PELITA MAJALENGKA - Di balik prestasi seorang santriwati, sering kali ada perjuangan orang tua yang tidak pernah terlihat di atas panggung. Begitu pula dengan Daifina Azkia Zahra, santriwati Ma’had Nurul Bayan Litahfidzil Qur’an yang beralamat di Blok Cintabakti RT 003 RW 004, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Gadis kelahiran Majalengka, 12 April 2010, ini telah menjalani kehidupan pesantren selama kurang lebih delapan tahun dan kini duduk di kelas 2 SMA. Di balik perjalanan panjangnya menjadi penghafal Al-Qur’an, ada keputusan besar kedua orang tuanya yang diambil sejak Daifina masih kecil, yakni memasukkannya ke ma’had tahfidz sejak kelas 3 MI.
Keputusan itu bukan perkara
sederhana. Saat teman-teman seusianya masih asyik bermain, menikmati masa
kanak-kanak, dan sebagian mulai akrab dengan berbagai hiburan digital, Daifina
justru mulai belajar serius bersama Al-Qur’an. Di saat sebagian anak
seusianya mungkin lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain, Daifina mulai
ditempa untuk mencintai Al-Qur’an sejak usia dini. Bagi kedua orang
tuanya, memasukkan anak sedini mungkin ke lingkungan tahfidz bukan berarti
merampas masa bermain anak, tetapi justru memberikan lingkungan yang diharapkan
mampu membentuk kebiasaan baik sejak dini.
Pilihan tersebut menunjukkan
betapa seriusnya kedua orang tua Daifina dalam mempersiapkan masa depannya.
Mereka tentu memahami bahwa anak seusia MI masih sangat membutuhkan kasih
sayang, perhatian, dan kedekatan dengan keluarga. Namun, mereka juga melihat
bahwa zaman terus berubah dan tantangan pendidikan anak semakin besar, terutama
dengan hadirnya gadget dan berbagai hiburan digital yang begitu mudah diakses. Bagi
kedua orang tuanya, memasukkan Daifina ke ma’had tahfidz sejak kelas 3 MI
adalah ikhtiar untuk menjaga masa kecilnya agar tidak habis di depan layar,
tetapi tumbuh bersama Al-Qur’an, ilmu, adab, dan lingkungan yang baik.
Tentu keputusan itu tidak selalu
mudah secara perasaan. Ada rasa sedih ketika harus melihat anak yang masih
kecil mulai belajar hidup jauh dari kenyamanan rumah, ada rasa rindu ketika
tidak setiap hari bisa melihat wajahnya, dan ada kekhawatiran yang mungkin
sesekali muncul di hati. Tetapi orang tua Daifina memilih untuk mempercayakan
pendidikan anaknya kepada lingkungan yang mereka yakini baik. Kadang-kadang,
cinta orang tua bukan hanya tentang memberikan apa yang membuat anak nyaman
hari ini, tetapi juga berani memilihkan jalan yang diyakini akan menyelamatkan
dan menguatkan masa depannya.
Apalagi bagi orang tua yang
memiliki kesibukan, menghadirkan lingkungan pendidikan yang baik sejak dini
merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang sangat berarti. Anak membutuhkan
lingkungan yang membentuk kebiasaan, bukan hanya nasihat yang diberikan
sesekali. Ia membutuhkan guru yang membimbing, teman yang mengingatkan, serta suasana
yang membuat kebaikan terasa menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak
tidak hanya membutuhkan waktu untuk bermain; ia juga membutuhkan lingkungan
yang mengajarinya bagaimana menggunakan hidup dengan baik.
Delapan tahun kemudian, keputusan
tersebut mulai memperlihatkan buahnya. Daifina tumbuh menjadi santriwati yang
tidak hanya tekun menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki mimpi besar untuk
menjadi dosen, penulis, sekaligus hafidzah 30 juz yang mutqin. Ia memiliki hobi
menulis, membaca, dan memasak. Baginya, menjadi penghafal Al-Qur’an bukan
sekadar tentang seberapa banyak ayat yang mampu diingat, tetapi bagaimana
hafalan tersebut terus dijaga dan menjadi bagian dari kehidupan.
