Bukan Miskin yang Menakutkan, Tapi Memakan Hak Orang Lain


PELITA MAJALENGKA - 
Kemiskinan sering dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan. Banyak orang bekerja keras siang malam demi menghindarinya. Namun sesungguhnya, yang lebih menakutkan bukanlah miskin harta, melainkan miskin hati. Bukan kekurangan materi yang paling berbahaya, tetapi keberanian mengambil atau menahan hak orang lain. Karena kemiskinan bisa menjadi ujian, sementara memakan hak orang lain adalah kezaliman yang pasti dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mengambil hak seorang Muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan baginya neraka dan mengharamkan baginya surga.” (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa hak orang lain bukan perkara sepele. Bahkan sesuatu yang terlihat kecil di mata manusia bisa menjadi besar di sisi Allah jika diambil dengan cara yang batil.

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kezaliman ini terjadi tanpa disadari atau bahkan dianggap biasa. Menunda pembayaran padahal mampu, mengurangi upah, atau tidak menepati kesepakatan adalah contoh nyata. Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Penundaan pembayaran oleh orang yang mampu adalah kezaliman.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa ketidakadilan dalam urusan harta bukan hanya masalah sosial, tetapi juga dosa yang serius.

Yang mengkhawatirkan, pelaku kezaliman tidak selalu langsung merasakan akibatnya. Ia mungkin tetap terlihat sukses, hartanya bertambah, dan hidupnya tampak baik. Namun sejatinya, keberkahan dalam hidupnya perlahan hilang. Harta yang diperoleh dengan cara menahan hak orang lain tidak akan membawa ketenangan, bahkan bisa menjadi sebab kegelisahan yang tidak terlihat.

Dalam perspektif ilmiah, perilaku tidak jujur dan merugikan orang lain dapat menimbulkan konflik batin yang dikenal sebagai cognitive dissonance. Ketika seseorang melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai moralnya, muncul ketegangan psikologis dalam dirinya. Jika dibiarkan, hal ini dapat memicu stres, kecemasan, gangguan tidur, bahkan menurunkan kualitas hidup. Artinya, memakan hak orang lain bukan hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga merusak kesehatan mental.

Sebaliknya, orang yang menjaga hak orang lain akan merasakan ketenangan batin. Meskipun hidupnya sederhana, ia memiliki hati yang lapang. Ia mungkin tidak kaya secara materi, tetapi hidupnya penuh keberkahan. Dalam Islam, keberkahan bukan diukur dari banyaknya harta, melainkan dari manfaat dan ketenangan yang menyertainya.

Allah ﷻ berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…” (QS. An-Nahl: 90). Keadilan berarti memberikan setiap hak kepada pemiliknya tanpa dikurangi dan tanpa ditunda. Setiap hak yang kita tahan sejatinya adalah utang yang akan ditagih, jika bukan di dunia maka di akhirat.

Rasulullah ﷺ juga menjelaskan tentang orang yang bangkrut di hari kiamat. Bukan orang yang tidak punya harta, tetapi orang yang datang dengan pahala shalat, puasa, dan zakat, namun ia pernah menzalimi orang lain. Maka pahala-pahalanya diberikan kepada orang yang dizalimi hingga habis. Jika masih ada tuntutan, dosa orang lain dipindahkan kepadanya, lalu ia dilemparkan ke neraka (HR. Muslim). Gambaran ini menunjukkan betapa beratnya konsekuensi memakan hak orang lain.

Kemiskinan tidak pernah menghinakan seseorang di sisi Allah. Banyak orang saleh hidup dalam kesederhanaan. Namun kezaliman, sekecil apa pun, adalah noda yang bisa menghancurkan seluruh amal kebaikan. Maka yang seharusnya kita takutkan bukanlah kekurangan harta, tetapi hilangnya rasa takut kepada Allah dalam urusan hak sesama manusia.

Jika hari ini kita masih memiliki tanggungan terhadap orang lain—gaji yang belum dibayar, janji yang belum ditepati, atau amanah yang belum ditunaikan—maka segeralah menyelesaikannya. Jangan menunda, karena setiap penundaan bisa menjadi beban yang berat di akhirat. Di sana, tidak ada lagi harta yang bisa digunakan untuk membayar, yang ada hanyalah pahala dan dosa.

Hidup ini singkat. Jangan kita kotori dengan mengambil yang bukan hak kita. Lebih baik hidup sederhana dengan hati yang bersih, daripada hidup berkecukupan tetapi penuh dengan tuntutan manusia. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukanlah banyaknya harta, tetapi bersihnya diri kita dari kezaliman terhadap orang lain.

Bukan miskin yang menakutkan, tetapi ketika kita tidak lagi peduli apakah harta yang kita miliki halal atau hasil dari menahan hak orang lain. Itulah kemiskinan sejati—kemiskinan hati yang bisa menghancurkan dunia dan akhirat.[BA]