KPI dan Masa Depan Dakwah di Era Digital


PELITA MAJALENGKA - 
Dakwah tidak pernah kehilangan masa depan. Yang berubah adalah ruang, bahasa, teknologi, dan cara manusia menerima pesan dakwah. Jika dahulu dakwah identik dengan mimbar masjid, majelis taklim, radio, televisi, dan media cetak, hari ini dakwah telah memasuki layar smartphone. Satu video pendek bisa ditonton ribuan bahkan jutaan orang. Satu tulisan dapat dibaca lintas kota dan negara. Satu pesan kebaikan dapat berpindah dari satu akun ke akun lainnya hanya dalam hitungan detik.

Di sinilah Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) memiliki posisi yang semakin strategis.

Indonesia telah menjadi masyarakat digital dengan skala yang sangat besar. DataReportal mencatat terdapat sekitar 212 juta pengguna internet di Indonesia pada Januari 2025, dengan penetrasi 74,6 persen. Pada periode yang sama terdapat sekitar 143 juta identitas pengguna media sosial. Angka ini menunjukkan bahwa ruang digital bukan lagi ruang tambahan dalam kehidupan masyarakat. Ia telah menjadi salah satu ruang utama manusia mencari informasi, belajar, berdiskusi, membangun relasi, bahkan mencari jawaban atas persoalan agama.

Maka pertanyaannya bukan lagi, “Perlukah dakwah masuk media digital?” Pertanyaannya adalah: “Siapa yang akan mengisi ruang digital dengan dakwah yang benar, cerdas, menarik, santun, dan bertanggung jawab?”

Di sinilah alumni KPI dibutuhkan.

KPI Bukan Sekadar Belajar Bicara

Ada anggapan bahwa mahasiswa KPI hanya dipersiapkan menjadi penceramah. Pandangan ini terlalu sempit. KPI pada hakikatnya mempersiapkan generasi yang memahami komunikasi, media, dakwah, jurnalistik, produksi konten, penyiaran, psikologi komunikasi, retorika, dan strategi menyampaikan pesan Islam kepada masyarakat.

Di era digital, kemampuan tersebut justru menjadi modal yang sangat berharga.

Seorang alumni KPI dapat menjadi content creator dakwah, jurnalis Islam, social media specialist, produser video, penulis, copywriter, podcaster, presenter, penyiar, pengelola media Islam, konsultan komunikasi, digital strategist, public relations, hingga pengelola kampanye sosial berbasis nilai-nilai Islam.

Dengan kata lain, KPI tidak hanya melahirkan orang yang mampu berbicara di depan kamera, tetapi juga orang yang memahami mengapa pesan tertentu harus disampaikan, kepada siapa, melalui media apa, dengan bahasa seperti apa, dan bagaimana mengukur dampaknya.

Penelitian tentang mahasiswa KPI dan media baru menunjukkan bahwa media sosial telah membantu mempercepat pertukaran informasi, memperluas jaringan sosial, serta mendukung pembelajaran digital. Namun, mahasiswa juga menghadapi tantangan seperti distraksi, kesalahpahaman komunikasi, dan penggunaan media secara berlebihan.

Artinya, KPI dibutuhkan bukan hanya untuk membuat konten, tetapi untuk melahirkan komunikator yang memahami etika dan dampak komunikasi.

Dakwah Hari Ini Harus Mengerti Algoritma

Dakwah digital tidak cukup hanya dengan materi yang benar. Materi yang benar harus mampu ditemukan, ditonton, dipahami, dipercaya, dan dibagikan.

Penelitian terbaru mengenai strategi dakwah digital kepada Generasi Z menunjukkan bahwa efektivitas dakwah dipengaruhi oleh beberapa hal: visual yang menarik dan singkat, pesan yang kontekstual dengan kehidupan anak muda, interaksi dua arah, serta konsistensi personal branding. Algoritma media sosial juga berperan dalam memperluas jangkauan melalui sistem rekomendasi berdasarkan keterlibatan pengguna.

Maka alumni KPI perlu menguasai strategi sederhana tetapi kuat:

Pertama, pahami audiens. Jangan berbicara kepada semua orang dengan bahasa yang sama. Anak SMA, mahasiswa, pekerja, ibu rumah tangga, dan orang tua memiliki kebutuhan komunikasi yang berbeda.

Kedua, ubah materi menjadi konten. Satu kajian satu jam tidak harus dibuat menjadi video satu jam. Ia dapat dipecah menjadi puluhan konten: short video, carousel, quote, podcast, artikel, infografis, dan sebagainya.

Ketiga, gunakan bahasa yang dekat dengan kehidupan. Jangan hanya berkata, “Jangan berbuat maksiat.” Jelaskan bagaimana seorang anak muda menghadapi godaan pacaran, judi online, pornografi, FOMO, utang konsumtif, tekanan pergaulan, dan kecanduan media sosial.

