Foto: Qwen aiSetiap manusia sedang mengejar sesuatu. Ada yang mengejar uang. Ada yang mengejar jabatan. Ada yang mengejar popularitas. Ada yang mengejar pendidikan. Ada yang mengejar rumah. Ada yang mengejar bisnis. Ada yang mengejar pengakuan. Ada yang mengejar kehidupan nyaman. Ada yang mengejar perhatian manusia.
Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita dunia selama halal dan tidak membuat kita melupakan Allah. Tetapi ada satu pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri: “Untuk apa semua yang saya kejar?”
Karena seseorang bisa sangat sibuk tetapi salah arah.
Ia bisa berlari cepat tetapi menuju tempat yang keliru.
Bayangkan seseorang menaiki kendaraan dengan sangat cepat, tetapi ia tidak tahu tujuan. Apakah kecepatan akan menyelamatkannya? Tidak. Ia hanya akan lebih cepat sampai ke tempat yang salah.
Begitu pula kehidupan.
Allah berfirman bahwa kehidupan dunia adalah kesenangan yang memperdayakan, sedangkan kemenangan sebenarnya adalah ketika seseorang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Dunia bukan tujuan terakhir. Dunia adalah perjalanan.
Karena itu memiliki harta bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika harta menjadi tujuan tertinggi. Memiliki jabatan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika jabatan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada manusia lain. Memiliki popularitas bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang mulai hidup hanya untuk mendapatkan pengakuan manusia.
Hari ini media sosial membuat persoalan ini semakin kuat. Kita mudah membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Melihat orang lain membeli rumah membuat kita merasa tertinggal. Melihat orang lain sukses membuat kita merasa gagal. Melihat orang lain memiliki pengikut banyak membuat kita merasa tidak berarti.
Padahal kita hanya melihat potongan kehidupan mereka.
Kita melihat hasil, tetapi tidak melihat perjuangan. Kita melihat foto bahagia, tetapi tidak mengetahui seluruh masalahnya. Kita melihat pencapaian, tetapi tidak mengetahui harga yang dibayar. Akhirnya kita mengejar kehidupan yang bahkan belum tentu benar-benar mereka jalani.
Maka berhentilah sebentar.
Tanyakan: Apa sebenarnya yang saya kejar?
Apakah saya mengejar uang agar keluarga hidup layak, atau agar manusia menganggap saya hebat? Apakah saya mengejar ilmu agar semakin bermanfaat, atau agar gelar saya dihormati? Apakah saya berdakwah untuk Allah, atau untuk mendapatkan pengakuan? Apakah saya bekerja untuk mencari rezeki halal, atau karena tidak pernah merasa cukup?
Pertanyaan seperti ini bukan untuk membuat kita meninggalkan cita-cita. Justru untuk meluruskan niat.
Seorang Muslim boleh menjadi pengusaha besar. Boleh menjadi dosen, dokter, guru, petani, pedagang, pejabat, jurnalis, profesional atau apa pun profesi halal yang bermanfaat. Tetapi semuanya harus diarahkan kepada pengabdian kepada Allah.
Sebab pada akhirnya semua yang kita kejar akan meninggalkan kita.
Harta akan ditinggalkan. Jabatan akan ditinggalkan. Popularitas akan hilang. Tubuh akan menjadi tanah. Yang tetap bersama kita adalah amal.
Rasulullah ﷺ mengingatkan manusia untuk memperbanyak mengingat kematian. Bukan agar kita berhenti bekerja, tetapi agar kita tidak salah menentukan tujuan.
Orang yang mengingat kematian akan bekerja dengan jujur karena tahu semua akan dipertanggungjawabkan. Ia akan menjaga keluarga karena sadar mereka adalah amanah. Ia akan bersedekah karena sadar harta tidak kekal. Ia akan menjaga lisannya karena sadar semua perkataan dicatat. Ia akan berhati-hati menggunakan waktunya karena sadar setiap hari tidak bisa diulang.
Jadi persoalannya bukan apakah kita boleh mengejar dunia.
Persoalannya: apakah dunia sedang kita jadikan kendaraan menuju akhirat, atau justru kita jadikan tujuan akhir?
Kejar ilmu. Kejar rezeki. Kejar prestasi. Kejar kesehatan. Kejar kehidupan yang baik.
Tetapi jangan kehilangan Allah dalam perjalanan.
Muhasabah: Jika seluruh target dunia saya tercapai, tetapi hubungan saya dengan Allah buruk, apakah saya benar-benar telah berhasil?
Mungkin hari ini kita tidak membutuhkan target baru.
Mungkin kita membutuhkan arah yang benar untuk target yang sudah kita miliki.[BA]

Fafirruu ilallah
BalasHapus