Alumni Shuffah Pertama yang Sunyi di Rabdzah: Jejak Sang Pembela Fakir Miskin, Abu Dzar al-Ghifari

Foto: AI
PELITA MAJALENGKA - Di pinggir Padang Rabdzah yang gersang dan membakar, angin gurun meniupkan debu-debu pasir tanpa ampun. Tak ada riak air, tak ada naungan pepohonan, apalagi hiruk-pikuk kota. Di tengah hamparan tandus itu, berdiri sebuah kemah ringkih.

Di dalamnya, seorang lelaki tua bertubuh tinggi, bersuara tegas yang kini serak melemah, berbaring menanti jemputan ajal. Lelaki itu adalah Jundub bin Junadah, atau yang lebih dikenal di panggung sejarah dengan kunyah-nya: Abu Dzar al-Ghifari.

Ia bukan sekadar sahabat Nabi, melainkan salah satu tokoh intelektual-spiritual awal Islam yang menempuh pendidikan langsung di “kampus” teras Masjid Nabawi: Al-Shuffah. Kisah hidupnya adalah salah satu fragmen paling memilukan, menyayat hati, sekaligus mencerahkan dalam lembaran sejarah peradaban Islam.

Dari Pembegal Menuju Pintu Keheningan Suffah

Sebelum hidayah menyapa hatinya, Abu Dzar berasal dari Suku Ghifar—sebuah kabilah Badui yang ditakuti karena penguasaannya atas jalur perdagangan Mekkah–Syam melalui aksi perampokan. Namun, berbeda dari kaumnya, nurani Abu Dzar bergejolak.

Ibnu Sa’ad dalam karya monumental primer Ath-Thabaqat al-Kubra (Vol. 4, hlm. 161) mencatat bahwa jauh sebelum syiar Islam menggema secara terbuka, Abu Dzar telah meninggalkan penyembahan berhala dan beribadah kepada Tuhan yang Maha Esa.

Ketika kabar kenabian Muhammad sampai ke telinganya, Abu Dzar tidak mengutus wakilnya untuk waktu yang lama; ia langsung mendatangi Mekkah secara sembunyi-sembunyi.

Begitu mengikrarkan dua kalimat syahadat, keberanian asali dalam dirinya membuncah. Tanpa ragu, ia meneriakkan keIslamannya tepat di hadapan Ka’bah, hingga babak belur dipukuli kaum Quraisy.

Setelah hijrah ke Madinah, Abu Dzar tidak mengejar kepemimpinan politik atau konsesi dagang. Ia memilih tinggal di Al-Shuffah—serambi Masjid Nabawi yang dijadikan tempat tinggal dan pusat penggemblengan bagi para sahabat miskin, pendatang, dan pencari ilmu (Ashab al-Shuffah).

Di lembaga pendidikan asrama pertama dalam Islam inilah Abu Dzar mengasah kejernihan spiritual, menyerap sabda-sabda Nabi, serta membentuk pola hidup zuhud dan kritis yang kelak menjadi ciri khas hidupnya.

Nubuat Kesendirian di Perang Tabuk

Karakter kompromistis tak pernah ada dalam kamus hidup alumni Shuffah ini. Keteguhannya terlihat benderang saat Perang Tabuk (9 Hijriah). Dalam perjalanan menuju perbatasan Syam di bawah terik matahari yang membakar, keledai penunggang Abu Dzar melemah dan tertinggal jauh di belakang rombongan pasukan.

Tanpa pusing berpikir panjang, Abu Dzar turun, memikul sendiri seluruh barang bawaannya, lalu berjalan kaki menembus gurun sahara demi menyusul Rasulullah SAW.

Melihat sesosok manusia berjalan sendirian dari kejauhan di tengah fatamorgana gurun, Rasulullah SAW tersenyum haru seraya bersabda dengan nada yang getir sekaligus puitis, "Semoga Allah memberi rahmat kepada Abu Dzar. Dia berjalan sendirian, dia akan mati sendirian, dan dia akan dibangkitkan kelak dalam kesendirian." (HR. Ibnu Majah; dinukil pula dalam Siyar A’lam an-Nubala oleh Imam adz-Dzahabi).

Nubuat Rasulullah SAW tersebut bukan sekadar pujian, melainkan takdir memilukan yang membayangi akhir hayat sang alumni Shuffah.

Integritas Tanpa Kompromi dan Suara Bagi Yang Tertindas

Kejujuran lisan Abu Dzar adalah legendaris. Dalam riwayat sahih yang dirilis oleh Imam at-Tirmidzi (No. 3801), Rasulullah SAW memberikan kesaksian mutlak atas integritasnya, "Tidak ada orang yang dinaungi oleh langit hijau dan dipijak oleh bumi abu-abu yang lebih jujur ucapannya daripada Abu Dzar."

Pasca-wafatnya Rasulullah SAW dan dua Khalifah Pertama, peradaban Islam mengalami limpahan materi yang belum pernah terjadi sebelumnya melalui ekspansi wilayah. Kekayaan mengalir deras ke pusat kota.

Namun, Abu Dzar memandang fenomena ini dengan mata keprihatinan yang mendalam. Ia melihat jurang pemisah antara kaya dan miskin mulai menganga, serta gaya hidup mewah mulai merayapi jajaran pejabat publik.

Merujuk pada firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 34–35 tentang ancaman bagi mereka yang menimbun emas dan perak tanpa menginfakkannya di jalan Allah, Abu Dzar gencar menyampaikan otokritik mendalam.