Perjalanan Daifina dalam dunia
Musabaqah Hifzhil Qur’an atau MHQ juga cukup panjang. Ia pernah meraih juara 2
MHQ kategori 1 juz tingkat kecamatan pada 2020, kemudian juara 3 kategori 1 juz
tingkat kecamatan pada 2021. Prestasinya terus berkembang hingga pada 2025 ia
berhasil meraih juara 2 MHQ kategori 20 juz tingkat Kabupaten Majalengka.
Prestasi di 2025 inilah yang
paling berkesan baginya karena diraih setelah melalui proses panjang menjaga
hafalan yang semakin banyak.
Lomba yang berlangsung di
Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka saat itu, tidak ia lihat sekadar sebagai ajang mendapatkan
piala. Ketertarikannya mengikuti MHQ justru karena perlombaan menjadi sarana
untuk menguji sekaligus semakin memutqinkan hafalan. Bagi Daifina,
piala bukanlah tujuan utama; yang jauh lebih penting adalah bertambah kuatnya
hubungan dengan Al-Qur’an dan semakin kokohnya hafalan yang telah
diperjuangkan.
Menjelang perlombaan, Daifina
harus kembali berhadapan dengan rutinitas yang sangat akrab bagi seorang
penghafal Al-Qur’an: murojaah. Seluruh hafalan yang telah dimiliki diulang
kembali, kemudian ia menyetorkannya kepada teman untuk mengetahui bagian-bagian
yang masih perlu diperbaiki. Tantangan terbesar muncul ketika ada hafalan yang
sudah lama jarang dimurojaah sehingga terasa lebih sulit untuk dikembalikan.
Dari sinilah ia semakin memahami bahwa menghafal Al-Qur’an bukan pekerjaan yang
selesai setelah hafal, tetapi membutuhkan kesetiaan untuk terus menjaganya.
Menghafal Al-Qur’an
bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat menambah hafalan, melainkan
perjalanan panjang untuk menjaga apa yang sudah dititipkan Allah. Karena itu, Daifina berusaha mengatur
waktunya sebaik mungkin. Waktu luang ia manfaatkan untuk murojaah dan belajar,
sementara hal-hal yang tidak bermanfaat berusaha ia tinggalkan. Ia belajar
menentukan prioritas dan tidak membiarkan waktunya habis untuk sesuatu yang
laghaw.
Bagi Daifina, waktu adalah
amanah. Ia memahami bahwa masa muda tidak akan kembali dan kesempatan yang
terlewat tidak bisa dibeli dengan apa pun. Karena itu, ia berusaha untuk tidak
“mendzalimi waktu” dengan menyia-nyiakannya. Sebab waktu yang hari ini
dianggap sepele, suatu saat bisa menjadi bagian yang paling kita sesali ketika
menyadari betapa banyak kesempatan yang telah berlalu.
Delapan tahun hidup di pesantren
juga mengajarkannya banyak hal yang tidak selalu bisa diperoleh hanya dari buku
pelajaran. Ia belajar hidup mandiri, disiplin, menjaga adab, memahami arti
kebersamaan, serta berteman dengan santri dari berbagai daerah. Dari perbedaan
itu ia belajar bertukar pengalaman, memahami karakter orang lain, dan saling
menguatkan dalam kebaikan. Yang paling penting, lingkungan pesantren membuatnya
merasa semakin dekat kepada Allah SWT, memperbanyak amal saleh, dan memiliki
teman-teman yang saling mengingatkan untuk terus memperbaiki diri.
