Muharram: Menyingkap Sejarah, Menghidupkan Sunnah

Oleh Dudin Shobaruddin, Dosen STISA-ABM Lampung Selatan

Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Ia merupakan salah satu bulan mulia yang mengajak umat Islam menengok kembali perjalanan sejarah, memperbarui niat, serta menghidupkan sunnah yang diwariskan Rasulullah saw. Di tengah kesibukan modern, Muharram hadir seperti ruang hening: memberi kesempatan kepada setiap Muslim untuk mengevaluasi diri, memperkuat iman, dan menata langkah menuju kehidupan yang lebih baik.

Secara bahasa, Muharram berarti “yang dimuliakan” atau “yang diharamkan”. Bulan ini termasuk empat bulan haram bersama Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Pada masa Arab dahulu, peperangan dilarang pada bulan-bulan tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian waktu. Islam kemudian menegaskan kemuliaannya, bukan hanya melalui larangan berbuat zalim, tetapi juga melalui anjuran memperbanyak amal saleh. Karena itu, Muharram seharusnya tidak dipahami sebagai perayaan seremonial, melainkan sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan akhlak.

Muharram juga erat dengan sejarah hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah. Walaupun peristiwa hijrah tidak terjadi tepat pada tanggal 1 Muharram, para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab menjadikannya sebagai dasar penetapan kalender Islam. Pilihan ini memiliki makna mendalam. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan keadaan: dari tekanan menuju kebebasan, dari keterbatasan menuju pembangunan peradaban, dan dari kelemahan menuju kekuatan yang berlandaskan iman.

Semangat hijrah tetap relevan hingga hari ini. Setiap orang dapat berhijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik, dari kelalaian menuju kedisiplinan, dari permusuhan menuju persaudaraan, serta dari hidup tanpa arah menuju kehidupan yang penuh tujuan. Muharram mengingatkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mengambil keputusan kecil secara konsisten.

Dalam kehidupan keluarga, semangat ini dapat diwujudkan dengan kebiasaan sederhana: membangun salat berjamaah, menyediakan waktu membaca Al-Qur’an, mengurangi perkataan yang menyakiti, dan menumbuhkan budaya saling memaafkan. Di lingkungan kerja atau sekolah, hijrah dapat berbentuk peningkatan kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kepedulian. Dengan demikian, nilai Muharram tidak berhenti di masjid, tetapi hadir dalam seluruh ruang kehidupan.

Salah satu peristiwa penting dalam Muharram adalah Hari Asyura, yakni tanggal 10 Muharram. Rasulullah saw. menganjurkan umat Islam berpuasa pada hari tersebut. Ketika tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi berpuasa sebagai ungkapan syukur atas keselamatan Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari kezaliman Firaun. Rasulullah saw. kemudian menegaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti jejak Nabi Musa a.s. Beliau pun berpuasa dan menganjurkan para sahabat untuk melakukannya.

Puasa Asyura memiliki keutamaan besar karena menjadi sarana penghapus dosa-dosa kecil pada tahun sebelumnya. Agar berbeda dari kebiasaan kaum lain, umat Islam dianjurkan menambahkan puasa pada tanggal 9 Muharram, yang dikenal sebagai puasa Tasua. Sebagian ulama juga membolehkan puasa tanggal 10 dan 11 Muharram. Intinya, sunnah ini mengajarkan rasa syukur, pengendalian diri, serta kesadaran bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi orang-orang yang sabar dan beriman.

Namun, menghidupkan sunnah Muharram tidak berhenti pada puasa. Bulan ini dapat diisi dengan memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, bersedekah, menyambung silaturahmi, membantu anak yatim, dan memperbaiki hubungan yang renggang. Hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari amalan yang tidak memiliki dasar yang jelas atau menjadikan Muharram sebagai ajang ritual berlebihan. Cinta kepada agama seharusnya diwujudkan melalui ibadah yang sesuai tuntunan, bukan sekadar mengikuti kebiasaan tanpa memahami maknanya.

Muharram juga menyimpan pelajaran tentang keteguhan dan pengorbanan. Berbagai peristiwa sejarah pada bulan ini mengingatkan bahwa kebenaran sering menuntut keberanian, kesabaran, dan kesediaan berkorban. Pelajaran tersebut hendaknya tidak melahirkan kebencian, melainkan memperkuat persatuan, keadilan, dan kasih sayang di tengah umat. Sejarah seharusnya menjadi cermin untuk memperbaiki masa kini, bukan alasan untuk memperpanjang pertentangan.

Agar semangat Muharram terus hidup, setiap Muslim dapat menyusun target perubahan yang realistis. Tidak harus besar, tetapi jelas dan terukur: memperbaiki ketepatan waktu salat, menyelesaikan bacaan Al-Qur’an secara bertahap, menyisihkan pendapatan untuk sedekah, atau menghentikan satu kebiasaan buruk. Target kecil yang dilakukan terus-menerus lebih bermakna daripada tekad besar yang berhenti setelah beberapa hari.

Pada akhirnya, Muharram adalah pintu untuk memulai kembali. Ia mengajak kita menyingkap sejarah bukan untuk terjebak dalam masa lalu, melainkan untuk mengambil hikmah. Ia mendorong kita menghidupkan sunnah bukan hanya dalam bentuk ibadah pribadi, tetapi juga dalam perilaku sosial. Tahun baru Hijriah akan menjadi bermakna ketika perubahan kalender disertai perubahan sikap.

Mari menjadikan Muharram sebagai momentum hijrah batin: membersihkan hati, meluruskan niat, memperbaiki ibadah, dan menebarkan manfaat. Sejarah telah memberi teladan, sunnah telah menunjukkan jalan, dan waktu telah membuka kesempatan. Tinggal bagaimana kita menjawabnya dengan langkah nyata.[]

Posting Komentar untuk "Muharram: Menyingkap Sejarah, Menghidupkan Sunnah"