Sadar atau Tidak, Toxic Positivity Membungkum Emosi Gen-Z

Foto: AI
PELITA MAJALENGKA - Pernahkah kamu berada di titik paling lelah—ketika tugas kuliah menumpuk, tekanan hidup terasa mencekik, dan masa depan tampak abu-abu—lalu memutuskan untuk meluapkan sedikit keluh kesah di media sosial?

Namun, alih-alih mendapat telinga yang mendengar, kolom komentar justru dibanjiri kalimat-kalimat seperti: “Kurang bersyukur tuh,” “Jangan overthinking, positif vibes aja!” atau “Masih banyak orang yang lebih susah dari kamu.”

Niatnya mungkin menyemangati. Tapi bagi Generasi Z yang hidup di era digital tanpa jeda, racun berbalut senyuman manis ini justru menjelma menjadi algojo tak kasat mata yang membungkam ekspresi emosi asli.

Fenomena yang dikenal sebagai toxic positivity ini telah mengubah media sosial menjadi panggung sandiwara, di mana kesedihan dianggap sebagai sebuah dosa dan air mata adalah bentuk kelemahan.

Ketika Kebahagiaan Dipaksakan Menjadi Penjara

Generasi Z atau dikenal dengan nama Gen Z (baca: genzi) tumbuh di tengah arus informasi yang masif. Berdasarkan laporan We Are Social, penetrasi internet di Indonesia menyentuh angka lebih dari 66% dari total populasi, dengan Gen Z sebagai kontributor utama interaksi digital.

Sayangnya, dunia maya yang mereka huni sering kali mendikotomikan hidup secara ekstrem: sukses atau gagal, bahagia atau hancur.

Toxic positivity terjadi ketika keyakinan bahwa manusia harus selalu optimis dipaksakan dalam segala situasi, bahkan saat seseorang sedang mengalami krisis emosional yang berat.

Sebuah studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Unit Konsultasi Psikologi (2026) menegaskan bahwa ciri utama dari fenomena ini adalah penyangkalan emosi—memaksa diri atau orang lain untuk berkata “aku tidak apa-apa” padahal tubuh dan pikiran sedang menjerit sebaliknya.

Di kalangan Gen Z, bentuk toxic positivity kerap muncul dalam tiga topeng utama antara lain sebagai berikut.

Pertama, Invalidasi Perasaan: Menganggap remeh kesedihan orang lain dengan dalih “cuma baper” atau “terlalu sensitif”.

Kedua, Komparasi Penderitaan: Membanding-bandingkan masalah (“Nasibmu belum ada apa-apanya dibanding anak di luar sana”).

Ketiga, Diktat Positif Instan: Meneror linimasa dengan kutipan-kutipan motivasi toksik seperti “good vibes only” yang menolak eksistensi amarah, duka, dan lelah.

Padahal, emosi negatif bukanlah musuh. Psikolog klinis Tara Cousineau, penulis The Kindness Cure, mengibaratkan emosi negatif seperti alarm kebakaran. Ketika alarm itu berbunyi, tugas kita bukan memadamkan suaranya atau pura-pura tidak dengar, melainkan mencari di mana letak api yang harus dipadamkan. Ketika alarm itu dibungkam secara paksa oleh toxic positivity, yang terjadi justru ledakan internal yang membahayakan jiwa.

Dampak Nyata: Saat Gen-Z Kehilangan Hak untuk Rapuh

Berdasarkan riset-riset psikologi kontemporer, menekan emosi negatif demi terlihat kuat di media sosial membawa dampak yang jauh lebih berbahaya daripada kesedihan itu sendiri.

Pertama, risiko gangguan mental jangka panjang. Studi dari University of Melbourne menunjukkan bahwa individu yang terbiasa menekan emosi alih-alih merasakannya memiliki kerentanan jauh lebih tinggi terhadap kecemasan kronis (anxiety) dan depresi.

Kedua, gejala psikosomatik. Beban mental akibat memendam amarah dan air mata sering kali bermanifestasi ke tubuh fisik—mulai dari migrain, kelelahan kronis (burnout), gangguan tidur, hingga penurunan nafsu makan. Tubuh Gen Z ikut menanggung beban dari kepalsuan digital yang mereka bangun.

Ketiga, alienasi diri. Ketika seorang anak muda dilarang merasa sedih, ia akan belajar untuk mengenakan "topeng bahagia" setiap kali berinteraksi. Akibatnya, mereka kehilangan koneksi dengan diri sendiri. Mereka tidak lagi mengenali siapa diri mereka yang sebenarnya di balik layar gawai.

Menemukan Kembali Ruang Bernapas: Solusi Praktis untuk Gen-Z

Lantas, bagaimana cara Gen Z bertahan di tengah gempuran dunia yang menuntut mereka untuk selalu happy? Perubahan tidak harus dimulai dari revolusi besar, melainkan dari langkah-langkah kecil yang sangat bisa dipraktikkan sehari-hari, seperti berikut ini.

Pertama, Terapkan Validasi Emosi (Mulai dari Diri Sendiri): Saat kamu merasa sedih, akui itu. Katakan pada diri sendiri, "Aku sedang lelah, dan itu wajar. Aku tidak harus kuat hari ini." Menerima emosi adalah gerbang utama menuju pemulihan.

Kedua, Gunakan Metode The Feelings Wheel: Ketika merasa kacau, jangan hanya bilang “aku stres”. Gunakan roda emosi (feelings wheel) untuk mengidentifikasi apakah yang kamu rasakan itu kecewa, cemas, atau kewalahan. Semakin spesifik kamu mengenali emosi, semakin mudah emosi itu dikendalikan.

Ketiga, Kurasi Linimasa Media Sosial (Digital Detox): Unfollow atau mute akun-akun yang membuatmu merasa tidak pernah cukup baik. Penuhi feed media sosialmu dengan ruang-ruang yang menormalisasi kesehatan mental dan percakapan yang jujur.

Keempat, Ubah Respon Sosial: Jika ada teman yang sedang bercerita tentang kesulitannya, latih diri kita untuk berhenti memberikan nasihat klise atau membandingkan nasib. Cukup katakan: “Aku di sini mendengarkanmu. Mau cerita semuanya, atau butuh dipeluk dulu?”

Menjadi Manusia Seutuhnya

Menjadi bagian dari Gen Z di era modern ini memang berat. Tuntutan zaman bergerak cepat, sementara pundak terasa kian penat. Ingatlah bahwa kamu diciptakan sebagai manusia berdarah dan bernyawa, bukan robot artificial intelligence yang diprogram untuk selalu tersenyum di segala musim.

Sudah saatnya kita mematikan topeng kepalsuan itu. Menangis saat terluka, lelah saat berjuang, dan berkata "Aku sedang tidak baik-baik saja" bukanlah tanda kelemahan—melainkan bukti paling otentik bahwa kamu adalah manusia yang berani hidup secara utuh.

Bagaimana caramu selama ini merespons hari-hari beratmu di tengah tekanan media sosial? Apakah kamu sudah memberi dirimu sendiri izin untuk merasa lelah?[BA]

 

Posting Komentar untuk " Sadar atau Tidak, Toxic Positivity Membungkum Emosi Gen-Z"