Ketika Pemimpin Kehilangan Rasa Takut Akhirat


PELITA MAJALENGKA - 
Setiap pergantian pemimpin selalu membawa harapan baru. Rakyat menaruh mimpi pada sosok yang tampil meyakinkan di hadapan publik. Janji demi janji diucapkan dengan penuh keyakinan. Kata-kata tentang kesejahteraan, keadilan, dan keberpihakan kepada rakyat kecil menghiasi setiap masa kampanye.

Namun waktu sering kali menghadirkan kenyataan yang berbeda. Setelah kekuasaan berada di tangan, sebagian pemimpin berubah menjadi sosok yang jauh dari harapan rakyat. Mereka lebih sibuk menjaga citra daripada mendengar jeritan masyarakat. Mereka lebih peka terhadap kritik yang menyentuh kekuasaan daripada tangisan rakyat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Rakyat sesungguhnya tidak meminta kemewahan. Mereka hanya ingin hidup yang layak. Mereka ingin harga kebutuhan pokok terjangkau. Mereka ingin pekerjaan yang memadai. Mereka ingin pendidikan dan kesehatan yang mudah diakses tanpa harus mengorbankan masa depan keluarga.

Akan tetapi, dalam banyak keadaan, rakyat justru merasa semakin terbebani. Berbagai kebijakan lahir tanpa mampu dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Program demi program diumumkan dengan bahasa yang indah, namun dampaknya sering kali dirasakan berbeda oleh rakyat di lapangan. Di ruang-ruang diskusi, di warung-warung kecil, dan di sudut-sudut desa, keluhan masyarakat terus terdengar.

Yang lebih menyedihkan adalah ketika korupsi masih menjadi penyakit yang sulit diberantas. Dari tahun ke tahun, kasus demi kasus terus bermunculan. Sebagian pejabat yang seharusnya menjadi pelayan rakyat justru memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi. Uang yang semestinya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat malah berpindah ke rekening segelintir orang yang rakus terhadap dunia.

Padahal jabatan bukanlah kemuliaan. Jabatan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Tidak ada kekuasaan yang kekal. Tidak ada singgasana yang abadi. Tidak ada pengawal yang mampu melindungi seseorang dari hisab Allah pada hari kiamat.

Yang mengkhawatirkan di zaman ini adalah ketika sebagian penguasa tampak lebih takut kehilangan popularitas daripada kehilangan ridha Allah. Mereka lebih khawatir terhadap penurunan citra daripada kerusakan moral yang terjadi di tengah masyarakat. Mereka lebih sibuk menghitung angka survei daripada menghitung bekal menuju alam kubur.

Padahal kritik rakyat bukanlah musuh. Demonstrasi bukan selalu kebencian. Dalam banyak keadaan, kritik adalah bentuk kepedulian. Mahasiswa yang turun ke jalan belum tentu membenci negaranya. Justru sering kali mereka bergerak karena masih peduli terhadap masa depan bangsa. Sejarah membuktikan bahwa banyak perubahan besar lahir dari keberanian orang-orang muda yang berani menyuarakan kebenaran.

Sungguh menyedihkan apabila kritik yang santun dianggap ancaman. Lebih menyedihkan lagi apabila suara rakyat dianggap gangguan yang harus dibungkam. Sebab pemimpin yang baik tidak hanya senang mendengar pujian. Pemimpin yang baik juga siap menerima nasihat meskipun pahit. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu pernah berkata bahwa tidak ada kebaikan pada rakyat yang tidak mau menasihati pemimpinnya, dan tidak ada kebaikan pada pemimpin yang tidak mau menerima nasihat.

Akhir zaman bukan hanya ditandai dengan kemajuan teknologi. Salah satu tanda kerusakan zaman adalah ketika amanah disia-siakan. Ketika orang yang tidak layak diberi kepercayaan justru mendapatkan kekuasaan. Ketika kejujuran dianggap kelemahan dan kepalsuan dianggap kecerdasan. Ketika kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kemaslahatan umat.

Wahai para pemimpin, ingatlah bahwa rakyat mungkin tidak mampu menjatuhkan kalian hari ini. Rakyat mungkin tidak memiliki kekuatan sebesar kekuasaan yang kalian miliki. Akan tetapi ada satu pengadilan yang pasti akan mempertemukan semua manusia. Di sana tidak ada protokoler. Tidak ada ajudan. Tidak ada kekebalan hukum. Tidak ada rekayasa opini. Tidak ada pula media yang dapat mengubah kenyataan.

Di hadapan Allah, seluruh jabatan akan runtuh. Seluruh kekuasaan akan lenyap. Yang tersisa hanyalah amal, keadilan, dan tanggung jawab. Air mata rakyat yang terzalimi akan menjadi saksi. Keluhan orang-orang miskin akan menjadi saksi. Amanah yang diabaikan akan menjadi saksi.

Karena itu, jangan sampai sejarah mencatat bahwa rakyat hidup dalam kesulitan sementara para penguasa tenggelam dalam kenyamanan. Jangan sampai generasi mendatang mengenang para pemimpin sebagai penyebab luka yang panjang bagi bangsanya sendiri. Sebab kemuliaan seorang pemimpin bukan diukur dari lamanya berkuasa, melainkan dari seberapa banyak rakyat yang merasakan keadilan dan kesejahteraan di bawah kepemimpinannya.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara. Rakyat membutuhkan pemimpin yang takut kepada Allah. Sebab ketika rasa takut kepada Allah hidup di dalam hati seorang pemimpin, maka kekuasaan akan menjadi sarana pengabdian, bukan alat kesombongan. Dan ketika akhirat benar-benar diyakini, maka setiap keputusan akan dibuat dengan hati yang penuh tanggung jawab, bukan dengan hawa nafsu yang mengejar dunia yang fana.[BA]

Posting Komentar untuk "Ketika Pemimpin Kehilangan Rasa Takut Akhirat"