Jangan Jadikan 'Riba' Gaya Hidup: Refleksi Kritis Fenomena Paylater di Kalangan Gen Z

Foto: ai gemini
PELITA MAJALENGKA - Di era digital yang serba cepat ini, jempol kita memegang kendali atas segalanya. Mau makan enak? Tinggal klik. Mau ganti gawai baru? Tinggal klik. Mau liburan akhir pekan tanpa nunggu tabungan cukup? Tinggal klik juga.

Semua terasa begitu mudah berkat hadirnya Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang lebih akrab kita sebut sebagai fitur paylater. Generasi Z, yang lahir dan tumbuh sebagai digital natives, menjadi pasar paling empuk bagi godaan instan ini.

Sayangnya, di balik kemudahan "beli sekarang, bayar nanti" yang ditawarkan, tersimpan jerat runtuhnya masa depan finansial dan spiritual anak muda.

Fenomena ini bukan sekadar soal gaya hidup, melainkan sebuah alarm darurat sosial. Mari kita merenung sejenak, menembus fatamorgana feed Instagram dan TikTok yang penuh dengan pameran estetika hidup mewah.

Ketika "Flexing" Lebih Utama Daripada Kewarasan Finansial

Sebagai generasi yang hidup di bawah tekanan validasi sosial, Gen Z sering kali terjebak dalam sindrom FOMO (Fear of Missing Out). Rasa takut ketinggalan tren membuat standar hidup bergeser drastis. 

Nongkrong di kafe aesthetic setiap akhir pekan, memakai outfit dari jenama ternama, atau memesan makanan via aplikasi delivery tiap hari, seolah menjadi tiket wajib agar diakui keberadaannya dalam pergaulan.

Masalahnya, realita dompet sering kali tidak sejalan dengan eksistensi sosial di media sosial. Di sinilah paylater masuk sebagai pahlawan kesiangan yang palsu. 

Ia datang menawarkan solusi instan untuk gengsi yang kehabisan amunisi. Padahal, kemudahan itu adalah gerbang menuju belenggu utang konsumtif.

Dalam bahasa gaul sehari-hari, anak muda sering menyebut istilah “Gaji numpang lewat, hidup pas-pasan gaya sultan”. Sungguh sebuah ironi yang menyayat hati. Kita rela berhutang demi hal-hal yang sifatnya sekadar sabi (bisa/keren) di mata orang lain, namun mengorbankan ketenangan jiwa di kemudian hari.

Saat Utang Digital Menikam Kesehatan Mental

Kritik sosial ini bukan sekadar asumsi belaka. Berbagai riset ilmiah telah memotret sisi gelap dari penggunaan paylater yang tidak terkontrol.

Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Financial Industry Regulatory Authority (FINRA) serta beberapa riset perilaku konsumen di Asia Tenggara menunjukkan adanya korelasi kuat antara penggunaan layanan kredit digital instan dengan tingkat stres, kecemasan, dan depresi pada dewasa muda. 

Ketika seseorang terbiasa berhutang untuk hal-hal konsumtif, lonjakan dopamin sesaat saat barang diterima akan segera digantikan oleh kecemasan kronis saat tanggal penagihan tiba.

Lebih lanjut, psikolog keuangan kerap mengingatkan bahwa kemudahan transaksi digital memutus rasa sakit psikologis saat mengeluarkan uang (pain of paying). 

Kalau dulu kita harus melihat lembaran uang kertas berpindah tangan—yang secara naluriah menimbulkan rasa "berat"—sekarang, dengan hanya scrolling dan memasukkan PIN, uang jutaan rupiah melayang begitu saja tanpa rasa bersalah. 

Akibatnya, banyak Gen Z yang baru sadar telah terjebak lingkaran setan (debt trap) ketika skor kredit mereka hancur dan beban bunga menumpuk di luar kemampuan bayar.

Istiqaamah dalam Sederhana

Sebagai umat yang beragama, kita tentu diingatkan untuk kembali pada akar nilai Islam yang menyejukkan. Islam tidak melarang kita untuk menikmati rezeki atau hidup layak, tetapi Islam dengan tegas melarang kita untuk mendekati riba dan sikap israf (berlebih-lebihan/pemborosan).

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 26-27, "Dan berikanlah hak kepada keluarga-keluarga yang dekat, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan..."

Dalam praktiknya, banyak layanan paylater yang mengenakan biaya admin tersembunyi, denda keterlambatan (late fee), atau bunga berbunga yang jelas-jelas menyerupai transaksi riba. Membawa diri masuk ke dalam jerat riba demi sekadar menuruti gengsi dan vibe pergaulan adalah sebuah bentuk kezaliman terhadap diri sendiri.

Anak muda hari ini perlu kembali pada prinsip zuhud modern—bukan berarti hidup kumuh di gua, melainkan hati yang tidak diperbudak oleh materi dan tren sesaat. Istilah vibes-nya, jadilah pemuda yang low profile high net worth, bukan sebaliknya: high debt low dignity (utang tinggi, harga diri tergadai).

Bangkit dari Jerat: Saatnya Rem Blong Ini Dihentikan

Teman-teman, yuk kita reset ulang cara pandang kita terhadap uang dan gaya hidup. Jangan sampai masa muda yang seharusnya penuh energi dan karya, justru habis tersita untuk memikirkan cicilan kopi kekinian atau barang-barang yang sebenarnya tidak kita butuhkan.

Beberapa langkah mindful yang bisa kita ambil mulai hari ini:

  1. Uninstal atau Batasi Akses: Jika paylater adalah ujian terbesar iman finansialmu, beranikan diri untuk menutup akun tersebut.
  2. Terapkan Prinsip Needs vs Wants: Bedakan mana kebutuhan yang hajat (pokok) dan mana yang sekadar tasyabbuh (ikut-ikutan tren).
  3. Perbanyak Syukur, Kurangi Insecure: Cantiknya hidup seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia nongkrong di tempat mahal, melainkan dari seberapa berkah rezeki yang ia kelola dan seberapa tenang ia tidur di malam hari tanpa beban utang.

Ingatlah, masa depanmu jauh lebih berharga daripada validasi sesaat di dunia maya. Mari kita bangun generasi yang cerdas secara finansial, kuat secara spiritual, dan merdeka dari jerat utang digital. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan hanya demi membayar cicilan gengsi.[BA]

 

Posting Komentar untuk " Jangan Jadikan 'Riba' Gaya Hidup: Refleksi Kritis Fenomena Paylater di Kalangan Gen Z"