PELITA MAJALENGKA - Ada satu sosok yang sesungguhnya sangat menentukan masa depan komunikasi Islam, tetapi sering kali luput dari perhatian: dosen KPI. Ia bukan sekadar pengajar yang datang ke kelas, membuka materi, menjelaskan teori, memberi tugas, lalu pulang. Dosen KPI berada pada posisi yang jauh lebih strategis. Ia sedang membentuk manusia-manusia yang kelak berbicara kepada umat, menulis untuk masyarakat, mengelola media, memproduksi konten, menjadi jurnalis, menjadi dai, menjadi pemimpin komunikasi, bahkan menentukan bagaimana Islam dipahami di tengah masyarakat.
Karena itu, zaman membutuhkan dosen KPI yang memiliki tiga wajah sekaligus: praktisi, akademisi, dan dai. Tiga peran ini bukan sekadar tambahan gelar atau aktivitas sampingan. Ketiganya adalah satu kesatuan kompetensi yang membuat seorang dosen KPI benar-benar hidup, relevan, dan dibutuhkan umat.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 sendiri menempatkan tugas dosen bukan hanya pada pembelajaran, tetapi juga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan kata lain, dosen memang dituntut untuk tidak berhenti di ruang kelas. (BPK Regulations) Maka menjadi dosen bukan berarti meninggalkan dunia nyata. Justru dosen harus mampu membawa persoalan nyata ke ruang akademik, mengolahnya menjadi pengetahuan, lalu mengembalikan pengetahuan itu kepada masyarakat dalam bentuk solusi.
Rahasia pertama: dosen KPI harus menjadi praktisi komunikasi.
Mengapa? Karena mahasiswa KPI tidak hidup di dunia teori. Mereka akan masuk ke dunia media yang bergerak sangat cepat. Mereka akan berhadapan dengan kamera, mikrofon, newsroom, algoritma, podcast, TikTok, YouTube, Instagram, portal berita, kecerdasan buatan, personal branding, digital campaign, dan berbagai bentuk komunikasi yang terus berubah.
Dosen yang hanya menguasai teori tetapi tidak pernah menyentuh praktik akan kesulitan menjelaskan denyut perubahan itu kepada mahasiswa. Sebaliknya, dosen yang aktif menulis, membuat konten, melakukan produksi media, mengelola kanal digital, menjadi narasumber, melakukan riset lapangan, atau terlibat dalam komunikasi publik akan membawa pengalaman nyata ke dalam kelas.
Mahasiswa akhirnya tidak hanya mendengar, “Menurut teori komunikasi...” tetapi juga, “Saya pernah mengalami sendiri ketika membuat konten ini...”
Perbedaan itu sangat besar.
Dosen praktisi membawa pengalaman, bukan sekadar definisi. Ia dapat menunjukkan bagaimana teori bekerja ketika berhadapan dengan manusia nyata, audiens nyata, konflik nyata, dan media nyata.
Rahasia kedua: dosen KPI harus tetap menjadi akademisi.
Menjadi praktisi bukan alasan untuk meninggalkan tradisi ilmiah. Justru pengalaman praktik harus melahirkan pertanyaan penelitian. Mengapa sebuah konten dakwah viral? Mengapa konten lain gagal? Bagaimana Generasi Z menerima pesan agama? Bagaimana algoritma mengubah otoritas keagamaan? Bagaimana AI memengaruhi produksi pesan dakwah? Bagaimana etika komunikasi Islam diterapkan di media sosial?
Pertanyaan-pertanyaan itu adalah tambang penelitian.
Sebuah systematic literature review terbaru yang menganalisis 35 karya akademik tentang dakwah digital menemukan bahwa literasi digital bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga fondasi epistemologis dan etis yang memengaruhi kredibilitas, otoritas, dan dampak komunikasi dakwah. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa media sosial telah membuat dakwah semakin partisipatif dan berorientasi algoritma. (Journal UIN SGD)
Ini menunjukkan bahwa dosen KPI tidak boleh berhenti membaca teori lama. Ia harus terus membaca perubahan zaman.
