Foto: AI
PELITA MAJALENGKA - Di bawah naungan langit Madinah yang membentang luas, pada masa-masa awal pembangunan peradaban Islam di bawah kepemimpinan Rasulullah SAW, terdapat sebuah ruang terbuka di bagian utara Masjid Nabawi. Tempat ini menyimpan lembaran sejarah paling mengharukan sekaligus menginspirasi bagi umat Muslim.
Tempat itu
tidak berhiaskan pilar-pilar marmer yang megah, tidak pula beratap kubah emas
yang berkilau. Ia hanyalah sebuah serambi atau emperan sederhana yang dinaungi
oleh pelepah dan batang kurma, tanpa dinding penutup yang rapat. Ruang
sederhana inilah yang di dalam literatur sejarah Islam diabadikan dengan nama Al-Shuffah,
dan para penghuninya yang mulia dikenal sebagai Ahlus Shuffah.
Mengkaji kisah
Ahlus Shuffah berarti membuka lembaran tentang potret kemanusiaan yang paling
murni. Di tempat ini, cinta kepada Allah dan Rasul-Nya diletakkan jauh di atas
segala kenyamanan materi duniawi.
Berdasarkan
catatan para sejarawan dan ahli hadis terkemuka, para penghuni serambi ini
mayoritas adalah kaum Muhajirin yang fakir. Mereka adalah orang-orang yang
terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya di Makkah, meninggalkan seluruh harta
benda, rumah, dan sanak saudara demi mempertahankan akidah. Mereka datang ke
Madinah dengan tangan hampa, tanpa tempat tinggal tetap, sehingga masjid
menjadi satu-satunya pelabuhan hidup mereka.
Selain kaum
Muhajirin fakir, tempat ini juga menjadi persinggahan bagi para musafir dan
delegasi kabilah yang datang untuk belajar agama Islam. Kehadiran mereka
menambah keberagaman penghuni serambi suci ini.
Jumlah penghuni
Al-Shuffah tidak pernah statis; ia bersifat fluktuatif, berkisar antara puluhan
hingga mencapai sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh orang dalam satu masa.
Di antara mereka terdapat nama-nama besar yang kelak menjadi pilar peradaban
Islam, seperti Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Salman al-Farisi, dan Abu
Ubaidah bin al-Jarrah.
Kehidupan
sehari-hari mereka diwarnai oleh ujian ekonomi yang sangat ekstrem. Al-Qur'an
dan kitab-kitab hadis sahih merekam bagaimana mereka sering kali dililit rasa
lapar yang luar biasa.
Sebagian
riwayat menyebutkan mereka terkadang jatuh pingsan di serambi masjid atau harus
mengikatkan batu ke perut mereka untuk menahan perihnya rasa lapar yang
mendera. Kondisi ini menunjukkan betapa beratnya perjuangan fisik yang mereka
hadapi.
Namun, di balik
balutan kefakiran materi tersebut, tersimpan sebuah martabat diri yang sangat
tinggi (izzah). Mereka menjunjung tinggi sifat iffah—yakni menjaga
kehormatan diri agar tidak menjadi beban bagi orang lain.
Mereka enggan
menjadi pengemis di jalanan, meskipun dalam kondisi kekurangan yang amat
sangat. Sifat ini menunjukkan kekuatan karakter dan iman yang luar biasa di
tengah cobaan hidup.
Allah SWT mengabadikan
potret kemuliaan mereka dalam Surah Al-Baqarah ayat 273. Ayat tersebut
menegaskan bahwa orang yang tidak tahu akan menyangka mereka adalah orang-orang
kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta, dan kita dapat mengenali
mereka dari sifat-sifat kebersahajaannya.
Solidaritas
sosial di sekitar mereka pun terjalin dengan indah; Rasulullah SAW senantiasa
mendahulukan mereka dalam setiap pembagian makanan. Sementara itu, kaum Anshar
di Madinah secara rutin menggantungkan tandan-tandan kurma masak di tiang-tiang
masjid agar dapat dinikmati oleh para penghuni Shuffah. Dari rahim
kesederhanaan inilah, sebuah ketahanan mental dan spiritual yang luar biasa
ditempa langsung di bawah asuhan Sang Nabi tercinta SAW.
