PELITA MAJALENGKA - Di dunia, jabatan bisa membuat seseorang dihormati. Kekuasaan bisa membuat banyak orang berdiri menyambut kedatangannya. Harta bisa membuka banyak pintu yang tertutup. Namun ketika kematian datang, semuanya berakhir dalam sekejap. Kubur tidak pernah bertanya berapa lama seseorang memimpin, berapa besar kekuasaannya, atau berapa banyak orang yang memujinya.
Kubur hanya mengenal dua hal: iman dan amal.
Betapa banyak manusia yang ketika masih hidup terlihat begitu kuat. Ucapannya menjadi hukum. Perintahnya dilaksanakan. Kehadirannya dijaga ketat oleh pengawal dan protokoler. Akan tetapi ketika ruh telah meninggalkan jasad, semua kekuatan itu lenyap. Ia dibaringkan sendirian di liang kubur yang sempit, tanpa ajudan, tanpa pendukung, tanpa kekuasaan.
Ironisnya, ada sebagian manusia yang mengaku beriman kepada Allah, tetapi kehidupannya seolah tidak pernah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya. Lisan mereka menyebut Islam, tetapi keputusan-keputusan yang mereka ambil jauh dari nilai keadilan, kejujuran, dan kasih sayang kepada rakyat. Mereka memahami bahwa kematian pasti datang, namun bertindak seolah kehidupan dunia akan berlangsung selamanya.
Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa setiap pemimpin adalah pemelihara dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Jabatan bukan hadiah. Jabatan adalah amanah yang sangat berat. Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya di hadapan Allah kelak.
Yang membuat hati sedih adalah ketika rakyat kecil harus memikul beban yang semakin berat. Banyak orang bekerja dari pagi hingga malam hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Banyak yang hidup dalam kecemasan menghadapi biaya hidup yang terus meningkat. Mereka tidak meminta kemewahan. Mereka hanya berharap keadilan, kepedulian, dan kebijakan yang lahir dari hati yang takut kepada Allah.
Namun sejarah berulang kali menunjukkan bahwa ketika cinta dunia menguasai hati para pemimpin, rakyatlah yang sering menjadi korban pertama. Keserakahan melahirkan korupsi. Ambisi melahirkan kezaliman. Kesombongan melahirkan ketidakpedulian. Dan ketika semua itu berkumpul dalam satu hati, lahirlah berbagai keputusan yang menyakiti banyak orang.
Lebih berbahaya lagi ketika seorang penguasa dikelilingi oleh para penjilat. Mereka tidak lagi menyampaikan kebenaran. Mereka hanya mengatakan apa yang ingin didengar oleh atasannya. Akibatnya, penguasa hidup dalam ruang pujian yang menipu. Ia merasa dicintai padahal rakyat sedang menangis. Ia merasa berhasil padahal banyak hati yang terluka oleh kebijakannya.
Padahal seorang pemimpin yang baik tidak takut kepada kritik. Ia justru menjadikan kritik sebagai cermin untuk memperbaiki diri. Sebab orang yang paling celaka bukanlah yang memiliki kekurangan, melainkan yang tidak mau melihat kekurangannya sendiri. Kesombongan telah membinasakan banyak manusia sebelum kita.
Wahai para pemegang kekuasaan, ingatlah bahwa tidak ada air mata yang hilang di sisi Allah. Keluhan orang miskin yang terzalimi dicatat oleh-Nya. Doa orang yang teraniaya menembus langit tanpa penghalang. Mungkin di dunia seseorang mampu mengendalikan media, menguasai panggung, dan membentuk opini. Tetapi tidak ada satu pun yang mampu mengubah catatan amal yang ditulis oleh para malaikat.
Suatu hari nanti, semua manusia akan berdiri di hadapan Mahkamah Allah. Pada hari itu tidak ada pencitraan. Tidak ada jabatan. Tidak ada gelar kehormatan. Tidak ada kekebalan hukum. Yang ada hanyalah kebenaran yang dibuka tanpa bisa disembunyikan sedikit pun.
Karena itu, sebelum terlambat, kembalilah kepada Allah. Jangan jadikan kekuasaan sebagai jalan menuju kesombongan. Jadikanlah jabatan sebagai sarana melayani manusia dan mencari ridha-Nya. Sebab kemuliaan seorang pemimpin tidak diukur dari banyaknya pujian yang ia terima, tetapi dari banyaknya rakyat yang merasakan keadilan melalui tangannya.
Dunia hanya sebentar. Jabatan hanya sementara. Kekuasaan hanyalah titipan yang suatu saat akan dicabut. Tetapi hisab, kubur, dan akhirat adalah kenyataan yang akan dihadapi setiap manusia tanpa kecuali.
Maka takutlah kepada Allah sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna. Takutlah kepada Allah sebelum tanah menutup tubuh dan memutus seluruh hubungan dengan dunia. Takutlah kepada Allah, karena kubur tidak mengenal presiden, menteri, pejabat, atau penguasa. Kubur hanya mengenal hamba yang datang membawa iman, amal saleh, atau dosa yang belum sempat ditaubati.[BA]
Berbagi :
Posting Komentar
untuk "Takutlah Wahai Penguasa, Kubur Tidak Mengenal Jabatan"
Posting Komentar untuk "Takutlah Wahai Penguasa, Kubur Tidak Mengenal Jabatan"