Dosen KPI harus menjadi peneliti yang bertanya, menguji, menganalisis, menerbitkan, dan menghasilkan pengetahuan baru. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya mendapatkan ilmu dari buku, tetapi juga dari hasil penelitian dosennya sendiri.
Lebih indah lagi jika penelitian dosen berasal dari persoalan umat.
Rahasia ketiga: dosen KPI harus menjadi dai.
Ini mungkin yang paling penting.
Dosen KPI boleh sangat hebat dalam teori komunikasi, tetapi jika ia kehilangan ruh dakwah, ilmu komunikasi dapat berubah menjadi sekadar keterampilan teknis. KPI bukan hanya tentang bagaimana membuat pesan menarik. KPI juga berbicara tentang untuk apa pesan itu dibuat dan ke mana manusia diarahkan oleh pesan tersebut.
Dosen KPI harus menjadi teladan komunikasi Islam.
Cara berbicara kepada mahasiswa adalah dakwah. Cara menjawab pertanyaan adalah dakwah. Cara berbeda pendapat adalah dakwah. Cara menggunakan media sosial adalah dakwah. Bahkan cara memperlakukan mahasiswa yang sedang mengalami kesulitan adalah dakwah.
Penelitian tahun 2026 terhadap delapan dosen KPI di perguruan tinggi keagamaan Islam Indonesia menemukan bahwa dosen memiliki peran strategis dalam menanamkan etika komunikasi Islam kepada mahasiswa: menjadi teladan komunikasi digital, membimbing verifikasi informasi, memberikan umpan balik terhadap konten, mengarahkan praktik dakwah digital yang etis, dan membentuk tanggung jawab sosial mahasiswa. (Jurnal 3)
Artinya, dosen KPI bukan hanya pengajar ilmu komunikasi Islam. Ia sendiri harus menjadi komunikator Islam.
Mahasiswa akan lebih mudah belajar dari dosen yang menghidupkan nilai yang diajarkannya.
Rahasia keempat: satukan tiga dunia—kelas, karya, dan dakwah.
Inilah formula yang sangat kuat.
Apa yang terjadi di lapangan dibawa ke kelas. Apa yang ditemukan di kelas dijadikan penelitian. Apa yang ditemukan melalui penelitian diterjemahkan menjadi konten dakwah. Konten tersebut diuji di masyarakat. Respons masyarakat kembali menjadi bahan evaluasi dan penelitian.
Terjadilah sebuah siklus:
praktik → akademik → dakwah → evaluasi → praktik kembali.
Dosen tidak lagi terjebak dalam menara gading akademik. Ia hadir di tengah masyarakat, tetapi tetap berpikir ilmiah. Ia aktif di media, tetapi tetap menjaga etika. Ia berdakwah, tetapi tetap terbuka terhadap penelitian dan kritik akademik.
Penelitian tentang dakwah digital menunjukkan bahwa media sosial dapat memperluas jangkauan dakwah, meningkatkan interaksi, dan membantu pendidikan serta literasi keislaman. Namun, ruang digital juga menghadirkan tantangan seperti misinformasi, komersialisasi pesan agama, bias algoritma, dan persoalan otoritas keagamaan.
Dosen KPI harus berada tepat di tengah persoalan tersebut.
Rahasia kelima: jangan hanya mencetak mahasiswa, tetapi bangun kader komunikator Islam.
Inilah puncak dari semuanya.
Dosen KPI harus memiliki visi lebih besar daripada sekadar menyelesaikan RPS, memenuhi pertemuan kuliah, atau mengejar administrasi akademik. Semua itu memang penting. Tetapi tujuan akhirnya harus lebih besar: melahirkan generasi yang mampu berkomunikasi dengan umat dan membawa Islam dengan hikmah.
Bayangkan jika setiap dosen KPI memiliki kanal dakwah. Ia menulis setiap pekan. Membuat video. Menghasilkan penelitian. Mengajak mahasiswa terlibat dalam produksi. Membimbing mahasiswa membangun personal branding. Mengarahkan mereka melakukan jurnalistik lapangan. Membentuk tim media kampus. Menghasilkan buku. Mengembangkan podcast. Mengadakan pelatihan komunikasi masyarakat.
