PELITA MAJALENGKA - ADA kalimat yang sering terdengar ringan, tapi diam-diam melukai: “Ide kamu terlalu tinggi… kita ini masih di bumi.” Sekilas terdengar realistis, bahkan terkesan bijak. Tapi jika direnungi lebih dalam, kalimat itu bisa menjadi tembok—bukan hanya bagi sebuah gagasan, tapi juga bagi semangat seorang saudara untuk berbuat kebaikan.
Padahal,
tidak semua ide harus langsung kita pahami. Tidak semua gagasan harus segera
kita setujui. Ada yang memang butuh waktu untuk dicerna, ada yang perlu ruang
untuk diuji. Tapi bukan berarti kita berhak mematahkannya sebelum ia sempat
tumbuh. Bisa jadi yang kita anggap “terlalu melangit” justru adalah pandangan
yang belum biasa kita lihat.
Kadang
masalahnya bukan pada ide itu sendiri, tapi pada hati kita. Mungkin tanpa
sadar, kita sudah lebih dulu memberi label pada orangnya. Pernah kecewa, pernah
tidak cocok, atau sekadar tidak sejalan. Lalu ketika ia berbicara, kita tidak
benar-benar mendengar—kita hanya menunggu untuk menolak.
Di
titik ini, kita perlu jujur. Apakah benar kita tidak paham… atau kita tidak mau
memahami? Apakah kita menilai gagasannya… atau kita sedang menghakimi orangnya?
Astaghfirullah… jika hati ini lebih cepat menutup daripada membuka, padahal
yang datang adalah peluang kebaikan.
Bukankah
tidak elok meremehkan orang yang ingin berbuat baik? Terlebih jika gagasan itu,
meski sederhana atau bahkan terasa tinggi, berpotensi membawa perubahan. Banyak
hal besar dalam sejarah bermula dari sesuatu yang dulu dianggap mustahil. Tapi
ia hidup karena ada yang memberi ruang, bukan yang mematikan sejak awal.
Kadang
kita lupa, bahwa Allah bisa menitipkan kebaikan melalui siapa saja. Bukan selalu
dari yang paling kita kagumi, bukan pula dari yang paling kita sukai. Bisa jadi
justru dari orang yang selama ini kita pandang biasa. Dan di situlah ujian
kita: apakah kita siap menerima kebaikan dari arah yang tidak kita duga?
Lebih
halus lagi, ada bahaya yang jarang disadari: ketika seseorang terus-menerus
dipatahkan, lama-lama ia memilih diam. Bukan karena tidak punya ide lagi, tapi
karena merasa tidak punya tempat. Bukan karena tidak peduli, tapi karena lelah
tidak didengar. Dan saat itu terjadi, yang hilang bukan hanya satu suara—tapi
mungkin satu pintu kebaikan.
Di
dalam jama’ah, setiap hati seharusnya merasa aman untuk beramal. Setiap jiwa
punya ruang untuk tumbuh. Jika bukan kita yang menguatkan, lalu siapa? Jika
bukan kita yang membuka jalan, lalu kepada siapa lagi ia berharap? Ukhuwah
bukan hanya tentang kebersamaan, tapi juga tentang menjaga harapan satu sama
lain.
Maka berhati-hatilah dengan kalimat yang
tampak sederhana. Bisa jadi ia menutup pintu yang seharusnya kita buka. Bisa
jadi ia memadamkan cahaya yang seharusnya kita jaga. Jangan sampai, karena
sikap kita, seorang saudara merasa tidak lagi punya tempat untuk beramal
shalih. Padahal bisa jadi… dari tangannya, Allah ingin menurunkan perubahan
besar untuk kita semua.[BA]
