PELITA MAJALENGKA - Dahulu seorang dai membutuhkan mimbar untuk menyampaikan pesan. Hari ini, ia membutuhkan mimbar sekaligus media. Dahulu dakwah menunggu jamaah datang ke masjid. Sekarang dakwah dapat hadir lebih dahulu di layar smartphone, bahkan sebelum seseorang menginjakkan kaki ke masjid. Perubahan ini bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi perubahan besar dalam cara manusia memperoleh pengetahuan, membentuk opini, mencari identitas, dan memahami agama.
Indonesia sendiri telah memasuki ekosistem digital yang sangat besar. DataReportal mencatat sekitar 230 juta orang menggunakan internet di Indonesia pada akhir 2025, dengan penetrasi 80,5 persen. Pada periode yang sama terdapat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial, atau 62,9 persen dari total populasi. Angka tersebut menunjukkan satu kenyataan penting: ruang digital telah menjadi salah satu medan dakwah terbesar yang pernah dimiliki umat Islam.
Di sinilah Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) menemukan panggilan zamannya.
KPI bukan sekadar tempat belajar berbicara di depan publik. KPI adalah ruang untuk membentuk generasi dai, komunikator, jurnalis, kreator, dan penggerak media Islam yang mampu membawa pesan agama ke tengah masyarakat dengan bahasa yang dipahami zamannya. Seorang dai hari ini harus mampu menyampaikan pesan di mimbar, tetapi juga harus mengerti kamera, mikrofon, desain visual, video pendek, podcast, media sosial, storytelling, bahkan karakter algoritma.
Sebab persoalan dakwah hari ini bukan hanya “apa yang harus disampaikan?”, tetapi juga “bagaimana membuat pesan itu ditemukan, ditonton, dipahami, dipercaya, dan diamalkan?”
Berbagai penelitian terbaru menguatkan kenyataan tersebut. Studi tentang strategi komunikasi dakwah digital kepada Generasi Z di Indonesia menemukan bahwa efektivitas dakwah sangat dipengaruhi oleh konten visual yang singkat dan menarik, pesan yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari, interaksi dua arah, serta konsistensi personal branding. Algoritma media sosial juga dapat membantu memperluas jangkauan pesan berdasarkan tingkat keterlibatan pengguna.
Artinya, ilmu komunikasi bukan pelengkap dakwah. Ia menjadi salah satu perangkat penting dakwah di era digital.
Mahasiswa KPI memiliki keuntungan besar karena mempelajari dua dunia sekaligus: substansi keislaman dan ilmu komunikasi. Mereka dapat memahami bagaimana pesan agama disusun, bagaimana manusia menerima pesan, bagaimana media bekerja, bagaimana opini publik terbentuk, serta bagaimana teknologi digunakan untuk memperluas jangkauan komunikasi.
Keuntungan lainnya sangat luas. Mahasiswa KPI dapat belajar jurnalistik, penyiaran, produksi video, fotografi, public speaking, penulisan, retorika, komunikasi massa, komunikasi digital, psikologi komunikasi, manajemen media, hingga strategi dakwah. Kompetensi tersebut dapat dikembangkan menjadi portofolio sejak masih kuliah.
Karena itu, mahasiswa KPI tidak seharusnya menunggu wisuda untuk berkarya. Semester pertama sudah bisa membuat konten. Semester berikutnya bisa membangun podcast. Tahun berikutnya bisa mengelola media kampus atau media pesantren. Sebelum lulus, ia sudah memiliki portofolio jurnalistik, video, artikel, desain, podcast, dan pengalaman mengelola media sosial.
Inilah yang membuat prospek alumni KPI semakin menarik.
Alumni KPI dapat menjadi dai digital, content creator, jurnalis, reporter, presenter, penyiar, podcaster, videografer, editor, copywriter, social media specialist, digital campaigner, public relations, produser media, pengelola media Islam, konsultan komunikasi, pengelola personal branding, hingga entrepreneur di bidang komunikasi digital.