Ada satu pelajaran besar yang
sangat melekat dalam perjalanan menuntut ilmu Daifina. Ia meyakini bahwa tidak
ada batasan umur untuk belajar karena selama Allah masih memberikan kesempatan
hidup, manusia harus terus menuntut ilmu sampai akhir hayat. Ilmu yang
diperoleh bukan sekadar untuk mendapatkan nilai, gelar, atau penghargaan,
tetapi merupakan amanah yang harus diamalkan. Ilmu yang tidak diamalkan
bukan sekadar kehilangan manfaat, tetapi juga akan menjadi pertanggungjawaban
di hadapan Allah kelak.
Ia juga selalu mengingat pesan
salah seorang gurunya yang sangat sederhana, tetapi dalam maknanya: “Bukan
di mana kita belajar, tapi bagaimana kita belajar.” Kalimat itu
mengajarkan bahwa tempat pendidikan memang penting, tetapi kesungguhan
seseorang dalam belajar jauh lebih menentukan. Lingkungan yang baik harus
diiringi kemauan untuk berubah, karena guru dapat membimbing, tetapi seorang
santri tetap harus memilih untuk bersungguh-sungguh.
Dalam perjalanan tersebut,
Daifina menyadari bahwa dirinya tidak pernah berjalan sendirian. Ada kedua
orang tua yang sejak awal berani mengambil keputusan besar demi masa depannya,
ada para asatidz dan asatidzah yang membimbing, serta teman-teman seperjuangan
yang terus memberikan dukungan. Ia mengatakan beberapa asatidz/asatidzah Nurul
Bayan sebagai sosok-sosok yang sangat menginspirasinya. Di balik
seorang anak yang mampu berdiri sebagai juara, hampir selalu ada orang-orang
yang diam-diam mendoakan, membimbing, menguatkan, bahkan berkorban tanpa
meminta balasan.
Namun, ada satu bagian dari
perjuangan Daifina yang tidak banyak diketahui orang. Di balik prestasi yang
terlihat, ada sepertiga malam yang ia gunakan untuk bangun, berdoa, bermunajat,
memperbanyak dzikir, memperbanyak sujud, dan memohon kemudahan kepada Allah
SWT. Ia belajar untuk selalu berhusnuzan kepada Allah dan menjadikan-Nya
sebagai satu-satunya tempat bergantung. Piala mungkin diberikan oleh
manusia, tetapi kekuatan untuk berjuang, kemudahan untuk menghafal, dan hasil
akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah.
Cita-cita Daifina pun tidak
berhenti pada pekerjaan atau gelar. Ia ingin menjadi dosen, penulis, dan
hafidzah 30 juz yang mutqin. Lebih dari itu, ia ingin menjadi sebaik-baik
manusia yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, menjadi pribadi yang
bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Ia ingin terus
mengembangkan prestasi sekaligus mengharumkan nama pesantren yang telah menjadi
bagian penting dalam hidupnya.
Untuk kedua orang tuanya, Daifina
memiliki cita-cita yang sangat menyentuh. Ia ingin menjadi anak yang berbakti,
membahagiakan keduanya di dunia dan akhirat, serta suatu hari dapat
mengumrohkan kedua orang tuanya. Keinginan itu menjadi salah satu bentuk rasa
terima kasih atas seluruh perjuangan mereka dalam mengurus, mendidik, dan
membiayainya selama menuntut ilmu. Jika suatu hari nanti ia berhasil
menjadi seseorang, ia ingin keberhasilannya menjadi hadiah terindah untuk kedua
orang tua yang sejak awal berani mengorbankan rasa demi masa depannya.
Kepada santriwati lain yang ingin
berprestasi, Daifina menyampaikan pesan yang sederhana tetapi kuat. “Jangan
pernah berkata tidak sebelum mencoba. Soal hasil, biar Allah yang menentukan.