Keempat, kuasai storytelling. Manusia tidak hanya mengingat informasi. Manusia mengingat cerita, pengalaman, konflik, keteladanan, dan pesan yang menyentuh emosinya.

Kelima, bangun personal branding. Alumni KPI harus memiliki identitas digital yang jelas: dikenal karena apa, berbicara tentang apa, dan memberikan manfaat apa.

Jangan Kejar Viral, Kejar Dampak

Inilah jebakan terbesar dakwah digital.

Algoritma menyukai sesuatu yang menarik perhatian. Sementara dakwah memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar mendapatkan views. Penelitian tentang komunikasi Islam di ruang digital menunjukkan adanya risiko pergeseran orientasi dakwah dari nilai edukatif dan spiritual menuju logika popularitas.

Karena itu, alumni KPI harus memiliki prinsip: viral boleh, tetapi nilai jangan hilang. Populer boleh, tetapi kebenaran jangan dikorbankan. Banyak penonton bagus, tetapi perubahan manusia jauh lebih penting.

Dakwah digital membutuhkan keseimbangan antara substansi agama, kemampuan komunikasi, kreativitas media, dan etika.

Sebab konten yang salah tidak berhenti pada satu layar. Ia dapat direkam, diunduh, dipotong, dikutip, dan disebarkan kembali tanpa batas.

Mengapa Harus Kuliah KPI?

Ada banyak keuntungan menjadi mahasiswa KPI.

Pertama, mahasiswa mendapatkan kemampuan komunikasi yang sangat dibutuhkan hampir semua bidang pekerjaan.

Kedua, mahasiswa belajar memproduksi berbagai bentuk media dan konten.

Ketiga, mahasiswa memiliki peluang membangun portofolio sejak kuliah.

Keempat, mahasiswa dapat membangun personal branding jauh sebelum lulus.

Kelima, mahasiswa memiliki peluang menjadi entrepreneur digital di bidang media dan komunikasi.

Keenam, mahasiswa memiliki kesempatan membangun jaringan dengan lembaga dakwah, pesantren, media, organisasi, perusahaan, dan komunitas.

Ketujuh, mahasiswa KPI memiliki peluang menggabungkan ilmu agama dengan teknologi komunikasi—kombinasi yang semakin penting di masa depan.

Kedelapan, mahasiswa tidak harus menunggu menjadi sarjana untuk berdakwah. Sejak semester pertama, ia sudah dapat membuat konten edukatif yang bermanfaat.

Bahkan penelitian mengenai pemanfaatan TikTok oleh mahasiswa KPI menunjukkan bahwa mahasiswa dapat menjadikannya sebagai sarana dakwah, meskipun masih terdapat tantangan dalam kemampuan teknis produksi, penyederhanaan materi, konsistensi konten, dan menghadapi respons negatif audiens.

Itulah sebabnya mahasiswa KPI harus mulai berpikir: kuliah bukan hanya untuk mendapatkan ijazah, tetapi untuk membangun kompetensi dan karya.

Masa Depan Dakwah Membutuhkan Generasi KPI

Masa depan dakwah tidak hanya membutuhkan ustaz yang pandai berbicara. Masa depan membutuhkan komunikator Islam yang memahami manusia dan teknologi.

Dibutuhkan generasi yang mampu membaca Al-Qur'an sekaligus membaca karakter audiens. Mampu memahami hadis sekaligus memahami algoritma. Mampu berbicara di mimbar sekaligus berbicara di depan kamera. Mampu menulis artikel sekaligus membuat script video 60 detik. Mampu berdakwah dengan hikmah sekaligus memahami psikologi pengguna media sosial.

Sebab hari ini, jika dakwah tidak hadir di ruang digital, ruang itu tetap akan terisi—tetapi belum tentu oleh pesan yang benar.

Karena itu, KPI bukan jurusan masa lalu.

KPI adalah salah satu jurusan yang sedang mempersiapkan masa depan dakwah.

Pertaruhannya sangat besar. Sebab generasi yang hari ini menghabiskan berjam-jam waktunya di depan layar adalah generasi yang kelak menentukan wajah masyarakat.

Maka pertanyaan terakhirnya sederhana:

Apakah kita akan membiarkan mereka belajar agama dari algoritma tanpa pendampingan, atau kita akan menyiapkan alumni KPI untuk menjadi komunikator Islam yang mampu menghadirkan cahaya di tengah derasnya arus informasi?

Dakwah membutuhkan mimbar.

Tetapi hari ini, dakwah juga membutuhkan kamera, mikrofon, laptop, kreativitas, data, storytelling, dan kemampuan membaca algoritma.

Dan di situlah mahasiswa KPI menemukan panggilan zamannya.

Bukan sekadar menjadi sarjana komunikasi. Tetapi menjadi generasi yang membuat pesan Islam terdengar, terlihat, dipahami, dipercaya, dan—yang paling penting—diamalkan.[BA] 

Posting Komentar untuk "KPI dan Masa Depan Dakwah di Era Digital"