Maka kampus tidak hanya menjadi tempat kuliah.
Kampus menjadi laboratorium dakwah dan komunikasi Islam.
Mahasiswa tidak hanya menjadi penonton.
Mereka menjadi praktisi sejak masih duduk di bangku kuliah.
Dan dosen tidak hanya menjadi pengajar.
Ia menjadi mentor, peneliti, praktisi, sekaligus dai.
Inilah yang dibutuhkan zaman.
Dunia sedang mengalami ledakan informasi. Kecerdasan buatan mengubah produksi pesan. Algoritma menentukan apa yang dilihat manusia. Media sosial mengubah cara otoritas keagamaan dibangun. Sebuah pesan agama dapat menjangkau jutaan manusia dalam hitungan jam, tetapi sebuah kesalahan juga dapat menyebar dengan kecepatan yang sama.
Dalam situasi seperti ini, umat membutuhkan dosen KPI yang melek teknologi tetapi tidak kehilangan nilai, menguasai teori tetapi tidak gagap praktik, aktif berdakwah tetapi tidak meninggalkan tradisi ilmiah.
Dosen seperti inilah yang akan melahirkan mahasiswa yang percaya diri.
Mahasiswa akan melihat bahwa ilmu komunikasi Islam bukan sekadar mata kuliah.
Ia adalah jalan pengabdian.
Maka sudah saatnya dosen KPI berkata kepada dirinya sendiri: Saya bukan hanya mengajar komunikasi. Saya sedang mempersiapkan orang-orang yang kelak berbicara kepada umat.
Saya bukan hanya mengajarkan jurnalistik. Saya sedang mempersiapkan orang-orang yang akan menentukan berita apa yang sampai kepada masyarakat.
Saya bukan hanya mengajarkan media. Saya sedang mempersiapkan generasi yang akan mengisi ruang digital umat.
Saya bukan hanya mengajarkan dakwah. Saya sedang mempersiapkan generasi yang akan meneruskan risalah kebaikan.
Pada akhirnya, dosen KPI yang ideal bukanlah orang yang hanya berdiri di depan kelas. Ia harus hadir di tiga medan: di ruang akademik dengan ilmunya, di ruang publik dengan praktiknya, dan di tengah umat dengan dakwahnya.
Akademisi tanpa praktik bisa kehilangan realitas. Praktisi tanpa akademisi bisa kehilangan kedalaman. Dai tanpa kemampuan komunikasi bisa kehilangan jangkauan. Tetapi ketika ketiganya bersatu, lahirlah sosok yang luar biasa: dosen KPI yang mampu mengubah ilmu menjadi karya, karya menjadi pengaruh, dan pengaruh menjadi kebermanfaatan bagi umat.
Itulah tiga peran super yang sangat diperlukan zaman.
Dan mungkin, inilah saatnya kita berhenti bertanya, “Apa yang bisa saya ajarkan kepada mahasiswa?”
Lalu menggantinya dengan pertanyaan yang jauh lebih besar:
“Generasi seperti apa yang akan lahir dari tangan saya?”
Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang dosen bukan hanya ketika mahasiswa lulus dengan ijazah.
Keberhasilan terbesar seorang dosen adalah ketika murid-muridnya menjadi manusia yang ilmunya hidup, komunikasinya menginspirasi, karyanya bermanfaat, dan dakwahnya terus mengalir bahkan setelah sang dosen tidak lagi berada di ruang kelas.
Bismillah. Jadilah dosen KPI yang mengajar dengan ilmu, berkarya dengan kompetensi, meneliti dengan ketajaman akademik, dan berdakwah dengan keteladanan. Sebab umat tidak hanya membutuhkan dosen yang pintar. Umat membutuhkan dosen yang hidup ilmunya.[BA]

Posting Komentar untuk "Dosen KPI Harus Menjadi Praktisi, Akademisi, dan Dai"