PELITA MAJALENGKA - Di tengah rerimbunan janji-janji manis yang meluncur indah dari bibir para penguasa, rakyat kecil justru terus meringkuk dalam jeritan yang tak terdengar.
Fenomena "pemimpin bermulut besar"—mereka yang mahir mengobral retorika tanpa aksi nyata—kini bukan sekadar cerita fiksi. Ini adalah kenyataan pahit yang merajut hari-hari kita, sebuah cermin legam yang memperlihatkan betapa jauhkanya empati dari pucuk pimpinan.
Ketika Tangis Rakyat Tak Lagi Didengar
Coba tatap sekeliling kita hari ini. Di sudut-sudut jalan dan desa-desa terpencil, ribuan anak harus mengubur cita-citanya. Fenomena anak putus sekolah kian marak, bukan karena mereka malas belajar, melainkan karena asap dapur keluarga mereka tak lagi mengepul, jangankan untuk membeli seragam dan buku. Masa depan bangsa seolah dipangkas secara paksa di usia muda.
Di tempat lain, langit menggelap bukan oleh mendung pembawa rahmat, melainkan oleh asap pekat kebakaran hutan yang membakar dada. Ribuan hektar lahan hangus, hewan-hewan kehilangan rumah, dan jutaan rakyat menyedot racun setiap kali menarik napas.
Namun, apa respons dari puncak kekuasaan? Pura-pura tidak tahu, melempar tanggung jawab, atau sekadar mengeluarkan pernyataan formalitas tanpa langkah aksi nyata di lapangan.
Pemimpin seolah menutup mata dan menyumbat telinga. Ketidakpedulian ini makin merobek hati ketika kebijakan dan kekayaan negara tampak hanya diputar di antara lingkaran kolega dan sekutu politik mereka.
Rakyat kecil dibiarkan bertarung sendiri melawan kemiskinan dan bencana, sementara elite sibuk mengamankan singgasana dan kenyamanan kelompoknya.
Peringatan Rasulullah: Ciri Pemimpin Akhir Zaman
Kondisi yang memprihatinkan ini sejatinya telah digambarkan dengan sangat gamblang dalam petunjuk kenabian ribuan tahun yang lalu. Rasulullah SAW telah memperingatkan kita tentang kedatangan zaman di mana amanah diabaikan dan kepemimpinan berada di tangan yang salah.
1. Pemimpin yang Dibenci dan Membenci Rakyatnya
Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW menegaskan perbedaan mendasar antara pemimpin yang baik dan yang buruk: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim No. 1855)
Ketika gelombang kekecewaan dan amarah rakyat meluap karena merasa dikhianati, hal itu menjadi isyarat nyata betapa putusnya tali kasih sayang antara penguasa dan mereka yang dipimpin.
2. Hanya Peduli Kelompoknya dan Mengabaikan Amanah
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah diserahkannya urusan kepada yang bukan ahlinya serta hilangnya rasa takut kepada Allah dalam menjalankan kepemimpinan.
Nabi SAW bersabda, “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah saat kehancurannya (kiamat).” Beliau ditanya: “Bagaimana disia-siakannya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat.” (HR. Bukhari No. 59)
Ketika urusan publik, kelestarian alam, dan pendidikan anak bangsa diserahkan kepada mereka yang lebih mengutamakan kepentingan kolega daripada kepatuhan pada amanah, kehancuran tatanan sosial hanya tinggal menunggu waktu.
Panggilan untuk Menyembuhkan Nurani
Sungguh mengiris jiwa ketika melihat rakyat terus dikorbankan demi syahwat kekuasaan yang fana. Namun, sejarah selalu mengajarkan bahwa kepemimpinan yang dibangun di atas kesombongan dan penderitaan rakyat tidak akan pernah abadi. Ancamannya sangat nyata, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Rasulullah SAW mendoakan secara khusus bagi para pemimpin yang menyusahkan rakyatnya: “Ya Allah, siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan umatku lalu dia mengasihi mereka, maka kasihilah dia.” (HR. Muslim No. 1828)
Semoga ketukan nurani dan peringatan Ilahi ini menjadi refleksi bersama. Rakyat tidak membutuhkan kata-kata manis yang mengangkasa, melainkan tangan yang mau merangkul dan hati yang mau merasakan kepedihan sesama.[BA]

Posting Komentar untuk "Fenomena Pemimpin Bermulut Besar dan Tuli Hati: Refleksi Ciri Akhir Zaman"