PELITA MAJALENGKA - DI ZAMAN yang penuh gemerlap ini, ada satu pergeseran yang begitu halus namun dalam: dari mencintai Al-Qur’an, menjadi mencintai penampilan. Dari sibuk memperbaiki hati, menjadi sibuk mempercantik tampilan. Dari mengejar ridha Allah, menjadi mengejar validasi manusia.
Padahal
dahulu, kemuliaan seorang wanita diukur dari kedekatannya dengan Al-Qur’an.
Lisannya basah dengan tilawah, hatinya hidup dengan tadabbur, dan amalnya
tunduk pada petunjuk Rabbnya. Ia dikenal bukan karena gaya berpakaian atau tren
yang ia ikuti, tetapi karena akhlaknya yang lembut, imannya yang kokoh, dan
rasa malunya yang menjaga dirinya dari pandangan dunia.
Rasulullah
ﷺ bersabda, "Sesungguhnya
Allah memiliki keluarga dari kalangan manusia." Para sahabat bertanya,
"Siapakah mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Mereka
adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya."
(HR. Ahmad)
Betapa
tinggi derajat Ahlul Qur’an. Mereka bukan sekadar membaca, tetapi hidup bersama
Al-Qur’an. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai standar hidup, bukan sekadar
hiasan di rak atau bacaan di bulan Ramadhan.
Namun
hari ini, yang terjadi justru sebaliknya. Banyak wanita muslimah yang lebih
gelisah ketika ketinggalan tren fashion daripada ketinggalan tilawah harian.
Lebih takut dianggap “tidak update” daripada dianggap lalai dalam ibadah. Lebih
khawatir penampilannya dinilai kurang menarik daripada hatinya yang kosong dari
dzikir kepada Allah.
Media
sosial menjadi cermin yang memantulkan standar baru: cantik adalah yang viral,
menarik adalah yang mengikuti tren, dan percaya diri adalah yang mendapatkan
banyak pujian. Tanpa sadar, hati mulai bergeser. Niat mulai berubah. Amal pun
menjadi rapuh.
Allah
telah mengingatkan dalam Al-Qur’an, "Janganlah kalian seperti
orang-orang yang melupakan Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri
mereka sendiri." (QS. Al-Hasyr: 19)
Ketika
seseorang melupakan Allah, ia akan kehilangan arah. Ia akan mencari nilai
dirinya dari luar, dari manusia, dari pujian, dari penampilan. Padahal nilai sejati
seorang wanita bukan pada apa yang terlihat oleh mata, tetapi pada apa yang
diketahui oleh Allah.
Bukan
berarti Islam melarang keindahan. Islam adalah agama yang mencintai kebersihan,
kerapihan, dan keindahan. Namun keindahan dalam Islam tidak boleh melampaui
batas, tidak boleh mengorbankan kehormatan, dan tidak boleh menggeser tujuan
hidup.
Masalahnya
bukan pada pakaian, tetapi pada hati yang terlalu terikat dengannya. Bukan pada
penampilan, tetapi pada identitas yang dibangun di atasnya. Ketika seorang
wanita lebih dikenal karena gaya hijabnya daripada akhlaknya, lebih diingat
karena penampilannya daripada ibadahnya, maka di situlah alarm harus berbunyi.
Ahlul
Qur’an tidak hidup untuk dilihat manusia, tetapi untuk dilihat oleh Allah.
Mereka tidak sibuk mempercantik diri di hadapan dunia, tetapi memperindah diri
di hadapan Rabb semesta alam.
Hasan
Al-Bashri رحمه
الله pernah
berkata, "Dunia itu hanya tiga hari: kemarin yang telah berlalu, esok
yang belum tentu datang, dan hari ini yang harus kau manfaatkan."
Lalu
untuk apa kita habiskan hari ini hanya untuk memikirkan penampilan, sementara
umur terus berkurang? Untuk apa kita sibuk memperindah luar, sementara dalam
kita kosong?
Wahai
saudariku, engkau terlalu berharga untuk sekadar menjadi pengikut tren. Engkau
diciptakan untuk menjadi hamba Allah yang mulia, bukan untuk menjadi objek
penilaian manusia. Jangan tukar kemuliaanmu sebagai Ahlul Qur’an dengan pujian
sesaat yang fana.
Kembalilah.
Kembalilah kepada Al-Qur’an sebelum hati ini benar-benar mati. Hidupkan kembali
majelis tilawah di rumahmu. Basahi lisanmu dengan ayat-ayat-Nya. Biarkan
Al-Qur’an yang membentuk cara berpikirmu, cara berpakaianmu, cara berbicaramu,
dan cara engkau memandang dunia.
Ingatlah,
kecantikan akan pudar, tren akan berlalu, dan pujian manusia akan hilang.
Tetapi amal shalih akan abadi, dan kedekatan dengan Al-Qur’an akan menjadi
cahaya di dunia dan akhirat.
Jangan
sampai kita termasuk orang-orang yang sibuk mempercantik diri untuk dunia,
tetapi lupa mempersiapkan diri untuk akhirat.
Karena
pada akhirnya, bukan penampilan yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah,
tetapi iman, amal, dan hubungan kita dengan Al-Qur’an.
Maka pilihlah: menjadi Ahlul Penampilan
yang sementara, atau Ahlul Qur’an yang mulia selamanya.[BA]
