Jangan Jadi Sopir Damri Terlalu Lama: Seni Memimpin dengan Hati ala Sopir Angkot


PELITA MAJALENGKA
- Di jalanan kota, kita mengenal dua tipe sopir yang karakternya begitu kontras. Sopir angkot dan sopir Damri. Sopir angkot itu matanya tajam, lehernya lentur, instingnya kuat. Begitu ada calon penumpang berdiri agak maju sedikit dari trotoar, tangannya refleks melambai, kakinya siap menginjak rem. Ia peka. Ia tahu bahwa satu lambaian kecil bisa berarti satu kebutuhan besar. 

Sementara sopir Damri berbeda. Ia berjalan di jalur tetap. Ada atau tidak ada yang melambai, ia terus melaju sesuai rute dan jadwal. Ia tidak mudah tergoda, tidak mudah berhenti di sembarang titik. Dua gaya ini sederhana, bahkan mungkin terasa lucu jika dibayangkan. Tapi diam-diam, keduanya menyimpan cermin tentang bagaimana seorang pemimpin bersikap.

Pemimpin yang seperti sopir angkot adalah pemimpin yang hidup bersama denyut orang-orangnya. Ia tidak hanya duduk di balik meja sambil menunggu laporan resmi. Ia membaca wajah, bukan hanya membaca data. Ia menangkap nada suara yang melemah, bukan sekadar mendengar kalimat formal dalam rapat. 

Ketika ada anggota tim yang mulai jarang tersenyum, ia bertanya. Ketika ada ide kecil yang terucap setengah hati, ia mendekat dan mendengarkan. Kadang ia terlihat “terlalu responsif”, terlalu cepat turun tangan. Tapi justru di situlah kehangatannya terasa. Orang-orang merasa dianggap, bukan sekadar dihitung.

Namun, menjadi sopir angkot dalam kepemimpinan juga tidak selalu mudah. Terlalu sering berhenti bisa membuat perjalanan lambat. Terlalu banyak mengejar semua lambaian bisa membuat arah kabur. Pemimpin bisa kelelahan karena ingin menjawab semua harapan sekaligus. Ia bisa terseret pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak strategis. Di sinilah kebijaksanaan diuji. Kepekaan tanpa arah bisa berubah menjadi kerepotan. Niat baik tanpa prioritas bisa membuat energi habis sebelum tujuan tercapai.

Di sisi lain, ada pemimpin model sopir Damri. Ia punya visi yang jelas, rute yang tegas, dan jadwal yang disiplin. Ia tidak mudah terguncang oleh komentar sesaat. Ia tahu ke mana organisasi akan dibawa dalam lima atau sepuluh tahun ke depan. 

Ketika ada riak kecil, ia tidak langsung membelokkan setir. Ia percaya pada sistem dan perencanaan. Orang-orang mungkin melihatnya tenang, stabil, bahkan berwibawa. Dalam situasi yang penuh gejolak, tipe seperti ini sangat dibutuhkan. Organisasi tidak mudah panik, tidak mudah goyah.

Tetapi, bayangkan jika seorang pemimpin terlalu lama menjadi “sopir Damri”. Ia berjalan terus, sementara di pinggir jalan ada yang melambai meminta tolong. Ada anggota yang sebenarnya butuh didengar, tapi tidak tahu harus berdiri di halte mana. Ada ide-ide segar yang tak sempat naik karena tidak sesuai “trayek resmi”. Lama-lama jarak emosional tercipta. Perjalanan memang terus berjalan, tapi kursi-kursi di dalam kendaraan terasa dingin. Tidak ada kedekatan, tidak ada sentuhan personal. Semua terasa formal, rapi, tetapi hambar.

Kepemimpinan sejatinya bukan soal memilih menjadi sopir angkot atau sopir Damri sepenuhnya. Ia adalah seni menyeimbangkan keduanya. Ada saatnya pemimpin harus sigap menghampiri, turun dari kendaraan, bahkan berjalan kaki untuk menjemput yang tertinggal. Ada saatnya ia harus tegas melaju, tidak boleh berhenti hanya karena satu-dua suara yang tidak sejalan. Kepekaan dan keteguhan bukan dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari kedewasaan yang sama.

Menjadi pemimpin yang peka bukan berarti lemah. Menjadi pemimpin yang konsisten bukan berarti keras. Justru kekuatan terbesar lahir ketika hati dan arah berjalan beriringan. Ketika visi tetap jelas, namun manusia tetap menjadi pusat perhatian. Ketika target tercapai, tetapi tidak ada yang merasa ditinggalkan. Bukankah perjalanan paling indah bukan hanya tentang cepat sampai tujuan, tetapi tentang siapa saja yang berhasil kita ajak sampai bersama?

Mungkin sesekali kita perlu bertanya pada diri sendiri: selama ini kita lebih mirip sopir yang mana? Apakah kita terlalu sibuk mengejar semua lambaian hingga kehilangan arah? Atau kita terlalu fokus pada rute hingga tak melihat tangan-tangan yang terangkat berharap? Refleksi ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran. Karena memimpin bukan tentang gaya semata, tetapi tentang dampak yang dirasakan orang lain.

Pada akhirnya, pemimpin adalah pengantar harapan. Ia membawa mimpi-mimpi orang lain dalam kendaraannya. Ia bertanggung jawab bukan hanya pada tujuan, tetapi juga pada perjalanan. Kadang ia perlu melambat agar semua bisa naik dengan tenang. Kadang ia perlu melaju mantap agar semua percaya bahwa arah ini benar. Dan di antara rem dan gas itulah kebijaksanaan bekerja.

Jangan jadi sopir Damri terlalu lama. Tapi juga jangan terus-menerus jadi sopir angkot tanpa tujuan. Jadilah pemimpin yang tahu kapan berhenti, kapan melaju, dan yang paling penting, tahu bahwa setiap lambaian kecil di pinggir jalan bisa jadi adalah titipan amanah yang tidak boleh diabaikan.[]