Universitas Kenabian dan Relevansi Warisan Al-Shuffah
bagi Peradaban Modern
Meskipun hidup
dalam keterbatasan fisik dan ketiadaan harta benda, Al-Shuffah faktanya bukan
sekadar tempat penampungan bagi kaum duafa. Serambi ini bertransformasi menjadi
akademi spiritual dan intelektual pertama di dalam sejarah Islam.
Di tempat
inilah roda pengaderan kader-kader utama umat berputar tanpa kenal lelah.
Ketika kaum muslimin yang lain sibuk mengurus perniagaan di pasar atau
mengelola ladang pertanian demi kelangsungan hidup duniawi, Ahlus Shuffah
mendedikasikan seluruh waktu dan nafas mereka untuk mendekatkan diri kepada
Allah SWT serta menyerap ilmu langsung dari lisan Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW
memberikan perhatian khusus, curahan cinta, serta bimbingan intensif kepada
mereka. Setiap ayat Al-Qur'an yang turun langsung dihafal, dikaji, dan
didiskusikan di serambi tersebut dengan penuh ketekunan.
Dari
universitas terbuka beratap pelepah kurma inilah lahir para ulama besar yang
menjadi rujukan umat sepanjang masa. Alumni paling ikonik dari serambi ini
adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mendedikasikan
hari-harinya semata-mata untuk membersamai Nabi SAW, sehingga ia tercatat
sebagai periwayat hadis terbanyak yang menyelamatkan warisan sabda-sabda
Rasulullah untuk umat sesudahnya.
Transformasi
ini membuktikan sebuah hukum universal yang tak terbantahkan. Kefakiran materi
tidak pernah menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih derajat keilmuan
dan kemuliaan spiritual yang paling tinggi di sisi Allah SWT.
Melihat jauh ke
depan, warisan nilai yang ditinggalkan oleh Al-Shuffah memiliki relevansi yang
sangat kuat dan mendalam di tengah dinamika masyarakat modern saat ini. Di era
ketika manusia sering kali terjebak dalam perlombaan materialisme, konsumerisme,
dan ukuran kesuksesan yang semata-mata dinilai dari tumpukan kekayaan duniawi,
kisah Ahlus Shuffah hadir sebagai penyeimbang jiwa yang menenangkan.
Mereka
mengajarkan kepada kita arti qana'ah (merasa cukup dengan apa yang
diberikan Allah), ketulusan niat dalam menuntut ilmu, serta pentingnya
ketahanan mental dalam menghadapi setiap ujian hidup.
Lebih dari itu,
sejarah Al-Shuffah memberikan cetak biru yang ideal mengenai fungsi sejati
sebuah masjid di tengah masyarakat. Masjid seharusnya tidak hanya dipandang
sebagai bangunan fisik tempat pelaksanaan ritual ibadah vertikal semata
(seperti shalat lima waktu).
Masjid harus
kembali dihidupkan peran strategisnya sebagai pusat pencerdasan umat, pusat
pemberdayaan sosial, serta ruang aman yang penuh welas asih bagi siapa saja
yang membutuhkan pertolongan. Pada akhirnya, serambi suci di jantung Masjid
Nabawi ini mengajarkan kepada semesta bahwa sebuah peradaban yang besar dan
bermartabat tidak pernah dibangun di atas fondasi kemegahan material, melainkan
ditegakkan di atas kebersihan hati, kejernihan pikiran, dan cinta yang tulus
kepada ilmu serta Sang Pencipta.[BA]

Assalamualaikum ww. Sejarah tak akan pernah berubah, dia akan tetap eksis sepanjang zaman. Namun perkembangan kehidupan kemudianlah yang membiaskannya, menurunkan kualitas ahlus shuffah yang dilahirkan.
BalasHapusKini upaya menghidupkannya kembali sedang berlangsung, bersaing dengan pola baru di era supermodern. Akankah tipologi ahlus shuffah di era Rasulullah eksis mengemuka kembali atau akan terbenam kian dalam? Dan dimana posisi kita???
benar sekali sangat stuju tadz. semua tergantung bagaimana kesiapan kita
Hapus