Foto: AI
PELITA MAJALENGKA - Ada pemandangan yang belakangan ini kian akrab di linimasa media sosial kita: seseorang mengunggah kutipan ayat suci yang mendalam, lengkap dengan balutan busana bernuansa religius yang estetik, tata cahaya hangat, dan senyum penuh ketenangan.
Estetika visualnya begitu sempurna. Namun, di balik bingkai layar tersebut, tersimpan sebuah ironi yang sunyi—ketika agama tidak lagi menjadi jalan pembebasan batin atau pedoman moral, melainkan sekadar brand personal yang mendongkrak citra sosial, popularitas, dan validasi digital.
Fenomena ini
mengajak kita merenung dengan jujur: apakah kita sedang menyaksikan kebangkitan
spiritualitas, atau justru perayaan komodifikasi iman yang paling telanjang?
Estetika Tanpa Etika: Ketika Salat Menjadi Panggung
Agama, pada
hakikatnya, hadir sebagai kompas moral yang menuntun manusia menuju keluhuran
budi, kepedulian sosial, dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta. Inti
dari ajaran moral yang sejati terletak pada ketulusan (ikhlas), di mana
tangan kanan memberi tanpa perlu diketahui oleh tangan kiri.
Namun, di era
digital hari ini, logika tersebut kerap jungkir balik. Ibadah tidak lagi
berhenti pada relasi vertikal antara hamba dan Tuhannya, melainkan
bertransformasi menjadi komoditas transaksional di pasar perhatian publik.
Doa-doa diunggah bukan untuk dikabulkan, melainkan untuk disukai (liked),
dibagikan (shared), dan mendatangkan pengikut (followers).
Kondisi ini
melahirkan apa yang disebut sebagai "Estetika Tanpa Etika".
Seseorang bisa sangat fasih melafalkan dalil di muka publik demi membangun
citra sebagai figur yang alim dan terpercaya, tetapi di ruang privat atau dalam
urusan profesional, ia mengabaikan prinsip kejujuran, integritas, dan keadilan
dasar. Agama direduksi menjadi asesoris penunjang penampilan—sama seperti tas
mewah atau jam tangan bermerek yang dikenakan untuk menunjukkan kelas sosial
tertentu.
Ketika
simbol-simbol keagamaan dilepaskan dari substansi akhlaknya, yang tersisa
hanyalah cangkang kosong: indah dipandang mata, namun hampa makna.
Jebakan Algoritma dan Ilusi Kesalehan
Mengapa
fenomena ini begitu marak? Jawabannya terletak pada cara kerja dunia digital
kita hari ini. Algoritma media sosial dirancang untuk mengganjar sensasi,
polarisasi, dan pencitraan instan. Topik-topik keagamaan, ketika dikemas dengan
dramatisasi visual dan narasi moral yang menghakimi, terbukti sangat efektif
memancing atensi massa.
Tanpa disadari,
kita terjebak dalam ilusi kesalehan kolektif. Kita merasa telah menjadi manusia
yang lebih baik hanya karena rajin membagikan konten-konten Islami atau
religius setiap hari, tanpa pernah benar-benar menguji apakah konten tersebut meresap
menjadi laku lampah sehari-hari.
Bahaya terbesar
dari pergeseran ini adalah munculnya sikap munafik yang terstruktur. Ketika
agama dijadikan brand personal, standar kebaikan seseorang tidak lagi
diukur dari seberapa besar empatinya kepada kaum yang terpinggirkan, melainkan
dari seberapa rapi penampilannya dalam menjaga citra publik. Akibatnya, kritik
sosial yang konstruktif sering kali dimentahkan begitu saja dengan dalih
retorika agama, sementara substansi kebenaran dan keadilan dikorbankan demi menjaga
reputasi kelompok atau individu tertentu.
Mengembalikan Agama ke Tempat yang Semestinya
Sudah saatnya
kita menarik napas dalam-dalam dan melakukan refleksi kultural yang jujur.
Agama seharusnya tidak pernah menjadi alat pemasaran untuk meraih pujian manusia.
Agama adalah ruang suci bagi jiwa untuk menemukan ketenangan, melatih kepekaan
sosial, serta menegakkan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti kejujuran,
kasih sayang, dan pembelaan terhadap yang lemah.
Mencintai agama
bukanlah tentang seberapa sering kita memamerkan simbol-simbolnya di ruang
publik, melainkan tentang seberapa konsisten kita mewujudkan nilai-nilainya di
ruang-ruang sunyi—di saat tidak ada satu pun kamera yang menyorot, di saat
tidak ada satupun likes yang bisa dipanen.
Sudah saatnya
kita berhenti memuja bungkus dan mulai merawat isinya. Sebab, di hadapan
kebenaran yang sejati, Tuhan tidak pernah menilai seberapa estetik feed
media sosial kita, melainkan seberapa tulus hati dan seberapa nyata buah
kebaikan yang kita tebarkan bagi sesama manusia.[BA]

Posting Komentar untuk "Simbolik Tanpa Substansi: Saat Agama Bergeser Menjadi Brand Personal"