Baginya, surplus kekayaan tidak boleh diendapkan dalam peti simpanan, melainkan wajib didistribusikan untuk mengentaskan kemiskinan dan membiayai kebutuhan umum.

Prinsip radikal terkait keadilan sosial ini memicu dinamika politik yang tajam. Imam Muslim dalam Sahih-nya merekam bagaimana Rasulullah SAW sejak awal telah memahami watak murni namun terlampau polos dari sahabatnya ini.

Nabi pernah berpesan: "Wahai Abu Dzar, aku melihat engkau ini lemah, dan aku menyukai untukmu apa yang kusukai untuk diriku. Janganlah engkau menjadi pimpinan atas dua orang, dan janganlah engkau mengurus harta anak yatim." (HR. Muslim No. 1826).

Ketidakcocokan Abu Dzar dengan realitas politik praksis dan kompromi kekuasaan membuat kehadirannya di pusat pemerintahan memicu perdebatan panas. Akhirnya, untuk menjaga stabilitas sosial dan menghindari benturan faksi yang lebih luas, Abu Dzar memilih menyendiri dan mengasingkan diri ke wilayah Rabdzah—sebuah dusun terpencil di luar Madinah.

Tragedi Kemanusiaan di Rabdzah

Di Rabdzah, nubuat kenabian menemukan momentum penggenapannya. Kehidupan di pembuangan sunyi itu amat mengiris hati. Tanpa harta, tanpa perlindungan sosial, Abu Dzar hidup dalam kemiskinan yang ekstrem bersama istri dan anak perempuannya.

Detik-detik kepulangannya ke hadirat Ilahi pada tahun 32 Hijriah (atau 33 H menurut sebagian riwayat primer) terekam dalam Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa'ad dan Al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibnu Katsir sebagai salah satu adegan paling tragis dalam sejarah sahabat.

Ketika sakaratulmaut mulai mendekat, sang istri menangis tersedu-sedu di samping tubuh Abu Dzar yang kian melemah."Mengapa engkau menangis, wahai istriku?" tanya Abu Dzar lirih.

Dengan air mata menetes, istrinya menjawab, "Bagaimana aku tidak menangis? Engkau sedang sekarat di tempat terasing ini, dan kita bahkan tidak memiliki kain selembar pun yang cukup untuk dijadikan kafanmu, serta tidak ada orang yang bisa membantu menguburkanmu!"

Abu Dzar tersenyum tenang di tengah penderitaannya. Ia teringat janji gurunya di Shuffah puluhan tahun silam. Ia berbisik, "Jangan menangis. Ingatlah, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda di hadapan sekumpulan sahabat: 'Pasti ada salah seorang di antara kalian yang akan meninggal di padang tandus, dan kematiannya bakal disaksikan oleh rombongan kaum mukminin.' Semua sahabat yang ada bersama beliau waktu itu telah meninggal di kota atau permukiman. Hanya aku yang tersisa dan kini berada di gurun sahara. Demi Allah, aku tidak berdusta dan tidak didustakan."

Abu Dzar lalu meminta istrinya memperhatikan jalan setapak gurun di kejauhan. Tak lama setelah nafas terakhir alumni Shuffah ini berhembus, dari kejauhan tampak gumpalan debu. Sebuah kafilah kecil dari Irak sedang melintas menuju Mekkah. Di antara rombongan itu, ada sahabat terkemuka lainnya: Abdullah bin Mas’ud.

Ketika melihat jenazah terujur di tepi jalan hanya ditutupi sehelai kain kumal, Ibnu Mas’ud mendekat. Saat kain penutup wajah dibuka, runtuhlah pertahanan batin sang ulama Kufah tersebut. Ibnu Mas’ud menangis terisak-isak seraya memeluk jenazah sahabatnya dan berkata: "Benarlah sabda Rasulullah SAW: Engkau berjalan sendirian, mati sendirian, dan dibangkitkan sendirian!"

Mencerdaskan Nurani Peradaban

Kisah Abu Dzar al-Ghifari bukan sekadar narasi duka dan ratapan. Ia memberikan pelajaran intelektual dan moral yang amat mencerahkan bagi peradaban modern.

Pertama, pendidikan Shuffah tidak mencetak manusia dogma, melainkan kesadaran moral mendalam. Abu Dzar mengajarkan bahwa keimanan wajib memanifestasikan dirinya dalam bentuk pembelaan terhadap keadilan sosial dan penderitaan fakir miskin.

Kedua, integritas tidak bisa ditawar oleh godaan kemewahan materi. Di saat dunia membentang luas di hadapan umat Islam masa itu, Abu Dzar memilih untuk tetap mempertahankan pola hidup zuhud sebagaimana saat ia berada di serambi Masjid Nabawi. Ia membuktikan bahwa kejujuran intelektual terkadang menuntut harga yang sangat mahal: kesendirian, pengasingan, dan kesunyian.

Abu Dzar wafat di Rabdzah, dalam kesendirian fisik yang amat memilukan. Namun, kejujuran lisan dan api nurani yang dinyalakannya dari teras Shuffah tak pernah padam—terus menerangi jalan bagi siapa saja yang merindukan keadilan dan kebenaran sejati.[BA]

  

Posting Komentar untuk "Alumni Shuffah Pertama yang Sunyi di Rabdzah: Jejak Sang Pembela Fakir Miskin, Abu Dzar al-Ghifari"