Shuffah Samarinda — Ketika Keterbatasan Melahirkan Kader, dan Hati Diuji untuk Memberi Ruang


PELITA MAJALENGKA
- Ada pelajaran yang diam-diam menampar kesadaran: bahwa kemajuan tidak selalu lahir dari kelapangan, tapi justru dari keterbatasan yang dijalani dengan jujur. Di Shuffah Samarinda, saya melihat sesuatu yang sederhana namun dalam—sebuah pola kaderisasi yang tidak banyak bicara, tapi kuat dalam pembiasaan. Tidak gemerlap, tidak selalu mudah, tapi terasa hidup. Di sana, amal tidak sekadar didengar, tapi dilazimkan.

Pembinaan bukan hanya dalam bentuk materi atau kajian, tapi dalam ritme hidup sehari-hari. Mahasiswa yang datang tidak hanya belajar memahami agama, tapi juga belajar menjalaninya. Ada pengulangan yang mungkin terlihat kecil: bangun, shalat, tilawah, hadir di majelis, menjaga adab. Tapi justru dari pengulangan itulah karakter dibentuk. Karena iman, sejatinya, tumbuh dari yang diulang, bukan yang sesekali dilakukan.

Yang menarik, di tengah keterbatasan itu, ada satu kebiasaan yang terasa sangat mendidik jiwa: setiap mahasiswa sejak awal diterima dan mukim, dibiasakan berinfak—Rp50.000 setiap bulan. Nominalnya mungkin tidak besar, tapi maknanya jauh melampaui angka. Di situ ada latihan melepaskan, ada proses membersihkan hati, ada pendidikan tentang itsar—mendahulukan orang lain di tengah kebutuhan diri sendiri.

Ini bukan tentang jumlah, tapi tentang rasa. Rasa bahwa kita hidup tidak sendiri. Bahwa dalam setiap rezeki, ada hak orang lain. Bahwa memberi bukan menunggu mampu, tapi belajar mampu dengan memberi. Dari kebiasaan kecil ini, tumbuh jiwa-jiwa yang tidak hanya paham konsep kebaikan, tapi terbiasa melakukannya.

Namun di sisi lain, ada hal yang juga perlu direnungkan—yang sering terjadi di luar sana. Ketika seseorang membawa gagasan, membawa semangat perubahan, terkadang yang ia temui bukan ruang, tapi penolakan halus. Kalimat seperti, “Itu terlalu tinggi, kita belum sampai ke sana,” terdengar ringan, tapi bisa mematahkan. Seakan-akan kita lebih siap menjaga keterbatasan daripada membuka kemungkinan.

Padahal jika kita jujur, bukan selalu karena ide itu terlalu tinggi. Bisa jadi karena hati kita belum siap menerima. Atau lebih dalam lagi, karena kita sudah lebih dulu menyimpan jarak dengan orangnya. Kita tidak menilai gagasannya, tapi perasaan kita terhadapnya. Astaghfirullah… di sinilah ukhuwah diuji, bukan dalam kebersamaan yang nyaman, tapi dalam menerima kebaikan dari siapa pun datangnya.

Shuffah Samarinda mengajarkan sesuatu yang penting: bahwa kaderisasi itu bukan hanya tentang membentuk individu yang kuat, tapi juga menciptakan lingkungan yang memberi ruang. Ruang untuk belajar, ruang untuk salah, ruang untuk tumbuh, dan ruang untuk beramal. Karena tanpa ruang itu, ide akan mati sebelum lahir. Semangat akan padam sebelum menyala.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak punya gagasan, tapi karena merasa tidak lagi punya tempat. Bukan karena tidak peduli, tapi karena lelah tidak didengar. Dan saat itu terjadi, kita mungkin tidak sadar bahwa kita sedang menutup satu pintu amal—yang bisa jadi Allah bukakan melalui dirinya.

Maka, di tengah keterbatasan, jangan sampai kita juga membatasi hati. Belajar dari Shuffah, bahwa yang kecil jika dijaga bisa melahirkan yang besar. Bahwa yang sederhana jika dilazimkan bisa menguatkan jiwa. Dan bahwa setiap orang, sekecil apa pun perannya, berhak diberi ruang untuk berbuat baik.

Karena bisa jadi, dari infak kecil yang konsisten, lahir keikhlasan. Dari pembiasaan yang sederhana, lahir keteguhan. Dan dari satu gagasan yang diberi kesempatan, lahir perubahan besar. Maka jangan tutup peluang saudaramu untuk beramal. Jangan sempitkan jalan yang mungkin Allah jadikan sebagai pintu kebaikan bersama.[BA]