dakwah dengan kreativitas, dan pesan Islam dengan kebutuhan manusia.
Mahasiswa KPI memiliki peluang besar untuk menjadi generasi itu.
Mereka dapat menjadi jembatan antara masjid dan media sosial, antara pesantren dan dunia digital, antara ilmu Islam dan generasi muda, antara dakwah klasik dan komunikasi modern.
Maka jangan memandang KPI sebagai jurusan yang kecil.
Jangan pula menganggap masa depan alumninya sempit.
Justru di tengah ledakan komunikasi digital, kebutuhan terhadap orang yang mampu berkomunikasi dengan benar semakin besar.
Indonesia memiliki ratusan juta pengguna internet. Ratusan juta manusia itu membutuhkan informasi, pendidikan, inspirasi, keteladanan, dan makna.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah dakwah akan masuk dunia digital.
Dakwah sudah berada di sana.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Siapa yang akan mengisinya?
Semoga dari ruang-ruang kelas KPI lahir generasi yang tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta karya; bukan sekadar pengguna media, tetapi penggerak media; bukan sekadar komunikator, tetapi pembawa perubahan.
Sebab dari KPI, kita tidak hanya sedang menyiapkan alumni.
Kita sedang menyiapkan generasi untuk kebangkitan komunikasi Islam di era digital.[BA]

Posting Komentar untuk "Dari KPI untuk Kebangkitan Komunikasi Islam"