PELITA MAJALENGKA - Di zaman yang serba maju ini, gelar akademik semakin mudah ditemukan. Nama seseorang sering kali dihiasi deretan huruf panjang di belakang namanya: S1, S2, S3, profesor, doktor, dan berbagai penghargaan lainnya. Namun di balik kemegahan itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah ilmu yang tinggi selalu melahirkan hati yang mulia? Apakah kecerdasan intelektual selalu berjalan seiring dengan kecerdasan ruhani dan akhlak yang terpuji?
Kenyataannya, kita menyaksikan fenomena yang sangat menyedihkan. Tidak sedikit orang yang sangat cerdas dalam menghitung angka, tetapi gagal menghitung dosa yang terus bertambah. Banyak yang pandai menyusun teori, tetapi tidak mampu mengendalikan hawa nafsunya sendiri. Mereka menguasai berbagai disiplin ilmu, namun kehilangan kemampuan paling mendasar sebagai manusia, yaitu rasa takut kepada Allah dan kasih sayang kepada sesama.
Ironisnya, semakin tinggi jabatan yang diraih, semakin besar pula peluang penyimpangan yang dilakukan sebagian orang. Ada yang bergelar doktor tetapi tertangkap korupsi. Ada yang menjadi pejabat publik dengan pendidikan luar biasa tinggi, namun tega mengkhianati amanah rakyat yang dipercayakan kepadanya. Gelar yang semestinya menjadi simbol kematangan ilmu justru berubah menjadi topeng yang menutupi kerakusan hati.
Padahal Allah telah mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan bukanlah tingginya pendidikan, bukan pula banyaknya jabatan dan kekuasaan. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat ini seperti tamparan lembut bagi jiwa yang terlena. Di hadapan Allah, gelar akademik tidak akan berbicara. Jabatan tidak akan menjadi pembela. Yang akan berbicara adalah ketakwaan, kejujuran, amanah, dan amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas.
Fenomena ini sebenarnya telah diisyaratkan oleh Rasulullah ﷺ. Akan datang suatu masa ketika amanah disia-siakan dan urusan besar diserahkan kepada orang yang tidak layak memikulnya. Bukan karena mereka tidak memiliki ijazah, tetapi karena mereka kehilangan kualitas iman, akhlak, dan rasa tanggung jawab. Mereka mungkin cerdas secara intelektual, tetapi miskin secara spiritual.
Hari ini kita melihat banyak orang yang begitu mudah menyakiti orang lain dengan lisannya. Mereka memiliki pendidikan tinggi, tetapi tidak memiliki empati. Mereka ahli berbicara tentang kemanusiaan, namun abai terhadap penderitaan tetangganya sendiri. Mereka pandai berbicara tentang keadilan, tetapi diam ketika keuntungan pribadi berada di depan mata.
Lebih menyedihkan lagi adalah matinya kepekaan sosial. Banyak orang hidup di tengah kemewahan, sementara di sekitarnya ada saudara yang kesulitan makan. Banyak yang mampu membeli barang-barang mahal, tetapi merasa berat untuk bersedekah. Hati yang seharusnya lembut justru menjadi keras karena terlalu lama dipenuhi ambisi dunia dan pujian manusia.
Sesungguhnya ilmu yang tidak melahirkan rasa takut kepada Allah adalah ilmu yang kehilangan ruhnya. Ilmu yang tidak menjadikan seseorang semakin rendah hati hanyalah tumpukan informasi. Semakin banyak ilmunya, seharusnya semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Semakin tinggi kedudukannya, seharusnya semakin kuat tanggung jawabnya kepada manusia.
Para ulama salaf dahulu sangat khawatir terhadap ilmu yang tidak mengubah hati. Mereka tidak hanya mengejar banyaknya pengetahuan, tetapi juga keberkahan ilmu tersebut. Mereka menangis ketika membaca Al-Qur'an, takut jika amal mereka ditolak, dan merasa diri mereka penuh kekurangan meskipun ilmu mereka jauh melampaui kebanyakan manusia. Bandingkan dengan sebagian manusia hari ini yang baru mengetahui sedikit ilmu, namun sudah merasa paling benar dan paling hebat.
Mungkin inilah penyakit terbesar akhir zaman: manusia berhasil menaklukkan dunia, tetapi gagal menaklukkan dirinya sendiri. Teknologi berkembang pesat, namun akhlak semakin menurun. Gedung-gedung menjulang tinggi, tetapi hati manusia semakin kosong. Informasi berlimpah, namun hikmah semakin langka.
Saatnya setiap kita bertanya kepada diri sendiri. Untuk apa gelar yang tinggi jika tidak mendekatkan kepada Allah? Untuk apa jabatan yang besar jika justru menyeret ke dalam pengkhianatan amanah? Untuk apa dipuji manusia jika kelak berdiri di hadapan Rabb semesta alam dalam keadaan bangkrut amal?
Karena pada akhirnya, yang akan menyelamatkan bukanlah panjangnya gelar di belakang nama. Bukan pula banyaknya pengikut, kekuasaan, atau harta yang dikumpulkan selama hidup. Yang akan menyelamatkan adalah hati yang hidup, iman yang tulus, akhlak yang mulia, serta amal yang diterima di sisi Allah. Dan sungguh, dunia hari ini tidak sedang kekurangan orang pintar. Dunia sedang sangat membutuhkan orang-orang yang hatinya hidup.[BA]

Posting Komentar untuk "Antara Gelar Akademik dan Kosongnya Hati"