Setidaknya kita sudah berusaha dan bertawakal kepada Allah.” Baginya,
kegagalan bukan alasan untuk berhenti, sebab tidak ada proses besar yang lahir
secara instan. Ia percaya bahwa setiap kegagalan dapat menjadi jalan untuk
belajar, memperbaiki diri, lalu mencoba kembali dengan kekuatan yang lebih
besar.
“Bukan kegagalan yang
membuatmu takut, tapi ketakutanlah yang membuatmu gagal.” Kalimat itu seolah menjadi cermin
perjalanan Daifina sendiri. Seorang anak tidak akan pernah tahu seberapa jauh
ia mampu melangkah jika sejak awal sudah mengatakan tidak bisa. Karena itu,
beranilah mencoba, berusahalah sungguh-sungguh, iringi dengan doa, lalu
serahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Kisah Daifina akhirnya bukan
hanya kisah tentang seorang santriwati yang berhasil meraih juara MHQ. Ini
adalah kisah tentang orang tua yang berani mengambil keputusan besar ketika
anaknya masih kecil, tentang seorang anak yang belajar meninggalkan sebagian
kenyamanan demi sebuah cita-cita, tentang guru-guru yang membimbing,
teman-teman yang menguatkan, dan tentang Al-Qur’an yang perlahan membentuk arah
hidup seseorang. Apa yang ditanamkan kepada anak sejak kecil mungkin
belum langsung terlihat hasilnya, tetapi waktu akan menunjukkan bahwa
pendidikan yang baik adalah investasi yang buahnya bisa dinikmati jauh setelah
proses penanamannya dimulai.
Pada akhirnya, piala mungkin
hanya benda yang tersimpan di lemari. Sertifikat mungkin suatu hari hanya
menjadi lembaran kenangan, tetapi kebiasaan baik, ilmu, adab, hafalan
Al-Qur’an, dan doa yang ditanamkan sejak kecil akan jauh lebih lama tinggal
dalam diri seorang anak. Murojaah mengajarkannya istiqamah, pesantren
mengajarkannya mandiri, guru mengajarkannya ilmu dan adab, orang tua
mengajarkannya pengorbanan, sementara Al-Qur’an mengajarkannya ke mana
kehidupan seharusnya diarahkan. Prestasi terbesar Daifina bukan hanya
ketika namanya dipanggil sebagai juara, tetapi ketika ia terus memilih
Al-Qur’an di tengah banyaknya pilihan yang bisa membuatnya lalai.
Dan mungkin, di sinilah kisah
Daifina menjadi pelajaran penting bagi banyak orang tua. Anak yang hari ini
masih kecil, masih suka bermain, masih terlihat belum mengerti apa-apa, suatu
hari akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang menentukan arah hidupnya sendiri.
Karena itu, jangan hanya bertanya, “Anak saya nanti mau jadi apa?”
tetapi tanyakan pula, “Lingkungan seperti apa yang sedang saya siapkan agar ia
tumbuh menjadi manusia seperti apa?” Sebab masa depan anak tidak hanya
dibentuk oleh cita-cita yang kita ucapkan, tetapi juga oleh lingkungan,
kebiasaan, teladan, doa, dan keputusan-keputusan kecil yang kita ambil untuknya
hari ini.
Dari seorang anak kelas 3 MI yang
mulai belajar Al-Qur’an di Ma’had Nurul Bayan, perjalanan itu kini telah
memasuki tahun kedelapan. Jalannya masih panjang, cita-citanya masih jauh, dan
hafalan 30 juz mutqin masih menjadi perjuangan yang harus terus dijaga. Tetapi
satu hal sudah terlihat jelas: sebuah masa depan yang besar sering kali
dimulai dari satu keputusan sederhana—memilih lingkungan yang baik, berani
berkorban, bersungguh-sungguh dalam proses, dan tidak pernah berhenti
menggantungkan harapan kepada Allah SWT.[BA]

Masyaallah tabarakallah kk Daifina🥺❤❤❤
BalasHapus