Peluangnya tidak hanya berada di lembaga dakwah. Pesantren membutuhkan pengelola media. Masjid membutuhkan tim komunikasi. Lembaga zakat membutuhkan digital campaign. Organisasi Islam membutuhkan public relations. Media membutuhkan jurnalis digital. Perusahaan membutuhkan communication specialist. Tokoh publik membutuhkan pengelola konten dan personal branding.
Dengan demikian, lulusan KPI tidak harus menjadi pegawai. Ia juga dapat menjadi pencipta lapangan kerja melalui industri media dan dakwah digital.
Tetapi ada satu hal yang harus dipahami: dakwah digital bukan sekadar memindahkan ceramah ke TikTok atau Instagram. Dakwah digital membutuhkan strategi.
Pertama, kenali audiens. Jangan membuat konten hanya berdasarkan apa yang ingin disampaikan. Cari tahu apa yang sedang dipikirkan, ditakutkan, dibutuhkan, dan dicari generasi muda.
Kedua, buat pesan yang relevan. Anak muda membutuhkan pembahasan tentang iman, tetapi mereka juga menghadapi persoalan pergaulan, kecanduan gawai, tekanan sosial, krisis identitas, keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan masa depan.
Ketiga, gunakan storytelling. Pesan agama yang berat dapat dikemas melalui kisah, pengalaman, analogi, ilustrasi, dan persoalan sehari-hari tanpa kehilangan substansinya.
Keempat, kuasai micro-content. Satu kajian dapat dipecah menjadi puluhan konten pendek: satu menit satu pesan, satu ayat satu pelajaran, satu hadis satu perubahan, atau satu persoalan satu solusi.
Kelima, bangun interaksi. Dakwah bukan komunikasi satu arah. Komentar, live streaming, diskusi, tanya jawab, dan komunitas digital dapat menciptakan hubungan yang lebih dekat antara dai dan mad'u. Penelitian mengenai dakwah kepada Generasi Z juga menunjukkan bahwa pendekatan yang interaktif, kreatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari lebih sesuai dengan karakter komunikasi generasi digital.
Keenam, jaga kredibilitas ilmiah. Inilah tantangan terbesar. Kecepatan media sering kali membuat orang berbicara sebelum membaca, membagikan sebelum memeriksa, dan membuat kesimpulan sebelum memahami persoalan. Penelitian tentang dakwah digital juga menyoroti tantangan berupa banjir informasi, misinformasi, dan kompetisi dengan konten yang tidak bermanfaat.
Karena itu, dai digital masa depan harus memiliki tiga kekuatan sekaligus: ilmu yang kuat, komunikasi yang menarik, dan akhlak yang baik.
Jangan sampai mengejar viralitas membuat dakwah kehilangan kejujuran. Jangan sampai mengejar followers membuat dai mengorbankan prinsip. Jangan sampai mengejar algoritma membuat kebenaran agama disederhanakan secara berlebihan.
Masa depan dakwah membutuhkan generasi yang mampu membaca kitab sekaligus membaca data, memahami dalil sekaligus memahami audiens, mampu berceramah sekaligus mampu membuat video, mampu menulis artikel sekaligus membangun komunitas digital.
Itulah generasi yang dapat dibangun melalui KPI.
Maka menjadi mahasiswa KPI bukan sekadar memilih jurusan. Ia adalah memilih medan perjuangan. Sebab ketika ratusan juta manusia berada di ruang digital, umat membutuhkan orang-orang yang mampu mengisi ruang tersebut dengan ilmu, hikmah, keteladanan, dan solusi.
Dari ruang kelas KPI, jangan hanya lahir sarjana yang mencari pekerjaan. Lahirkan dai yang menciptakan pengaruh, jurnalis yang membela kebenaran, kreator yang menyebarkan kebaikan, dan komunikator yang mengubah cara umat memahami Islam.
Sebab ledakan media bukan ancaman semata.
Bagi generasi KPI, ledakan media adalah peluang dakwah yang luar biasa besar.
Dan siapa yang mampu menguasai komunikasi hari ini, ia memiliki kesempatan untuk ikut menentukan wajah dakwah Islam di masa depan.[BA]

Posting Komentar untuk "KPI: Membangun Generasi Dai di Tengah Ledakan Media"